More than Just Nation and Character Building
April 16th, 2014 at 5:02 pm
Posted by Mohammad Adib in Budaya Korporat

Review Kelompok V Presentasi 6, Defries Laksana P,  071115003, Ganes Editya Sadewo 071115084, Ade Putri Verlita M. 071115231, Elsa Ramadhani 071115083, Andreas Kasworo 071117013. “Suatu badan usaha sudah pasti memiliki orientasi pada profit, jika tidak untung maka namanya adalah yayasan sosial– M. Adib” “….Pak Adib, sebagai seorang dosen Budaya Korporat mencoba untuk mengetahui budaya korporat dari masing-masing mahasiswa yang ada di kelas tersebut. Sehingga beliau memanfaatkan waktu ketika tim penyaji sedang mempersiapkan presentasi, dengan memanggil semua nama yang ada di list absen dan menanyakan mengenai pengalaman kerja mahasiswa tersebut dan orang tuanya. Kami beranggapan bahwa hal ini dilakukan agar beliau bisa mengetahui background korporat dari masing-masing mahasiswanya. Sehingga secara tidak langsung beliau bisa lebih dekat dengan mahasiswanya dan pengalaman korporat dari masing-masing mahasiswa tersebut bisa dibagikan suatu hari nanti ke teman-teman lain. Tidak banyak dosen yang memperhatikan segala sesuatunya dengan detil, Pak Adib satu-satunya yang melakukan hal tersebut selama ini. Beliau berusaha melakukan standarisasi dalam mengerjakan tugas, tata cara penyampaian presentasi, untuk memudahkan mahasiswa mengikuti mata kuliah beliau.” Nilai Resume I, 2, 3,4, 5, & 6 Kelompok GENAP(2013_2014)_BUDAYA_KORPORAT_KELAS_A. sampai Kamis 17 April jam 10.00.pdf

Seperti yang kita tahu, BUMN adalah badan usaha yang dimiliki pemerintah sebuah negara. Meski dipegang oleh pemerintah, para pengelolanya harus pintar untuk memilih srategi, sehingga BUMN bisa tetap struggle. Seperti dikatakan oleh Bapak Adib dalam pertemuan kemarin (15/4), bahwa bagaimanpun BUMN adalah badan usaha yang harus memiliki untung, jika tidak maka namanya adalah yayasan sosial. Beliau menyampaikan hal tersebut dengan tersenyum tipis. Kami menangkap jelas bahwa poin yang berusaha beliau tekankan adalah keuntungan. Karena jelas saja, setelah kami mencari lebih dalam mengenai hakikat BUMN, merupakan lembaga ekonomi yang tidak mempunyai tujuan mencari keuntungan, melainkan memupuk keuntungan. BUMN difungsikan untuk menjadi stabilisator perekonomian negara, digunakan untuk mengisi kas negara.

Penjelasan yang sangat excellent dijelaskan oleh kelompok penyaji, yakni kelompok satu. Kelompok penyaji menjelaskan mengenai 6 jenis strategi BUMN yang bisa diterapkan sesuai dengan kondisi yang ada. Di antaranya strategi tersebut adalah strategi Emergensi, Olympian, Acquisition-Driven, Ekspansi, Competency-and-culture Building Based, dan Performance Control. Keenam strategi tersebut bisa digunakan oleh BUMN menyesuaikan keadaan dan kondisi yang sedang dihadapi oleh suatu BUMN. Antara BUMN satu dan yang lainnya pun bisa berbeda. Untuk menambahkan penjelasan, tim penyaji memberikan contoh berupa video PT. KAI, yang menjelaskan mengenai perubahan PT. KAI dan strategi yang digunakan dalam menghadapi keadaan yang berubah-ubah.

Setelah tim penyaji memberikan penjelasan, maka waktunya untuk berdiskusi. Mahasiswa lain diberikan kesempatan untuk bertanya dan menanggapi. Lantas yang menjadi perdebatan adalah mengenai pengertian strategi ekspansi. Ekpansi menurut penjelasan dari tim penyaji adalah untuk perluasan daerah saja. Sedangkan salah seorang mahasiswa bernama Dianto, beranggapan bahwa ekspansi juga bisa berupa penambahan jumlah barang atau jasa oleh suatu perusahaan. Pak Adib sebagai dosen yang menjadi penanggungjawab mata kuliah ini, tidak lantas angkat bicara menanggapi hal ini. Beliau berusaha untuk menghargai diskusi yang ada, karena saat itu memang masih giliran mahasiswa untuk memberikan pertanyaan dan tanggapan. Beliau tidak berbicara secara lisan, hanya saja menuliskan beberapa kata kunci yang dianggap penting dalam pembahasan kala itu di papan tulis. Beliau menuliskan profit dan biaya atau modal.

Setelah sesi diskusi selesai, mahasiswa yang bertugas menjadi tim penyaji dipersilakan untuk duduk. Setelah semua mahasiswa sudah menempati tempat masing-masing dan siap, barulah Pak Adib menjelaskan beberapa hal yang menurut beliau penting untuk dijelaskan. Sebuh contoh yang excellent, belajar untuk menghargai semua pihak, termasuk mahasiswa. Beliau berusaha meluruskan penjelasan mengenai strategi ekspansi, bahwa ekspansi bisa berupa perluasan lokasi barang untuk diproduksi dan penambahan jumlah barang maupun jasa. Kemudian beliau menjelaskan mengenai kata kunci yang sudah ditulis, mengenai profit dan biaya yang menjadi hal penting dalam menjaga kestabilan sebuah BUMN.

Pak Adib, sebagai seorang dosen Budaya Korporat mencoba untuk mengetahui budaya korporat dari masing-masing mahasiswa yang ada di kelas tersebut. Sehingga beliau memanfaatkan waktu ketika tim penyaji sedang mempersiapkan presentasi, dengan memanggil semua nama yang ada di list absen dan menanyakan mengenai pengalaman kerja mahasiswa tersebut dan orang tuanya. Kami beranggapan bahwa hal ini dilakukan agar beliau bisa mengetahui background korporat dari masing-masing mahasiswanya. Sehingga secara tidak langsung beliau bisa lebih dekat dengan mahasiswanya dan pengalaman korporat dari masing-masing mahasiswa tersebut bisa dibagikan suatu hari nanti ke teman-teman lain. Tidak banyak dosen yang memperhatikan segala sesuatunya dengan detil, Pak Adib satu-satunya yang melakukan hal tersebut selama ini. Beliau berusaha melakukan standarisasi dalam mengerjakan tugas, tata cara penyampaian presentasi, untuk memudahkan mahasiswa mengikuti mata kuliah beliau.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment