More than Just Nation and Character Building
April 10th, 2014 at 8:08 pm
Posted by Mohammad Adib in Budaya Korporat

Oleh: RESPATI SURYO P. 070917038,  AMALIA NURUL M. 071115039, RAKHMAWATI FARRAS A. 071115063, M. DANNY IRAWAN 071115070, HANAFI MUSLIM 071117037. Setelah di perkuliahan Budaya Korporat pada dua minggu sebelumya kami dibawa “kuliah lapangan” ke Jepang, pada perkuliahan Selasa (8/4) kemarin, kami kembali belajar banyak dari perusahaan-perusahaan internasional. Sebab, materi perkuliahan yang hari itu didiskusikan oleh kelompok Defries Laksana, Ade Putri Verlita, Ganes E. Sadewo, Elsa Wulandari, dan Andreas Baskoro, tak lain dan tak bukan, bicara soal Strategi Bisnis Internasional. Dan tentunya, perkuliahan pun makin terasa semarak dengan bimbingan dosen berjam terbang tinggi yang selalu memegang teguh nilai-nilai excellent, Pak Moh. Adib. 1. Nilai Resume I, 2, 3,4 & 5 Kelompok GENAP(2013_2014)_BUDAYA_KORPORAT_KELAS_A. sampai Kamis 10 April jam 10.00.pdf. 2. Judul (Rancangan) Makalah Individual GENAP(2013_2014)_BUDAYA_KORPORAT_KELAS_A-NEW sampai Kamis, 10 April jam 10.00. via hmadib2005@yahoo.com.pdf

            Begitu memasuki ruangan kelas, seperti biasa, sebelum kelas dimulai, Pak Adib telah menuliskan kata kunci yang akan menjadi poin penting pada perkuliahan hari itu. Seingat kami, ada empat poin yang dituliskan beliau, yakni Strategi Bisnis Internasional, Strategi Multidomestik, Strategi Transnasional dan Strategi Global. Awalnya, kami tak begitu paham dengan tulisan tersebut. Ternyata, setelah dijelaskan oleh kelompok presenter, Strategi Bisnis Internasional terbagi atas tiga strategi yang telah dituliskan oleh Pak Adib.

            Dalam strategi multidomestik, sebuah korporat akan mengupayakan memahami pasar nasional sesuai selera lokal disana. Tujuannya tentu agar produk yang ditawarkan oleh korporat tersebut dapat benar-benar diterima dan memuaskan konsumen. Jadi, produk yang ditawarkan akan sesuai dengan masing-masing daerah, namun proses prouksinya tetap sama. Hal ini memang akan membuat korporat tersebut mengeluarkan energi dan biaya ekstra.

            Hal ini berbanding terbalik dengan strategi global yang lebih memilih memasarkan produk mereka dengan cara pemasaran yang disamaratakan. Mereka tidak membedakan pasar lokal dimana produk korporat tersebut akan diterima. Sifatnya cenderung terpusat (sentralisasi), sebab perusahaan pusat yang mengoordinasikan dan melakukan standardisasi. Strategi seperti ini memang tidak memerlukan banyak pengeluaran. Sayangnya, tentulah tidak dapat memuaskan kebutuhan konsumen secara optimal. Strategi seperti ini tidak disarankan bila angka permintaan dan respon masyarakat lokal tinggi.

            Diantara keduanya, adapula strategi transnasional dimana korporat menyadari bahwa yang perlu diperhatikan bukan hanya pusat, namun dimana saja korporat tersebut memasarkan produknya. Strategi ini menjelaskan suatu kondisi dimana bahan baku, orang, dan pemikiran korporat melampaui atau keluar dari batas-batas negara. Sehingga, aktivitas perusahaan tak terpusat. Setiap cabang dapat melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri.

            Yang menarik, dibanding penjelasan secara teoritis, kelompok presenter lebih banyak bercerita melalui video-video. Terdapat empat video iklan dari dua korporat yang berbeda yang mereka tampilkan hari itu. Kedua korporat tersebut adalah McDonald dan Coca Cola. Dari keempat video tersebut menunjukkan bagaimana korporat berusaha untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat lokal dimana produk tersebut dipasarkan. Bedanya, ada yang benar-benar menggunakan aktor-aktris lokal dengan setting yang lokal pula dalam iklannya, dan ada pula yang sekadar men-dubbing video yang telah di-translate ke bahasa lokal.

            Dari penjelasan mereka, pertanyaan yang timbul dari para mahasiswa yang hadir hari itu tak jauh-jauh dari AFTA, saat perusahaan internasional bebas membangun usahanya tanpa diribetkan oleh pajak pada tahun 2015 mendatang. Yang cukup dipertanyakan apakah korporat-korporat di Indonesia siap untuk menghadapinya? Dan menurut kelompok tersebut, bila masih seperti sekarang, tentulah korporat di Indonesia akan kalah dalam persaingan tersebut. Untuk bertahan, korporat di Indonesia harus berani mengembangkan usahanya serta menerapkan salah satu dari ketiga strategi yang telah dijelaskan. Baik itu strategi multidomestik, transnasional ataupun global.

Selain penjelasan yang singkat dan padat yang membuat kami mudah untuk mengerti, hal berbeda lainnya hari itu ialah perkuliahan yang diakhiri lebih cepat, yakni pada pukul 17.00. Sebuah perkuliahan yang singkat memang, namun tetap saja meninggalkan ilmu-ilmu yang berguna dan excellent di memori kami semua.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment