More than Just Nation and Character Building
September 20th, 2014 at 5:41 am
Posted by Mohammad Adib in Ethnography of Madura

http://1.bp.blogspot.com/-B6fXW0pv5KQ/T0NC9WiW75I/AAAAAAAAAM8/TZrZZc6LvcM/s1600/karakter-bangsa.jpgOleh Kelompok 7: Sholikah Putri Setianingrum 071311733029, Wingga Wahyu Ramadhan 071311733043. “……Perhatikan pikiranmu maka itu akan jadi kata-katamu, perhatikan kata-katamu maka akan menjadi kebiasaanmu, perhatikan kebiasaanmu itu berarti karaktermu dan karaktermu itulah masa depanmu (Adib 2011)….”

Manusia merupakan makhluk yang diciptakan dengan kesempurnaan yang nyaris sempurna, dan hal itulah yang membedakannya dengan makhluk lain. Perbedaan yang menjadikan manusia masuk dalam kandidat itu adalah kemampuan otak manusia yang sungguh luar biasa fungsinya,  menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi.17 September 2014 di gedung C lantai 2 ruang 201 merupakan pertemuan minggu ketiga mata kuliah Etnografi Madura yang pastinya dengan bimbingan Bapak Moh. Adib. Minggu ini topiknya cukup menarik karena dapat dikatakan telah “menjebol” suasana gabut para mahasiswa dengan ditandai semangat dan humor yang terjalin baik antara dosen dan mahasiswanya. Pada pertemuan sebelumnya tengah dijelaskan mengenai bagaimana orang-orang madura meski secara tidak keseluruhan namun kesan yang ada sudah menunjukkan bahwa orang-orang Madura identik keras, tegas, kalau “ngomong pake nada tinggi”dan lagi yaitu mudah sekali tersinggung. Hal tersebut lebih dekat disebut “watak, karakter” yang dibawa dari faktor genetik maupun pola asuhan dan lingkungannya. Kita semua tahu tentunya bahwa perkembangan bangsa ditandai oleh perubahan pola hidup masyarakatnya. Kepribadian merupakan hal yang melekat dalam diri manusia yang menjadi ciri dan lambang identitas individu. Kepribadian juga dapat berarti watak seseorang. Pola tingkah laku manusia merupakan cerminan dari kepribadiannya. Disela-sela feedbacknya Pak Adib menyerukan:

Perhatikan pikiranmu maka itu akan jadi kata-katamu, perhatikan kata-katamu maka akan menjadi kebiasaanmu, perhatikan kebiasaanmu itu berarti karaktermu dan karaktermu itulah masa depanmu (Adib 2011).

Jadi, seseorang dapat diketahui tabiatnya berawal dari bagaimana dia bertutur bahasa, bagaimana mengeskpresikan atau membawakan kata-kata. Orang Madura tidak seluruhnya berwatak keras, dan keras itu bukan berarti kasar. Stereotipe seperti itu bahkan hingga kini masih sering dan banyak dijumpai bukan hanya di pulaunya saja karena orang Madura juga banyak yang migrasi ke luar pulau jadi tidak memungkiri jika setiap orang yang bukan berasal dari mereka paham betul watak dan tabiat mereka. Apalagi bila dikaitkan dengan budaya asli Madura yang terkesan kejam yakni “carok”.

Carok adalah sebuah tradisi untuk mempertahankan sesuatu yang berhubungan dengan hargadiri serta jatidiri dengan mengandalkan kekerasan bisa dikatakan saling bunuh-membunuh hingga berujung kematian(Adib 2011).

Wah sungguh sangat mengerikan melihat hal semacam itu, namun tradisi seperti itu juga berniat agar tidak semena-mena dalam bergaul dengan orang-orang Madura. Kembali lagi pada bahasa, bahasa Madura sebagai bagian kearifan lokal (local wisdom) selain berfungsi sebagai media atau instrumen juga sebagai materi atau bahan untuk pembentukan kepribadian penggunanya. Terdapat tiga tendensi yang dimiliki oleh orang Madura yakni sopan, hormat, dan Islam(Adib 2011).  Kesopanan merupakan salah satu adat atau tradisi penting orang Madura. Kesopanan ini yang berkaitan dengan hubungan antar generasi, pangkat, jenis kelamin, baik secara sosial maupun pribadi. Mereka yang melanggar aturan ini akan dicemohkan dan mereka akan dibilang seperti orang yang tidak pernah ngaji, sehingga tidak tahu tatakrama kesopanan. Dikatakan bahwa semakin ketimur akan semakin halus tutur bahasanya dan semakin kebarat maka harus bersiap dengan mereka yang kasar, keras, dan seolah-olah lekas marah. Mengingat hal semacam itu dikarenakan bagian timur yakni Sumenep, Pamekasan adalah pemukim orang-orang bangsawan kerajaan sedangkan bagian barat dikatakan bangsa bringas tak tahu unggah-ungguh. Memandang Madura, baiksisikeislaman, keseniandankebudayaannyapadaakhirnyaadalahmemandang Indonesia baikkeislaman, keseniandancorakumumkebudayaannya. Pergumulanataudinamikaislam di Madura adalahpergumulankeislaman, keMaduraandanakhirnyajugake Indonesiaan. Apa yang menarikdaridinamika Islam di Madura adalahorientasikebudayaansuatumasyarakat yang sesungguhnyarelatifhomogenyaituorientasikeislaman di satusisidanorientasikemaduraan di sisi lain. Yang pertama sejauh mungkin mengacu pada sumber-sumber (kebudayaan) Islam dankeduamengacupadatradisi “Asli” Madura yang sterildaripengaruhkebudayaan Islam.Hal-hal diataslah yang terutama menjadi corak khas kepribadian masyarakat Madura.Yang terkenal  sebagai  daerah di Madura sebagai Gerbang Salam sekaligus bermasyarakat keras, tegas, dan ” caroknya”.

 

Refernsi:

Adib, M., 2011. ETNOGRAFI MADURA, Surabaya: PT JAVA PUSTAKA PRINTING.

http://daenggassing.com/2013/12/20/madura-5-orang-madura-tidak-kasar-mereka-hanya-keras/di akses pada tanggal 17 September 2014. 

 


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment