More than Just Nation and Character Building
May 15th, 2014 at 11:38 pm
Posted by Mohammad Adib in Budaya Korporat

Oleh: RESPATI SURYO P. 070917038, AMALIA NURUL M. 071115039, RAKHMAWATI FARRAS A. 071115063, M. DANNY IRAWAN 071115070, HANAFI MUSLIM  071117037. “….budaya korporat adalah dongeng. Ketika mempelajari budaya korporat, sama saja seperti kita mendengarkan dongeng. Kita mengetahui dari awal bagaimana suatu perusahaan didirikan, bagaimana ia berkembang, serta nilai-nilai apa yang diterapkan. ….” “…Salah satu hal penting dalam pengukuran ini ialah adanya Balanced Scorecard.  Dimana, terdapat empat perspektif yang menjadi acuan dalam pengukuran kinerja suatu perusahaan, yaitu perspektif keuangan (financial), pelanggan (customer), proses bisnis internal (internal business process) serta pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth). Selain mampu memperbaiki dan meningkatkan kinerja perusahaan, pengukuran berdasarkan Balanced Scorecard ini juga memiliki beberapa keunggulan lain, yaitu komprehensif, koheren, seimbang dan terukur…..”

            Selasa kemarin (6/5), adalah hari pertama kami kembali mengemban ilmu Budaya Korporat di kelas 306 setelah Ujian Tengah Semester dilangsungkan. Mungkin, karena itulah kami pun sedikit mengalami ‘culture shock’, sehingga kondisi kelas pun menjadi tak sekondusif biasanya. Padahal hari itu, materi yang disampaikan oleh tim presenter (Kelompok 7) cukup menarik, yakni Pengukuran Kinerja Korporat, melalui Analisis Rasio Kerja dan Rasio Kinerja sebagai Sistem.

            Yang kami tangkap dari presentasi tersebut ialah pengukuran kinerja di suatu korporasi sangat penting untuk dilakukan agar kualitas perusahaan tetap terjaga. Pengukuran kinerja dilakukan sebagai bentuk evaluasi untuk mengetahui apakah strategi perusahaan telah dijalankan dengan baik atau tidak. Pengukuran kinerja disini lebih dari sekadar hitung-hitungan angka keuntungan perusahaan, melainkan melihat yang lebih dalam lagi, yakni dari aspek-aspek non-keuangan.

            Salah satu hal penting dalam pengukuran ini ialah adanya Balanced Scorecard.  Dimana, terdapat empat perspektif yang menjadi acuan dalam pengukuran kinerja suatu perusahaan, yaitu perspektif keuangan (financial), pelanggan (customer), proses bisnis internal (internal business process) serta pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth). Selain mampu memperbaiki dan meningkatkan kinerja perusahaan, pengukuran berdasarkan Balanced Scorecard ini juga memiliki beberapa keunggulan lain, yaitu komprehensif, koheren, seimbang dan terukur.

            Selain materi yang disampaikan oleh kelompok presenter, ada hal baru lain yang kami dapatkan di perkuliahan kemarin. Ya, berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, dosen yang membimbing mata kuliah Budaya Korporat kali ini bukanlah Pak Adib, melainkan Pak Heru. Beliau, dengan gayanya yang santai, mempertanyakan kembali kepada kami, apa itu budaya korporat? Setelah mendengar jawaban dari beberapa teman, beliau lalu mengatakan, bahwa menurut pandangannya, budaya korporat adalah dongeng. Ketika mempelajari budaya korporat, sama saja seperti kita mendengarkan dongeng. Kita mengetahui dari awal bagaimana suatu perusahaan didirikan, bagaimana ia berkembang, serta nilai-nilai apa yang diterapkan.

            Bicara soal nilai, beliau kemudian mempertanyakan lagi, apakah nilai adalah budaya korporat? Apakah dengan mengatakan bahwa nilai suatu perusahaan adalah jujur, lalu dengan serta-merta kejujuran menjadi budaya dari perusahaan tersebut? Tentu saja tidak! Nilai tidak akan berarti apa-apa. Nilai baru berubah menjadi budaya korporat ketika ia telah diterapkan secara terus-menerus oleh suatu perusahaan. Ringkasnya, beliau mengatakan, budaya korporat adalah nilai yang telah mendarah-daging. Artinya, sudah tak bisa dipisahkan dengan perusahaan tersebut. Maka dari itu, menurut beliau, budaya korporat baru dimiliki oleh perusahaan yang telah mapan dan berusia panjang. Sebab, pembentukan budaya korporat memakan waktu yang tidak sebentar untuk berhasil ‘mendarah-daging’. Perusahaan-perusahaan yang baru dibentuk umumnya masih gamang dan belum menemukan budaya korporat mereka.

            Beliau juga mengatakan bahwa budaya korporat, walaupun mendarah-daging, ia tetap bersifat adaptif. Mengikuti perkembangan jaman. Kata ‘mengikuti’ disini bukan berarti berubah-ubah semaunya. Core atau inti dari suatu budaya korporat tentulah tetap sama, namun ia tidak statis, tujuannya tentu agar kualitas perusahaan tetap terjaga.

            Dari penjelasan Pak Heru tersebut, maka tidak terlalu salah bila kelompok kami mengatakan bahwa selain dongeng, budaya korporat juga bisa dianalogikan sebagai passion. Layaknya passion yang membimbing seseorang menjalani lika-liku hidupnya, budaya korporat juga menjadi acuan atau pondasi suatu perusahaan menghadapi perkembangan jaman, menghadapi situasi pasar. Bila seseorang sudah memiliki passion terhadap suatu hal, maka ia tidak akan pernah meninggalkan hal tersebut. Begitu pula yang terjadi pada budaya korporat. Memang, ada kalanya, seseorang akan merasa bosan atau letih menjalani kesibukannya. Namun, passion-lah yang membuatnya terus bertahan. Dan, bukankah hal yang sama juga terjadi pada budaya korporat?***


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment