More than Just Nation and Character Building
October 13th, 2014 at 1:11 am
Posted by Mohammad Adib in Introduction of Anthropology

f5df65d1d063472f289b162b99bd47f0_nasionalisme_0Oleh: Nurul Mahmudah/071411431040/Sosioloi. “…… Antropologi hari itu telah menyadarkan, mencerahkan dan semoga juga menambah kecerdasan bagi saya, dengan Anropologi yang memberi penjelasan mengenai kepribadian dan kebudayaan ini semoga dapat  dijadikan sebagai acuan dalam menata tingkah laku dan kepribadian yang bermoral mulia. Tak ada kata yang mampu saya ucapkan selain beribu-ribu terimaksih yang saya haturkan kepada semua penyaji materi khususnya Bpk.Adib atas segala pencerahanya. Akan selalu saya ingat kalimat Bpk. Adib bahwa without character everything is nothing. Jaya terus untuk dosen luar biasa saya Bpk Adib.Banyak hati yang menunggu sentuhan pencerahan bapak,selalu kami tunggu kehadiran bapak untuk mengebrakan semangat kami lagi,tak kan bosan kami walaupun harus terus menumpuk resemu setiap kali.Pertemuan bersama Bpk.Adib adalah pertemuan emas yang selalu kami rindukan setiap minggu.Semoga Bpk Adib tidaklah bosan senantiasa memberikan arahan dan pencerahan bagi kami. Menyadarkan,mencerdaskan mencerahkan? mari kita lakukan!!!!, Indonesia? Harus lebih baik!!! Mahasiswa Universitas Airlangga? Cerdas berahlak mulia!!! Mata kuliah Antropologi? Menyadarkan, mencerdaskan, mencerahkan!!!….” Continue Reading »


October 8th, 2014 at 11:56 am
Posted by Mohammad Adib in Introduction of Anthropology

http://4.bp.blogspot.com/-GP5npFkEl_Y/Uod0FxxBR4I/AAAAAAAAAfA/51gZUX7Jtag/s1600/pengertian+antropologi.jpgOleh: Muharram Dwi Putranto/071411433017/Sosiologi. “……Bapak Adib menerangkan materi dengan ditambah bumbu yang sedikit dewasa yang membuat mahasiswa excellent tertawa dan menyimak dengan baik materi yang diterangkan oleh bapak Adib. Setelah menerangkan materi bapak Adib memperlihatkan video tentang budaya nikah usia dini di Madura. Video tersebut dicuplik dari sebuah acara di Metro TV. Dalam video tersebut dikisahkan bahwa ada sebuah pasangan suami istri yang menikah muda di daerah Sampang. Sang suami menikah di usia 15 tahun sedangkan istrinya menikah di usia 13 tahun. Dan contoh kedua adalah di daerah Sumenep dengan sang Suami menikah di usia 17 tahun dan istri nya yang berusia 15 tahun. Di akhir video, terdapat wawancara antara presenter dengan Budayawan Madura beserta Bapak Adib selaku antropolog. Pak Adib menjelaskan bahwa di Madura, fenomena tersebut terjadi karena tradisi yang kuat yang dipegang oleh masyarakat madura.”Nilai Narasi Individual Fungsi Kebudayaan GANJIL(2014_2015)_PENGANTAR_ANTROPOLOGI_KELAS_A Continue Reading »


October 12th, 2013 at 1:57 am
Posted by Mohammad Adib in Introduction of Anthropology

Oleh: Thalia Lintang S. 071311733067. Prodi    :S1 Antropologi

“…    Dari kisah tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa orang yang cerdas tapi licik tidak akan mencapai kesuksesan dan kebahagiaan. Namun jika kita menjadi orang yang cerdas dan bermoral mulia akan selalu menjadi orang yang bahagia dan sukses dalam segala hal. Kekayaan tidak akan menjamin kebahagiaan tetapi jika kita bisa menjadi orang yang cerdas dan bermoral mulia, kita tidak akan pernah menjadi orang yang rugi dalam hidup di dunia ini. Betapa hebatnya kampus Universitas Airlangga yang memiliki semboyan “Excellent with Morality” yang telah menjadi penuntun seluruh warga Universitas Airlangga agar menjadi orang-orang yang sukses dan bahagia dengan kecerdasan dan moral yang mulia…”

.    Tuhan telah memberikan kita dua buah mata untuk melihat, dua buah telinga untuk mendengar, dan mulut untuk berbicara. Tuhan memberikan semua alat panca indera itu untuk kita gunakan dengan sebaik mungkin. Melihat dengan mata, kita diberikan mata oleh Tuhan untuk melihat apapun yang ada di dunia ini. Mendengar dengan telinga, kita tidak hanya sekedar mendengar, tetapi perasaan dan hati menyimak dengan segenap perhatian. Dalam menyimak, kita diharuskan banyak melihat, banyak mendengar dan sedikit berbicara. Semua alat panca indera itu adalah alat untuk membentuk seseorang menjadi cerdas.

Seperti kisah yang diceritakan oleh Pak Adib, suatu hari ada seorang gadis cantik yang sedang berbincang-bincang dengan ibunya tentang masalah jodoh. Di kisah itu, ibunya menuntut gadis cantik itu agar mencari calon suami dengan memperhatikan bibit, bebet, dan bobot. Lalu, gadis cantik itu bertanya pada ibunya apa saja bibit, bebet, dan bobot itu. Ibunya menjawab, “Pertama, kamu harus cari suami yang hemat!”, dan anaknya bertanya “kenapa harus hemat, bu?” dan sang ibu berkata, “hemat kan pangkal kaya, jadi kalau kaya kan kita hidup enak”. “Kedua, cari suami yang bodoh”, kata ibu. Sang gadis bertanya, “Loh, kok bodoh bu?”. Ibu menjawab, “supaya kamu bisa atur segalanya, nanti kan kamu jadi punya kekuasaan dan tidak dibodohi”. Sang gadis cantik itu bertanya lagi, “Trus yang selanjutnya apa bu?”, ibunya pun menjawab, “cari suami yang perjaka!”, jawab sang ibu dan gadis cantik itu pun setuju dengan nasihat dari ibunya itu.

Beberapa hari kemudian gadis cantik itu bercerita pada ibunya, “Bu, saya sudah menemukan laki-laki yang sesuai dengan kriteria yang ibu maksud itu”. Ibunya pun menjawab, “Oh ya? Coba ceritakan seperti apa dia?”. Sang gadis itu pun menjawab, “Saya dan dia bertemu tadi malam bu, dan dia mengajak saya ke salah satu hotel, lalu dia memesan satu buah kamar padahal kami berdua pergi kesana, bukankah dia orang yang hemat? Kedua, saat saya suruh dia membuka celananya, ternyata dia langsung membukanya di depan saya, bukankah dia orang yang bodoh? Ketiga, ternyata dia masih perjaka”. Sungguh betapa ruginya gadis tersebut.

Dari kisah tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa orang yang cerdas tapi licik tidak akan mencapai kesuksesan dan kebahagiaan. Namun jika kita menjadi orang yang cerdas dan bermoral mulia akan selalu menjadi orang yang bahagia dan sukses dalam segala hal. Kekayaan tidak akan menjamin kebahagiaan tetapi jika kita bisa menjadi orang yang cerdas dan bermoral mulia, kita tidak akan pernah menjadi orang yang rugi dalam hidup di dunia ini. Betapa hebatnya kampus Universitas Airlangga yang memiliki semboyan “Excellent with Morality” yang telah menjadi penuntun seluruh warga Universitas Airlangga agar menjadi orang-orang yang sukses dan bahagia dengan kecerdasan dan moral yang mulia. Dalam perkuliahan pada hari Rabu, 9 Oktober 2013, kami sangat beruntung sekali memperoleh ilmu pengantar antropologi dari Pak Adib yang telah membuka hati dan pikiran kita agar menjalankan semboyan Universitas Airlangga yang selama ini kita agungkan yaitu “Excellent with Morality” dengan tulus dan sungguh-sungguh.***


October 12th, 2013 at 1:08 am
Posted by Mohammad Adib in Introduction of Anthropology

OLEH: LATIFATUL FATIMAH (071311733017) S1 ANTROPOLOGI 2013. Hari pertama bersama dosen yang baru saya berpikir di ajar pak pujio sama pak adib lebih enak di ajar pak pujio, tepat pukul 14.25 beliau sudah datang sedangkan pak pujio pukul 13.15 baru datang, kelihatannya juga pak adib orangnya judes, tidak bertoleransi, galak, itu yang terlintas di pikiran saya pertama. Tetapi dugaan itu salah, ternyata lebih asyik di ajar pak adib. bapak Drs. H. Mohammad Adib, MA ternyata beliau adalah dosen yang ramah, lucu, tidak membosankan, beliau dalam menyampaikan materi pegantar Antropoogi lebih detail dan jelas. Pak adib memberikan contoh yang sangat mudah dipahami, beliau menggunakan contoh yang sekarang ada di sekitar kita dalam penyampaian materi itulah yang menjadikan saya paham dan lebih cepat mengerti apa yang disampaikan beliau. Bapak adib juga menanamkan mahasiswa antropologi untuk mengikuti motto universitas airlangga “excelent with morality” bahkan pak adib juga memberikan motto pada mahsiswa antropologi “cerdas, berakhlaq, mulia”. Continue Reading »


October 9th, 2013 at 8:50 am
Posted by Mohammad Adib in Introduction of Anthropology, Jatidiri and Characters

Oleh: GALUH TUHU RAHAYU, 071311733038, PRODI: ANTROPOLOGI SOSIAL. “Jargon yang dikeluarkan oleh Universitas Airalangga Surabaya “Excellent With Morality” adalah salah satu dari bentuk kebudayaan. Jargon tersebut dibentuk karena adanya pemikiran, gagasan atau ide yang terbentuk dalam proses interaksi yang dilakukan oleh seluruh lapisan pelaku yang terlibat dalam lingkuo Universitas Airlangga Surabaya. Jargon ini juga memiliki arti yang sangat kompleks, karena arti yang terkandung dalam jargon ini sangat berpengaruh bagi siapapun yang dinaungi oleh pemilik jargon tersebut.” “…Seseorang diwajibkan memiliki sebuah kepandaian dibidang apapun, gunanya tidak lain untuk mempertahankankan diri dari appaun yang dapat mempengaruhi keberadaannya. Akan tetapi kepandaian yang dimiliki seseorang tidak akan berguna jika miral atau kelakuan yang dimiliki tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat sekitar. Jadi kepandaian atau kecerdasan seseorang seharusnya dibarengi dengan adanya moral atau kelakuan yang dapat diterima oleh masyarakat sekitar, sehingga akan dapat terjadinya korelasi yang cukup baik antara individu dengan kelompok.” Continue Reading »