More than Just Nation and Character Building
September 23rd, 2013 at 12:22 am
Posted by Mohammad Adib in Ethnography of Madura

Oleh kelompok 5 Azizah Nur A (071017043),Eliana   (071211731080), Rifqi Augusta CH (071211732044), Basyarul Aziz (071211733022). Satu persembahan Pantun untuk Bapak Haji Muhammad Adib: Buka pintu tangga naik/Kalo masak pakai kecap sawit/ Meski Bapak Adib bukan bintang di langit/ Tapi cinta dan pengabdian Bapak Adib yan terbaik. “Kalau tidak super bukan Bapak Adib namanya lucu dalam berbahasa dan seperti stand up comedy sepertinya kali ini logat dalam pengucapan beberapa suku bangsa seperti suku bangsa Madura dengan huruf w luluh dengan huruf b yang kali ini Beliau menunjuk Mahasiswa dari Bondowoso. Husnul Khotimah. Husnul menyampaikan dengan logat bahasa Maduranya yakni : Bondobesa (Bondowoso) dan Bawean (Babien). Husnul sangat luar biasa karena hanya satu-satunya yang bisa menyampaikan Bahasa Madura. Bapak Adib juga membandingkan suku bangsa yang lain seperti suku bangsa Bali contoh yang huruf t vokalnya hilang seperti mati menjadi mathi. Suku bangsa yang lain Sunda yang tdak bias mengucapkan f tapi p seperti Fatimah menaji patimah. Begitu pengetahuan ini baru kami sadari, kami dan Mahasaiswa Antropologi semua tertawa.” “….yang dapat dipelajari pada episode kedua ini adalah jangan menjadi orang yang kerdil/sombong yang tidak menghargai orang lain. Dengan menghargai, sikap menjadi orang yang besar akan terbentuk.”

” Sekarang superhero butuh kekuatan seorang yang memiliki jiwa dan pribadi cerdas dan bermoral mulia untuk membantu mengisi kembali kekuatan yang hilang, Superhero tersebut memberikan kesempatan kepada team pertama, menjalankan tugasnya untuk meneropong geografi dan demografi Madura. Team pertama diberikan sebuah inti kehormatan excellent with morality untuk menambah kekuatan dalam melaksanakan tugasnya”

Mahasiswa Universitas Airlangga-Excelent With Morality, Mahasiswa Antropologi-Cerdas bermoral mulia. Hembusan semangat di minggu kedua makin terasa dengan dorongan dan pemberian pengetahuan oleh sang superhero. Sinar mentari pagi yang saat itu senantiasa menemani para Mahasiswa Antropologi yang sedang menunggu kehadiran sang Superhero. Bapak Muhammad Adib. Kehangatan kehadiaran beliau membuat mahasiswa terutama kelompok kami tidak sabar untuk memperoleh dorongan motivasi dan tentunya pengetahuan tentang Madura. Minggu kedua merupakan minggu dengan mengumpulkan tugas perdana yang menurut kelompok kami sangat super sekali dengan resume perdana dan makalah perdana yang kelompok kami mendapatkan sebuah kehormatan untuk mengemban tugas sebagai kelompok yang memahami sebuah bahasa Madura. Seperti biasa sang superhero ini selalu membagi angpau kenikmatan dalam menuntut ilmu agar barokah kepada Mahasiswa Antropologi dengan memulainya dengan membaca surat pembuka dalam kitab suci Al-Qur’an yang mempunyai faedah yang sangat luar biasa, dalam melakukan suatu kegiatan. Dalam angpau berlaku rumus SKB (Syarat dan Ketentuan Berlaku) hanya diberikan olehNya kepada siapa saja yang khusuk dalam menuntut ilmu. Dan hal tersebut selalu ditekankan oleh Bapak Adib dalam memulai suatu kegiatan mengajarnya. Dan kelompok kami merasakan faedahnya dalam mengikuti mata kuliah Etnografi Madura dengan nomor penerbangan SOA255. Senyum dan keramahan dari Beliau dan sebuah quote power setiap minggunya selalu memberikan pengetahuan baru bagi kami. Quote power tentang “kesehatan bukanlah segala-galanya tapi tanpa kesehatan semua tidak akan berarti” dan quote power yang kedua mengenai Gagasan bahwasannya ada empat kategori orang apabila dilihat dari ucapan/ tutur kata/ bahasanya yakni: (i) Orang besar → dikatakan orang besar jika ucapannya berisi tentang gagasan-gagasan, konsep-konsep serta teori-teori; (ii) Orang biasa → dikatakan orang biasa apabila ucapannya berisi tentang peristiwa-peristiwa( baik masa lalu, sekarang maupun masa yang akan datang); (iii) Orang kecil → dikatakan orang kecil apabila ucapan orang tersebut selalu membicarakan orang lain, dalam artian suka ngerasani, menggunjing, mengolok-olok, dll. (iv) Orang kerdil → dikatakan orang orang kerdil apabila ucapan orang tersebut selalu membicarakan tentang dirinya sendiri, → sombong, takabbur, arogan dll.

Kelompok kami sangat setuju dengan kategorisasi yang diberikan oleh Beliau dan yang diharapkan oleh Beliau bahwa Antropologi muda bisa masuk kategori Orang besar karena Antropologi muda kaya akan jiwa-jiwa muda dengan semangat muda dan gagasan-gagasan yang brilliant. Dan Bapak Adib tidak suka dengan orang kerdil dalam kategori sombong dan tidak menghargai orang lain karena membanggakan dirinya sendiri. Orang yang membanggakan dirinya sendiri nantinya akan jatuh pada lubang penyesalan, orang apabila mau dihargai mesti harus mampu menghargai orang lain. Kalau tidak super bukan Bapak Adib namanya lucu dalam berbahasa dan seperti stand up comedy sepertinya kali ini logat dalam pengucapan beberapa suku bangsa seperti suku bangsa Madura dengan huruf w luluh dengan huruf b yang kali ini Beliau menunjuk Mahasiswa dari Bondowoso. Husnul Khotimah. Husnul menyampaikan dengan logat bahasa Maduranya yakni : Bondobesa (Bondowoso) dan Bawean (Babien). Husnul sangat luar biasa karena hanya satu-satunya yang bisa menyampaikan Bahasa Madura. Bapak Adib juga membandingkan suku bangsa yang lain seperti suku bangsa Bali contoh yang huruf t vokalnya hilang seperti mati menjadi mathi. Suku bangsa yang lain Sunda yang tdak bias mengucapkan f tapi p seperti Fatimah menaji patimah. Begitu pengetahuan ini baru kami sadari, kami dan Mahasaiswa Antropologi semua tertawa.

Sekarang masuk sesi presentasi oleh tim pertama yang dipimpin oleh Kapten Polistha, Disertai rekan-rekannya Ignatius Rio, Angela Zahru dan lely nurullita, yang diberi kehormatan excellent with morality untuk menyampaikan hasil misi yang diemban selama satu Minggu yakni geografi dan demografi Madura. Dan kami merangkum beberapa point yang disampaikan oleh kawan kami tim pertama.

Geografi dan demografi madura (i) Lingkup fisik, (ii) Kependudukan dan emasyarakatan, Asal-usul penduduk / orang madura( pengaruh bagi karakter / kepribadian orang madura).

Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.168 km2, dengan penduduk hampir 4 juta jiwa. Pulau Madura bentuknya seakan mirip badan Sapi, terdiri dari empat Kabupaten, yaitu : BangkalanSampangPamekasan dan Sumenep. Madura, Pulau dengan sejarahnya yang panjang, tercermin dari budaya dan keseniannya dengan pengaruh islamnya yang kuat. Pulau Madura didiami oleh suku Madura yang merupakan salah satu etnis suku dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa.

Keadaan Geografis: Pulau Madura terletak di timur laut pulau Jawa, kurang lebih 7 derajat lintang selatan dari khatulistiwa di antara 112 derajat dan 114 derajat bujur timur. Luas keseluruhan wilayah madura kurang lebih 5.304 kilo meter. Pulau yang membujur dari barat ke timur ini mempunyai panjang 190 kilo meter dan lebar 40 kilo meter, Topografinya menunjukkan pulau Madura ini termasuk dataran rendah tanpa pegunungan dengan ketinggian rata-rata 2 sampai dengan 350 meter diatas permukaan laut. Kepulaun ini secara keseluruhan terdiri dari hampir 50 pulau berpenghuni maupun tidak berpenghuni.

Jumlah penduduk dimadura Bangkalan sebanyak 708.784 jiwa, Sampang sebanyak 613.921 jiwa, Pamekasan sebanyak 584.243 jiwa, Sumenep sebanyak 897.680 jiwa. Sehingga total keseluruhan penghuni pulau madura pada tahun 1974 berjumlah 2.804.628 jiwa.

Iklim  di Madura bercirikan dua musim, musim barat atau musim hujan selama bulan Oktober sampai bulan April, dan musim timur atau musim kemarau. Komposisi tanah dan curah hujan yang tidak sama di  lereng-lereng yang tinggi letaknya justru kebanyakan, sedangkan di lereng-lereng yang rendah malahan kekurangan membuat Madura kurang memiliki tanah yang subur.

Demografi: Mayoritas masyarakat Madura merupakan masyarakat agraris. Kurang lebih 90% penduduknya hidup terpencar-pencar di pedalaman, di desa-desa, di dukuh-dukuh, dan kelompok-kelompok perumahan petani. Pulau ini memiliki empat kota, dari barat ke timur berturut-turut yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Mata Pencaharian: Mata pencaharian penduduk Madura adalah bertani dan beternak. Akan tetapi hasil pertanian tidak dapat menghidupi seluruh penduduknya sehingga sebagian besar penduduknya bekerja sebagai pedagang, nelayan dan pembuat garam. Kurangnya kesuburan tanah dan pengairan yang tidak memadai, menyebabkan banyak penduduk Madura yang bermigrasi ke pulau Jawa dengan alasan utama untuk mencari nafkah.

Gambaran Umum Kota Sumenep: Sumenep (bahasa Madura: Songènèb) adalah sebuah kabupaten di propinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.093.45 km² dan populasi ±1 juta jiwa. Ibu kotanya ialah Kota Sumenep.

Gambaran Umum Kota Bangkalan: Kabupaten Bangkalan dengan luas wilayah 1.260,14 km2 yang berada dibagian paling barat dari Pulau Madura terletak diantara koordinat 1120 40′06″ - 1130 08′04″ Bujur Timur serta 60 51′39″ - 70 11′39″ Lintang Selatan.

Gambaran Umum Kota Sampang: Kabupaten Sampang terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan iklim tropis, musim penghujan biasanya terjadi pada Oktober sampai Maret, musim kemarau biasanya terjadi pada April sampai September.

Sampai akhirnya materi disampaikan dengan baik oleh team pertama. Saatnya Bapak Adib memberikan kesempatan bagi Antropologi Muda untuk bertanya dan menanggapi. Dan sampai final pertanyaan yakni Asal-usul penduduk/orang Madura. Hal ini terjawab sudah oleh Bapak Adib bahwa: (i) Pada masa (sekitar 900-1500 Masehi) pulau Madura berada pada pengaruh Kerajaan Jawa (Majapahit, Kediri); (ii) VOC (1600 Masehi), (iii) Asal-usul Madura berasal dari selat Malaka; (iv) Saat Perang Dunia I Negara berebut kekuasaan, selat Malaka menjadi tempat persinggahan bagi Negara yang mengalami revolusi industry; (v) Perompak (perampok di laut) yang di asingkan di pulau buruh. Yang menghasilkan kebudayaan perompak yang keras dan tidak mudah menyerah Karena itulah yang mempengaruhi watak dan juga kepribadian orang Madura.

Terima kasih kepada team pertama yang memberikan inspirasi kepada team yang lain sebelum melaksanakan tugas. Dan terima kasih kepada Bapak Haji Muhammad Adib yang telah berbagi angpau kepada Antropologi Muda. Dan yang dapat dipelajari pada episode kedua ini adalah jangan menjadi orang yang kerdil/ sombong yang tidak menghargai orang lain. Dengan menghargai, sikap menjadi orang yang besar akan terbentuk.***


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment