More than Just Nation and Character Building
March 24th, 2013 at 9:28 pm
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry, Islamics Economy

7 roh yg dpt menghambat kemajuan kitaOleh: Elsi Mersilia Hanesti-041114043-Ekonomi Islam- elsi-m-h-feb11.web.unair.ac.id. Sistem Ekonomi Islam adalah sistem perekonomian dimana ilmu dan sistemnya merupakan kumpulan dari aktivitas-aktivitas ekonomi yang telah Rasulullah SAW beserta Khulafa Ar-Rasyidun lakukan atau kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil dalam memimpin Islam. Kebijakan-kebijakan itu bersumber dari Rasulullah SAW sebagai khalifah pertama dan tentu saja bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an melalui wahyu yang diturunkan kepadanya. Jadi, dapat dikatakan ekonomi Islam ada sejak zaman Rasululllah SAW. Ilmu dan sistem ekonomi Islam yang murni ada semasa Khalifah Rasulullah. Ilmu dan sistem ekonomi yang murni ini mulai terdapat penyimpangan-penyimpangan pada saat masa pimpinan setelah Khulafa Ar-Rasyidun, tepatnya semasa pemerintahan Bani Umayyah dan Abbasiyyah. Semasa pemerintahan itu praktik nepotisme mulai terjadi. Kerabat-kerabat dengan mudahnya menduduki jabatan penting dalam pemerintahan dan mereka berkuasa atas harta rakyat dan pemutusan kebijakan.Kelas E FEB UNAIR Nilai Sosiologi Ekonomi Muslim.pdf.

Jika dihubungkan dengan ilmu sosiologi, maka pembahasannya akan menjadi Sosiologi Ekonomi Islam yang artinya bahwa penerapan-penerapan sistem ekonomi Islam disandingkan dengan nilai-nilai sosial yang ada di dalam masyarakat sebagaimana arti dari socius: masyarakat dan  logos: logika atau ilmu. Ilmu Sosiologi Ekonomi Islam akan mengulas apakah cocok sistem ekonomi Islam diterapkan di dalam masyarakat? Dan mengapa bisa terjadi penyimpangan ilmu dan sistem ekonomi Islam yang murni dikalangan Bani Umayyah dan Abbasiyyah hingga masa modern saat ini.

Tokoh pertama kali yang mengaitkan masalah ekonomi dengan nilai-nilai sosial di masyarakat adalah Ibnu Khaldun. Ia dapat dikatakan sebagai Bapak Sosiolog yang terlupakan. Mengapa? Karena sebenarnya ia adalah orang pertama kali yang menggagas teori-teori dasar ekonomi yang terjadi secara realitas di dalam masyarakat sebelum pemikir-pemikir barat menelurkan teori yang sama, seperti Adam Smith dan David Ricardo.

Ibnu Khaldun adalah tokoh intelek Muslim yang masih mempunyai hubungan darah dengan Rasulullah SAW. Berkat Intelektualnya yang tinggi dan pengalamannya yang banyak di dunia masyarakat, politik,  hukum, dan ilmu lainnya membuatnya dapat menggagas teori-teori ekonomi yang logis dan realistis, sesuai kenyataan dengan kehidupan masyarakat aslinya, bukan pemikiran yang subjektif dan teori belaka seperti pemikiran-pemikiran lainnya.

Karya pertamanya adalah buku Muqadimmah. Ia memaparkan teori ekonomi dengan nilai-nilai sosial secara terperinci. Salah satu teorinya adalah spesialisasi dalam kerja. Ia memaparkan bahwa faktor utama dalam proses perekonomian adalah tenaga manusia. Manusia sebagai penggerak utama suatu perekonomian. Mengingat juga bahwa manusia sebagai khalifah Allah SWT dalam mengatur segala permasalahan di dunia (QS. Al-Baqarah: 30). Dalam hal produksi misalnya, memang diperlukan sumber-sumber alam dan sumber penunjang seperti mesin, tetapi satu faktor yang dapat membuat sumber-sumber tersebut menghasilkan sesuatu yang baru dan bermanfaat adalah tenaga manusia sendiri. Meskipun adanya mesin yang dapat menggantikan peran manusia dalam berproduksi, tetaplah manusia dikatakan sebagai faktor utama dalam berproduksi karena manusia juga yang menciptakan mesin itu. Dalam hal distribusi hasil produksi, tenaga dan pemikiran manusialah yang dapat menjadikan barang-barang hasil produksi tersebut dapat turun ke masyarakat dan manusia juga yang bertanggung jawab pada pemerataan distribusi dalam masyarakat. Di sinilah letak pemikiran Ibnu Khaldun yang mengaitkan ilmu ekonomi Islam dengan ilmu sosiologi. Mengapa teori tersebut dikatakan sebagai prinsip dasar ekonomi Islam? Karena jelas bahwa teori tersebut adalah teori dari Al-Qur’an. Teori ekonomi kapitalis dan sosialis menggunakan sektor moneter dan sektor alam sebagai penggerak utama perekonomian, sedangkan ekonomi Islam menggunakan fitrah manusia sebagai faktor utama penggerak ekonomi.

Nilai sosiologi dalam perekonomian diperlukan. Dalam proses produksi, produsen akan memikirkan jenis-jenis barang yang sedang diminati masyarakat dan menciptakan produk-produk baru lainnya yang menjadi kebutuhan masyarakat. Namun barang-barang yang akan diproduksi tersebut harus sesuai dengan budaya dan nilai-nilai di masyarakat karena barang yang diproduksi akan mempengaruhi perubahan kebudayaan (life style) di suatu wilayah. Selain itu juga, akan mempengaruhi tingkat konsumsinya. Dalam proses pendistribusian, manusia harus memperhatikan sasaran mana saja yang perlu didistribusikan suatu produk tertentu. Prinsip pemerataan dan keadilan yang digunakan dalam proses distribusi.

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa dalam proses produksi diperlukan pembagian kerja untuk meningkatkan produktivitas. Prinsip ini diterima karena dengan adanya pembagian kerja dalam produksi barang sesuai dengan keahlian masing-masing akan tercipta produk yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu, dalam proses produksi suatu barang diperlukan banyak tenaga manusia yang mempunyai keahlian tertentu, bukannya dimonopoli oleh satu pihak. Jika suatu produk dikerjakan oleh banyak tenaga ahli, maka akan terproduksi barang-barang dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan sejumlah si pekerja itu sendiri, bahkan melimpah berkali lipat. Kelebihan hasil produksi tersebut dapat diperdagangkan ke masyarakat dalam dan luar negeri dan menghasilkan laba. Apabila barang berkualitas dihasilkan, permintaan akan meningkat. Permintaan meningkat artinya laba yang diterima juga meningkat. Dengan begitu GPD akan meningkat dengan diikuti meningkatnya kesejahteraan masyarakat karena produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik tanpa harus mendzolimi pembeli. Jadi, dapat dikatakan bahwa terbentuknya suatu barang memerlukan banyak tenaga untuk mengerjakannya (disebut organisasi sosial). Dengan diperlukannya tenaga manusia yang banyak, maka hal ini sebenarnya sebagai upaya juga untuk mengurangi pengangguran. Hal ini akan berkaitan dengan pembentukan harga. Harga dibentuk oleh tingkat penawaran dan permintaan. Suatu harga terbentuk berdasarkan jumlah tenaga kerja yang membentuknya atau berdasarkan sektor riil yang terjadi. Dengan prinsip itulah, harga tidak akan terbentuk semena-mena.

Itulah, prinsip dasar ekonomi Islam yang akan menjadikan kemajuan ekonomi yang sesungguhnya dimana kenaikan GDP diikuti dengan kenaikan kesejahteraan umat.

Daftar Pustaka:

Karim, Adiwarman Azwar.2004.Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam.Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

http://dwiajisapto.blogspot.com/2012/02/analisis-tokoh-ekonomi-islam.html.  Diunduh pada Kamis, 21 Maret 2013. Pukul 13.00.

http://blogekonomisyariah.wordpress.com/2010/03/29/ibnu-khaldun-dan-pemikiran-ekonomi-islam/  . Diunduh pada Kamis, 21 Maret 2013. Pukul 13.00.

WebRep

Overall rating


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment