More than Just Nation and Character Building
October 19th, 2012 at 9:12 pm
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry

Oleh: Wahyu Aji Cahya R. (NIM: 070917041)

Antropologi industri adalah ilmu yang mempelajari industri-industri yang dilakukan oleh manusia. Dimana industri itu sendiri berarti aktivitas manusia untuk mengelola sumber daya-sumber daya (resources) baik Sumber Daya Manusia (SDM), maupun Sumber Daya Alam (SDA) di bidang produksi dan jasa. Jadi, dapat dikatakan bahwa antropologi industri adalah ilmu yang mempelajari tentang aktivitas manusia untuk mengelola sumber daya-sumber daya (resources) baik Sumber Daya Manusia (SDM), maupun Sumber Daya Alam (SDA) di bidang produksi dan jasa. Di bidang produksi pengelolaan itu berupa bahan mentah—dan atau penyiapannya—menjadi bahan setengah jadi dan atau bahan setengah jadi menjadi bahan jadi. Sedangkan di bidang jasa merupakan segala aktivitas yang terkait dengan pengelolaan sumber daya itu baik langsung maupun melalui perantara. Continue Reading »


October 15th, 2012 at 9:39 pm
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry, Field Study

http://img.antaranews.com/new/2011/02/small/20110201102652ukm310111-2.jpgPRAKTEK KULIAH LAPANGAN ANTROPOLOGI EKONOMI DAN INDUSTRI (SOA-365)

  1. Latar Belakang.

Antropologi Ekonomi-Industri merupakan mata kuliah pilihan terbatas dari peminatan Antropologi Sosial-Budaya bagi mahasiswa Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Tujuan penyelenggaraan mata kuliah Antropologi Ekonomi Industri adalah ingin mengajak mahasiswa untuk mempelajari, mengimplentasikan konsep-konsep antropologi ekonomi industri dalam kehidupan masyarakat.

Masalah ekonomi dan industri pada masyarakat tidak hanya persoalan uang, modal dan implementasi kebijakan-kebijakan pemerintah tetapi berkaitan dengan fenomena sosial budaya. Faktor sosial-budaya berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi dan Ketidakberdayaan, kemajua, keberlangsungan kegiatan ekonomi dan industri tidak hanya disebabkan kelangkaan sumberdaya alam, modal tetapi berkaitan dengan fenomena sosial budaya. Misalnya, Jepang menjadi negara maju dengan berkembangnya entrepreneur di negara tersebut tidak hanya disebabkan ketersediaan sumber daya alam dan modal yang tinggi tetapi karena faktor manusianya. .Dengan mengikuti kuliah lapangan mata ajaran ini para mahasiswa diharapkan akan dapat memahami, mendalami, dan mengimplementasikan tentang konsep konsep antropologi dalam kehidupan masyarakat. Continue Reading »


April 16th, 2012 at 8:12 am
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry

Perspektif merupakan cara pandang (view point) yang digunakan oleh peneliti dalam menjelaskan titik poin (starting point) dalam sebuah penelitian. Agar dapat memperoleh kualitas hasil penelitian (ilmiah) yang obyektif maka haruslah jelas perspektif yang digunakan. Koentjaraningrat (1982:viii-ix) memilahkan perspektif itu dengan dua cara pandang yakni: (i) pandangan emik (emic views) yang melihat suatu hal dari para informan, responden dan atau warga masyarakat; dan (ii) pandangan etik (etic views) yang memandang dari kacamata peneliti terhadap topik atau soal-soal yang sedang ditelitinya.

Sri Mangkunegara IV dalam menjelaskan Etos Dagang Orang Jawa (Daryono, 2007), telah dipengaruhi oleh lingkungan budaya kraton dalam tiga karakteristik sistem nilai moral budaya yakni (i) harmonis, (ii) struktural-fungsional, dan (iii) transendental. Sementara Geertz (1977) menjelaskan perubahan sosial dalam perilaku ekonomi orang Jawa (di Mojokuto) dan membandingkan dengan perilaku ekonomi orang Bali (di Tabanan). Continue Reading »


December 31st, 2011 at 7:11 am
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry

Teori jaringan sosial mulai berkembang sehubungan dengan rasa ketidakpuasan para ahli antropologi, khususnya antropologi sosial, pada tahun 1960-an terhadap teori struktural-fungsional yang konvensional. Para ahli antropologi sosial pada masa itu mulai mengarahkan perhatian pada masyarakat yang lebih kompleks, pada saat yang sama mereka mulai mengalami banyak kesulitan atau merasakan kekurangan dari pendekatan struktural fungsional yang digunakan.

Teori struktural-fungsional yang digunakan itu dibangun melalui studi-studi tentang masyarakat tribal dan masyarakat yang lebih sederhana, di mana perubahan yang terjadi di sana adalah lambat sehingga tidak memadai ketika diterapkan pada masyarakat yang lebih kompleks, dan terjadi perubahan relatif cepat. Teori jaringan sosial menawarkan solusi terhadap gejala semakin kompleksnya tatanan kehidupan masyarakat dan kebudayaan di dunia (Saifuddin, 2007. “Menerjemahkan Konstruktivisme melalui Pendekatan Jaringan Sosial,” Kata Pengantar dalam Agusyanto, 2007. Jaringan Sosial dalam Organisasi. Jakarta: Rajawali Press. Hal. Vii). Continue Reading »


December 2nd, 2011 at 8:10 am
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry

Nongkojajar adalah merupakan predikat dan atau nama lain dari Kecamatan Tutur sekarang. Ia berada di wilayah Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur Indonesia. Nama Nongkojajar telah eksis sejak zaman Belanda, meskipun di wilayah ini tidak terdapat nama Nongkojajar pada salah satu dukuh dan atau desa di Kecamatan Tutur ini, Nongkojajar telah melekat hingga kini pada Kecamatan Tutur.

Kecamatan Tutur merupakan wilayah agraris, tediri dari 12 desa dengan luas 94 kilometer persegi, berada di lereng sebelah barat pegunungan Tengger, yang juga merupakan penyangga taman nasional Bromo Tengger, sebagai merupakan penyangga taman nasional Bromo Tengger Semeru.

Di Kasawan Nongkojajar ini dilintasi oleh jalan raya menuju kawasan Gunung Bromo dan kawasan Gunung Semeru. Wilayah ini berada dalam kawasan pegunungan dan berada di ketinggian lebih kurang 1000 m/dpl. Batas-batas wilayah Nongkojajar adalah (i) sebelah Timur Kecamatan Tosari; (ii) Sebelah Utara Kecamatan Puspo; (iii) sebelah Barat Kecamatan Purwodadi, dan (iv) sebelah Selatan Kecamatan Jabung (Malang). Continue Reading »


October 28th, 2011 at 11:10 am
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry, Budaya Korporat

Revolusi Industri adalah perubahan total di bidang teknologi, sosioekonomi, dan budaya pada akhir abad xviii dan awal abad xix yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja dengan tenaga manusia yang kemudian diganti dengan tenaga mesin dalam kegiatan produksi dan distribusi barang dan atau jasa. Revolusi ini dimulai di Inggris dengan penggunaan mesin uap dan batubara sebagai bahan bakar untuk produksi utama tekstil. Perkembangan produksi peralatan/mesin setelah penemuan logam yang  terjadi pada keseluruhan dua dekade pertama dari abad ke-19,  yang membuat mesin produksi untuk digunakan di industri lainnya.

More, Charles. 2000. Dalam bukunya Understanding the Industrial Revolution. London dan Yew York: Routledge, hal 5-8, menggunakan terminologi revolusi industri dalam konsep-konsep, dua diantaranya adalah  (i) invention dan innovation; dan (ii) Nilai uang. Continue Reading »


September 9th, 2011 at 2:44 pm
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry

Mataajaran Antropologi Ekonomi-Industri ini mengajak mahasiswa mendalami permasalahan ekonomi dan industri khususnya dalam kegiatan ekonomi non formal yang dilakukan individu dalam masyarakat dengan mengutamakan tinjauannya dari perspektif sosial-budaya. Lewat perbincangan-perbincangan, para mahasiswa pertama-tama akan diajak serta mendalami ihwal pengaruh ruang lingkup studi antropologi ekonomi dan industri.

Erat bersangkutan dengan masalah-masalah itu adalah juga masalah teori-teori (teori formal, teori subtantif, teori Marx, teori moral, teori rasional) berkaitan dengan kasus kegiatan ekonomi pada masyarakat.  Pada acara berikutnya para mahasiswa juga akan diajak ikut membahas masalah konsep pertukaran atau resoprositas (resiprositas berimbang, resiprositas negative, resiprositas pasar) yang terjadi dalam masyarakat desa tertutup (prakapitalis) dan  masyarakat maju (kapitalis). Dengan beberapa contoh kasus, sejarah perkembangan sistem ekonomi pedesaan dari prakapitalis  dan kapitalis. Selanjutnya akan diperbincangan  berkembangannya diversifikasi ekonomi pada masyarakat desa kapitalis dengan beberapa penjelasan tentang kegiatan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan fenomena ekonomi formal (perbankan, koperasi, ekonomi syariah) dan fenomena sumber modal non formal ( rentenir, relasi usaha, dan sebagainya). Perbincangan berikutnya tentang  persoalan entrepreneur dan usaha industri. Melalui kegiatan kuliah lapangan, mahasiswa diharapkan akan dapat menemukan  kasus yang berkaitan dengan pembahasan antropologi ekonomi –industri dan dampak   kebijakan-kebijakan pemerintah khusus dalam membantu ekonomi masyarakat pedesaan dan industri kecil.

GBBP Antropologi Ekonomi Industri

New KLP DAN ANGGOTA Antropolologi Ekonomi Industri SMT GASAL 2011-2012.pdf

Lima KLP DAN ANGGOTA KULIAH LAPANGAN Ekonomi Industri SMT GASAL 2011-2012.pdf


July 11th, 2011 at 10:54 am
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry, Inspirations

Pengalaman Ditolak Kehadiran di Masyarakat

Oleh Mohammad Adib[1] 

       Waktu telah larut malam. Perbincangan belum juga usai dan terus menghangat sejak tiga hari terakhir di bulan Maret itu. Perhatian pokok pada kehadiran orang yang dianggap ”asing” yang bertempat tinggal di balai desa Desa Gisim Kabupaten Sorong Irian Jaya (Papua Barat). Sejumlah 6 orang kepala keluarga dan sesepuh lainnya di desa itu bergabung dan terus bersemangat untuk menyusun berbagai kemungkinan yang terjadi. Beberapa penjelasan yang disampaikan Pak Desa (sebutan Kepala Desa) mendapatkan perlawanan sengit dari orang-orang yang hadir di situ. Continue Reading »


April 7th, 2010 at 2:52 pm
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry

PROFIL KOPERASI DI ERA GLOBALISASI:  STUDI TENTANG POLA PERGESERAN ORGANISASI PRODUKSI KE KONSUMSI PADA INDUSTRI TAS DAN KOPOR  DI KOPERASI INTAKO TANGGULANGIN SIDOARJO TAHUN 1976-2005 

Oleh: Moh. Adib,  dan Naya Sujana. (Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial an Ilmu Politik Universitas AirlanggaJl. Airlangga 4-6 Surabaya Email: hmadib@unair.ac.id

ABSTRAK 

Penelitian ini bertujuan untuk (i) mengidentifikasi kegiatan produksi dari para perajin anggota Koperasi Intako Tanggulangin; (ii) dan Menggambarkan pergeseran yang terjadi dalam kegiatan prosuksi dan konsumsi dalam kaitannya dengan persaingan pasar bebas—globalisasi di kawasan Intako Tanggulangin pada tahun 2005.  Penelitian ini dilakukan dengan survey di Koperasi Intako Tanggulangin Sidoarjo. Populasinya adalah perajin anggota Koperasi Intako dengan jumlah sampel 65 orang (17,37%) dari 374 orang anggota. Data dikumpulkan dengan wawancara dan observasi kepada responden para perajin tersebut. Analisis dilakukan dengan kelakukan pengkategorisasian dan atau pengklasisifakasian atas temuan data kemudian dilakukan interpretasi dengan memberikan pemaknaan dan nilai penting dari tabel frekuensi.
Continue Reading »


November 5th, 2008 at 8:56 am
Posted by Mohammad Adib in Anthropology of Industry

INDUSTRI KECIL SEBAGAI GERAKAN SOSIAL

Suatu proposal yang sempurna, terutama yang dipesiapkan untuk menyusun disertasi, idealnya berisi seperangkat konsep dan konseptualisasi yang telah tersistematisasikan dan bahkan terukur. Upaya untuk mencapai hal dapat dilakukan apabila telah dilakukan kajian akademik serta sejumlah penelitian. Agaknya untuk mencapai hal yang ideal sebagaimana disampaikan pada pengantar tulisan ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai kendala tidak jarang dihadapi oleh para penulis baik pada tataran persoalan akademik dan juga yang bukan akademik.