More than Just Nation and Character Building
April 3rd, 2014 at 2:18 pm
Posted by Mohammad Adib in Budaya Korporat

Cara Riset keywords Cara Riset keywords Dengan Menggunakan Google Adwords Keyword ToolsOleh: Fidelia Ayu 071115013, Arif Dianto 071115061,  Razif Akbar 071115074, Ibanez Mega 071115079. Pelajaran Budaya Korporat pada hari Selasa pertama dibulan April 2014 membahas tentang Bentuk, model, struktur budaya korporat. Diskusi excellence pada dari tersebut dipresentasikan oleh Hikmah Rizka Maslahatin, Anita Dhaneswari, Rizky Zulkifli, Bella Sprinoza, Habib dan Benaya C. Tentunya dibawah bimbingan Bapak Adib, dosen Budaya Korporat yang selalu menjadi pendengar yang baik dan memberikan penjelasan setelah diskusi berlangsung.           

Diskusi tersebut menjelaskan bahwa ada beberapa bentuk, model, dan struktur budaya korporat. Diantaranya menurut Westhuizen, et. al (2005) A Model of elements of an effective organizational culture, model budaya korporat menurut Lazidou (2006),  model yang ketiga adalah model dari Yuniawan (2012) 7S Models of corporate culture dan struktur dari budaya korporat yang digambarkan oleh Denison (2007). Bentuk, model, dan struktur budaya korporat ini, dapat diterapkan suatu perusahaan sesuai visi dan misi perusahaan tersebut. 1. Judul (Rancangan) Makalah Individual GENAP(2013_2014)_BUDAYA_KORPORAT_KELAS_A-NEW sampai Kamis, 3 April jam 10.00.pdf. 2. Nilai Resume I, 2, 3 & 4 Kelompok GENAP(2013_2014)_BUDAYA_KORPORAT_KELAS_A. sampai Kamis 3 April jam 10.00.pdf

Model Westhuizen dapat dijelaskan bahwa budaya korporat memiliki fondasi berupa manifestasi yang berbentuk tidak nyata (tidak tampak) yang diawali dengan kepercayaan dan diwujudkan dalam bentuk norma-norma yang diberlakukan. Bagian isi budaya korporat meliputi manifestasi verbal, manifestasi perilaku, dan manifestasi visual. Sehingga diperoleh result atau hasil yang dari kedua bagian tersebut bersinergi menghasilkan efektif atau tidak efektif budaya perusahaan.

Pada model Lazidou merupakan model budaya korporat digambarkan dalam sebuah diagram yang memiliki nilai semesta artinya harus dimiliki oleh sebuah budaya perusahaan adalah ritual, sistem, struktur, kepatuhan, dan aturan. Bagian-bagian dari semesta tersebut saling membentuk irisan yang artinya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Irisan tersebut menggambarkan interdependensi, saling ketergantungan antar bagian yang menyebabkan timbulnya interaksi sehingga membentuk sebuah budaya korporat yang kuat.

Selanjutnya model 7S budaya korporat, dapat dianalisa bahwa sebuah korporat harus memiliki nilai-nilai yang mengandung ketujuh unsur tersebut. Tujuh unsur yang dimaksud adalah struktur, sistem, ketrampilan, staf karyawan, startegi, gaya, dan nilai-nilai yang dibagi. Tujuh nilai tersebut melekat pada setiap anggota kelompok organisasi atau korporasi untuk mewujudkan visi dan misi korporat.

Dalam struktur yang digambarkan oleh Denison, kepercayaan dan asumsi dasar adalah landasan terbawah sebagai pondasi dalam menciptakan budaya-budaya korporat. Budaya-budaya korporat yang dihasilkan dapat berupa komitmen yang tinggi, kemampuan untuk cepat dan tetap beradaptasi atas perubahan lingkungan sekitar. Selain itu adalah konsistensi dan menjalankan misi dengan penuh integritas untuk mencapai visi yang dituju. Tercapainya sebuah visi perusahaan adalah upaya untuk mempertahankan atau memperoleh reputasi publik.

Selama diskusi berlangsung, Bapak Adib selalu mendengarkan mahasiswa yang sedang presentasi maupun mahasiswa yang mengajukan pertanyaan. Sesekali beliau beranjak dari tempat duduk menuju papan tulis untuk menuliskan kata-kata penting. Kata-kata penting tersebut adalah to control, struktur, tangible, adaptasi eksternal dan integrasi internal. Setalah sesi presentasi dan tanya jawab selesai, Bapak Adib memberikan penjelasan tentang kata-kata sulit yang berada di papan. To control yang dimaksud disini adalah untuk mengontrol suatu korporat. Sebagai contoh mengontrol jumlah karyawan. Sedangkan adaptasi eksternal dan integrasi internal adalah suatu kesatuan untuk menghadapi dunia korporasi yang sarat akan kompetisi.

Dari diskusi yang berjalan juga memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara model dan struktur. Penjelasan ini diberikan oleh para presentator untuk menganggapi pertanyaan dari Mega Ayu. Perbedaan antara model dan struktur adalah, model merupakan pola yang diterapkan untuk mencapai misi yang nantinya menjadi sebuah budaya sedangkan struktur adalah suatu bentuk hiararki yang berurutan merupakan asumsi dasar dari nilai yang akan ditanamkan dalam budaya korporat.

Pada saat presentasi, studi kasus yang diberikan tentang CSR Indosat. Dari studi kasus muncul pertanyaan apakah semua korporat membutuhkan CSR, kemudian dijawab oleh presentator bahwa tidak semua korporat membutuhan CSR, dan melihat public dari korporat tersebut membutuhkan CSR atau tidak. Kemudian ditanggapi oleh Arif Dianto bahwa menurut peraturan UU pasal 74 yang mengatur tentang SCR bahwa segala bentuk perusahaan yang berkaitan dengan sumber daya alam wajib melakukan CSR serta dianggarkan dalam perusahaan.

Demikian ringkasan diatas yang menurut kami suatu pengetahuan excellence yang kami dapat selama perkuliahan pada hari tersebut, yang menambah wawasan kami dalam dunia budaya korporat.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment