More than Just Nation and Character Building
October 13th, 2017 at 11:07 pm
Posted by Mohammad Adib in Ethnography of Family

Tilik Putu by Mohammad Adib“Tilik” (sambang = mengunjungi) cucu-cucu di Pangkalan Susu MEDAN. Dalam kebudayaan Jawa (INDONESIA), terasa tidak tepat saat kita bertugas di suatu daerah dan tidak menyempatkan diri untuk mengunjungi keluarga (sahabat, dan atau kerabat) dekat. Akan menjadi penilaian berbentuk omongan orang yang bernada negatif dan terus menerus dihidupkan dalam kebudayaan itu. Omongan negatif itu menurut kebudayaan (orang) Jawa, “Tidak nJawani” (tidak berkebudayaan Jawa), merupakan bentuk pemertahanan nilai budaya mulia untuk terus dimantapkan di keseharian. Beruntunglah saya telah mengunjungi anak dan cucu-cucu saya di Kompleks Pertamina Field Pangkalan Susu yang berjarak 120-an km dari kota Medan tempat saya ditugaskan oleh kantor.


October 13th, 2017 at 11:15 am
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Disaster, Jatidiri and Characters

favehotel Medan Jumat 13 Oktober 2017 By Mohammad AdibOptimalkan Kewaspadaan, “ini Medan (Sumut) Bung.” “Di sini (Medan), bapak jangan mudah percaya sama orang. Saat diajak bicara sama orang lain, jangan mau. …… Nanti setelah turun di Simpang Pangkalan Susu (Pom Bensin), berhenti saja di situ. Jangan menyeberang. Tunggu PKBU “Murni” warna merah. Stop mereka saat melintas di situ. Segera naik  ke dalam angkutan itu setelah mengecek kebenaran tujuan Terminal Pangkalan Susu. Jangan mau ditawari oleh kendaraan lain. Takutnya, bapak akan dibegal.” Kata Rider yang juga security Favehotel di Jalan S. Parman Medan seusai saya check out dari penginapan ini setelah saya tinggal dua malam. Orang kelahiran Medan ini menyampaikan secara khusus kepada saya setelah memperoleh kepastian memperoleh ticket Bus Kurnia jurusan Medan-Banda Aceh, yang akan diberangkatkan pada jam 09.00. Saat menyampaikan pesan itu ia mengajak saya menepi ke areal parker dekat mobil yang besebelahan dengan ruang tunggu PO Bus Karunia. Continue Reading »


October 12th, 2017 at 6:11 am
Posted by Mohammad Adib in Touring

Kereta Api Bandara KUALANAMU-MEDAN 11 Oktober 2017 by Mohammad Adib“Mari naik Kereta Api” ujar Bapak Ir. H. Joko Widodo, Preseden RI pada layar televisi di dalam gerbong Kereta Api (KA) Bandara Kualanamu yang saya tumpangi pada 11 Oktober 2017 menuju Medan yang diberangkatkan pada jam 19.15. Mengenakan pakaian warna putih lengan panjang dengan posisi berdiri yang kedua tangannya memegang gantungan pengaman di atasnya. Dibuka pertama pada 25 Juli 2013 besamaan dengan beroperasinya Bandara Internasional Kuala Namu di Deli Serdang Sumatra Utara. Sistem yang digunakan adalah KA Bandara (airport railink). Dimiliki oleh PT KAI dan PT Railink. Jarak Tempuh 40 km, panjang rel 40 km, lebar sepur 1067 mm berkecepatan sampai 60 km/jam. Fasilitas yang disediakan dalam KA ini adalah fasilitas kenyamanan KA eksekutif berupa kereta ber-AC, reclining seat, Wi-Fi, serta audio visual. Harga tiket KA ini sekali jalan Rp. 100.000.,- KA ini menggunakan 4 set rangkaian KRD (Kereta Rel Disel) yang dibuat di pabrik Woojin, Korea Selatan. Berkapasitas 308 tempat duduk dengan lama perjalanan 30 menit menuju Bandara dan 30-47 menit saat menuju Medan (Kereta menuju bandara lebih cepat untuk memprioritaskan dalam penggunaan rel tunggal dalam rute ini).