More than Just Nation and Character Building
March 21st, 2013 at 1:34 pm
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry

Oleh: Venny Julia Utomo (041114137), Prodi:  Ekonomi Islam. Terinspirasi oleh tulisan Ahmad Muflih Saefuddin dalam buku “Wawasan Islam dan Ekonomi”oleh lembaga penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.” Kapitalisme dan marxisme, adalah dua filsafah yang bermusuhan tidak terkecuali dalam prinsip ekonominya. Seperti yang kita semua tahu bahwa kapitalisme adalah buah pemikiran yang sangat menjunjung tinggi kebebasan setiap individu. Orang diberikan kebebasan untuk menggeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Kapitalisme menyadari adanya Tuhan, namun mereka menganggap bahwa Tuhan tidak ada hubungannya dengan bisnis manusia. Akibatnya mereka hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli apakah dalam proses pencapaian tujuan mereka telah menyakiti atau menyengsarakan orang laindan lingkungan sekitarnya. Jikalaupun mereka melakukan kegiatan sosial, seperti sumbangan ataupun pelestarian lingkungn, semua itu hanya karena etika bisnis semata. Bukan karena kesadaran mereka bahwa seluruh alam dan hasilnya adalah pemberian Tuhan.

Sedangkan filsafah ekonomi marxisme kitamengenalnya dengan perjuangan anti-kelas, mereka tidak menyukai adanya kelas-kelas diantara masyarakat. Kekuasaan tertinggi mereka adalah pemerintah,sedangkan individu terbatas kebebasannya. Ini sangat berlawanan dengan filsafah kapitalisme yang sangat menjunjung kebebasan.

Kedua filsafah ini sama-sama membuat manusia menujupada materialisme dan hedonism. Jika pada kapitalis orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan harta dan kekayaan sebanyak mungkin dan menumpuknya untuk dirinya sendiri. Sedangkan pada marxisme pemerintah akan menguasai harta negara dan mengatur seberapa besar harta yang akan didistribusikan kepada masyarakat. Akibat dari kedua filsafah inipun sama yaitu mengakibatkan jurang yang terjal antara orang kaya dan miskin. Mungkin pada filsafah marxisme semua masyarakatmemiliki harta kekayaan yang hampir merata, namun bagaiman dengan harta negara yang dikuasai pemerintah sendiri. Sama saja dengan kapitalisme yang gemar melakukan monopoli.

Pada awalnya ekonomi dan agama itu menyatu, tidak terpisah. Sampai akhir tahun 1700-an di Barat pun ekonomi berkait dengan agama, ahli ekonomi di Eropa adalah pendeta dan ahli agama. Namun pada saat terjadi revolusi industry dan produksi masal, ahli ekonomi mulai memisahkan kajian ekonomi dari agama. Banyak yang menentang gereja, sampai pada akhirnya revolusi mendingin. Para ahli ekonomi kontemporer mulai mencari dan menyadari bahwa ekonomi tidak bisa lepas dari religious, norma dan moral.

Bagaimana dengan ekonomi Islam? Apakah filsafah ekonomi Islam berada di tengah-tengah filsafah kapitalisme dan falsafah marxsisme? Mungkin secara samar bisa dikatakan seperti itu, namun sebenarnya tidak. Filsafah ekonomi Islam sangat sadar betul bahwa seluruh alam semesta adalah milik Allah, tak terkecuali manusia. Manusia dan alam semesta harus tunduk kepada-Nya dan selalu berhubungan dengan-Nya termasuk tentang kegiatan ekonomi, karena kegiatan ekonomi termasuk perilaku manusia sebagai milik-Nya. Sedangkan dua filsafah sebelumnya tidak menyadari hal ini, mereka malah memisahkannya.

Ahmad Muflih Saefuddin dalam buku “Wawasan Islam dan Ekonomi”, mengatakan bahwa pokok filsafah ekonomi Islam ada tiga, yaitu :

1.      Dunia ini, semua harta dan kekayaan sumber-sumber adalah milik Allah dan menurut kepada kehendak-Nya. Implikasi dari status pemilikan menurut Islam ialah bahwa hak manusia atas barang atau jasa itu terbatas. Terbatas karena sebagian harta kita ada bagian dari fakir miskin yang sengaja atau tanpa sengaja terampas oleh kita. Untuk itu Islam mewajibkan zakat dan menganjurkan sedekah. Hal ini berbeda nyata dengan pemilikan mutlak oleh individual pada sistem kapitalisme dan oleh kaum proletar pada sistem marxsisme.

2.      Allah itu Esa, Pencipta segala makhluk dan semua diciptakan untuk tunduk kepada-Nya. Salah satu hasil ciptaan-Nya ialah manusia yang berasal dari substansi yang sama, dan sama memiliki hak dan kewajiban sebagai khalifah Allah di muka bumi. Semua manusia sama, tidak berkelas-kelas, sedangkan perbedaannya hanya pada ketakwaanya. Implikasi dari dokrin ini ialah bahwa anatar manusia itu terjalin persamaan dan persaudaraan dalam kegiatan ekonomi, saling membantu dan bekerj sama dalam hal ekonomi atau syirkah dan qirad. Berbeda dengan sistem ekonomi yang materialistis.

3.      Iman kepada hari pengadilan (kiamat) sebagai asas ketiga yang cukup penting sebagai filsafah ekonomi Islam, karena akan mempengaruhi tingkah laku ekonomi manusia menurut horizon waktu. Seorang muslim akan penuh pertimbangan dalam kegiatan ekonominya, apakah kegiatan ekonominya kan berpengaruh buruk atau akan membawa keselamatannya pada hari kiamat kelak.

Filsafah ekonomi Islam tidak lepas dari fitrah manusia sebagai manusia sosial. Manusia dianjurkan saling bantu-membantu dan menjalin persaudaraan termasuk dalam kegiatan ekonomi. Peduli dan tidak berbuat semena-mena merampas hak orang lain, dan selalu memikirkan dampaknya pada hari akhir kelak. Allah adalah motivasi ekonomi Islam.***


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment