More than Just Nation and Character Building
November 28th, 2013 at 11:24 pm
Posted by Mohammad Adib in Ethnography of Madura

Oleh: Retno Puji Astutik (071211732036), Riska Dwi Yuniarti Pratiwi071211733042, Husnul Khotimah 071211732018 Annisa Wira Setyati071211732042. PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA. “…..Berdasarkan pemaparan panjang diatas, dapat simpulkan bahwa masyarakat Madura dalam menyikapi modernisasi tidaklah serumit yang kita pikirkan sebelum-sebelumnya. Pemikuran mereka cukup sederhana dan sangat bijak sekali. Mereka pada dasarnya ingin modernisasi itu, dengan catatan tidak menggangu gugat adat dan budayanya atau kearifan lokalnya yang berlandaskan nilai luhur dan agama. Ini juga dibutuhkan Madura yang selektif terhadap perubahan. Kepandaian filterisasi yang menuntun Madura untuk mencegah hal ini. Dan Madura menghendaki modernisasi, dengan syarat mereka harus dipersiapkan lebih baik dalam hal pendidikan dan kursus sektor informal untuk menghadapi pembangunan yang akan berlangsung di wilayah mereka. Masyarakat Madura tidak ingin jadi penonton belaka karena orang Madura dalam prinsipnya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan, karena time is money dan kesempatan tidak datang dua kali. Pendekatan emik menuntun kita pada kesimpulan keterbukaan Madura terhadap perubahan dengan adanya mindset yang modern atau yang mampu mengarahkan mereka pada kehidupan yang lebih baik dan rasionalitas materi.”
Alhamdulillah sampai saat ini, kita semua dikaruniai kesehatan oleh Allah SWT dan masih diberikan kesempatan lagi untuk menimba ilmu mengenai Etnografi Madura bersama pak Adib. Pada pagi yang cerah, semoga dapat membangkitkan semangat mahasiswa dalam menerima materi perkuliahan pada hari ini. Dengan keberuntungan berupa kesehatan dan kesempatan, manfaatkan peluang ini untuk menerima materi dengan baik dan mengikuti mata kuliah ini dengan pemikiran Excellent. Untuk mengawali perkuliahan, seperti biasanya pak Adib tidak lupa untuk memimpin do’a agar ilmu yang kita dapat bermanfaat bagi kita semua dan orang lain nantinya. Materi presentasi hari ini membahas tentang Modernisasi Sosial di Madura. Hal yang berkaitan dengan modernisasi di Madura adalah apa faktor pendorong dan penarik modernisasi dari dalam dan luar Madura. Apa bentuk atau wujud modernisasi di Madura dan bagaimana prediksi modernisasi di Madura.

Sebelum presentasi dilaksanakan dan sembari menunggu mahasiswa yang datang terlambat, pak Adib memberikan gambaran modernisasi yang telah merasuk pada sosial Madura, hal ini bisa jadi tanpa disadari oleh mereka. Dalam mengupas modernisasi di Madura, alangkah baiknya apabila kita analisa dan teliti ini dengan pendekatan emik. Hal ini menekankan, masyarakat Madura sebagai subyek dari mindset atau peta kognitif yang mereka miliki tentang ruang lingkup modernisasi. Salah satu parameter yang menjadi tolok ukur variabel modernisasi adalah pendidikan orang Madura. Namun, sebelum membahas lebih jauh tentang modernisasi sosial di Madura, terlebih dahulu kita kupas mengenai definisi dari modernisasi itu sendiri. Modernisasi adalah suatu perubahan keadaan yang kurang maju menuju keadaan yang lebih baik. Adapun faktor pendorong atau pendukung terjadinya modernisasi di wilayah Madura antara lain, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, tekhnologi, media, dll. Misalnya saja melalui pendidikan yaitu dibukanya lembaga pendidikan dari kelompok bermain yang disebut Paud (Pendidikan Anak Usia Dini) dan TK (Taman Kanak-kanak). Sedangkan pendidikan formal yang meliputi jenjang SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi di Madura dianggap sebagai aktor utama penggerak modernisasi. Sehingga adanya universitas ini, dapat menjadi indikator bahwa Madura telah peduli dengan dunia pendidikan. Misal dengan berdirinya Universitas Trunojoyo, tidak tanggung-tanggung, universitas ini menggebrak dunia pendidikan di Madura khususnya dengan mendirikan pendidikan dokter dalam naungan fakultas kedokteran.

Hal ini bila dihubungkan dengan folklore Madura, karena orang Madura sering menganggap pengobatan kesehatan akan lebih efektif dengan perantara injeksi atau suntikan. Oleh karena itu, tidak semua masyarakat Madura yang tahu tentang pengobatan medis kedokteran karena mereka lebih bertahan pada pengobatan tradisional. Namun, dewasa ini terlihat banyaknya profesi dokter yang diminati banyak kaum, hal ini membuat pemikiran orang Madura tentang pengobatan tradisional akan sedikit ditinggalkan, dan beralih pada keutamaan medis. Adapun fenomena yang terhangat yang diperoleh dari seorang Madura, bahwa ia akan maju pada suksesi pemerintahan pusat yang bergelar presiden itu. Nama yang disebut-sebut itu ialah Mahfud M.D yang mempunyai track record sebagai ketua MK. Beberapa contoh diatas, sedikitnya membuktikan bahwa perkembangan modernisasi di bidang pendidikan, berdampak positif bagi kemajuan mindset atau pola berpikir masyarakat Madura. Kesempatan ini juga akan menyingkirkan label luar Madura bahwa orang Madura tidak mengenal sekolah atau pendidikan. Bahkan Madura saat ini sedang berbenah diri dengan fokus pada kuantitas dan kualitas pendidikan masyarakatnya. Hal ini tercerminkan tidak lain agar terwujudnya kemajuan Madura yang lebih baik lagi.

Dari presentasi yang disajikan, tim presenter mengutarakan pemikirannya mengenai Modernisasi di Madura. Adapun hasil diskusi dari pertemuan ke sembilan ini antara lain:

Daftar Pertanyaan:

1) salah satu faktor pendukung modernisasi adalah masyarakat pendukungnya, sedangkan orang Madura yang memiliki kapasitas untuk berbuat perubahan didaerahnya, cenderung tidak kembali ke Madura dan memilih menetap di tempat yang memberikan kehidupan lebih baik. Bagaimana tanggapan anda tentang ini!

2) bagaimana pengaruh Suramadu sebagai produk modernisasi Madura, dilain sisi suramadu mengakibatkan pendapatan ekonomi dari usaha kapal penyeberangan Feri yang bisa dikatakan lumpuh?

3) berikan argumen anda tentang dampak negatif pembangunan suramadu bagi warga Madura sendiri yang merupakan etnik masyarakat berlandaskan nilai-nilai lokal!

Berikut akan diberikan pemaparan jawaban dari pertanyaan tersebut, yang berbentuk narasi dan hasil ini sesuai dengan apa yang ada pada proses diskusi.

Dalam menanggapi permasalahan pada poin satu, kelompok ini berpandangan bahwa fenomena yang telah dicontohkan adalah gejala yang biasa terjadi pada masyarakat kita. Kesuksesan bisa membuat seseorang bertahan pada tempat yang memberikan kesuksesan itu, atau bahkan pulang ke kampung halaman, walaupun pada kemungkinan kedua ini sangat sulit didapat. Jadi, sah-sah saja bila seorang Madura yang tidak kembali dari perantaunnya. Pasti ada alasan-alasan tertentu ia melakukan pilihan itu.

Dalam membuat keputusan untuk membangunan jembatan suramadu, tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, pastilah banyak pertimbangan yang melatar belakanginya. Sama halnya dengan pemikiran masyarakat yang punya hak dalam ini semua yakni Madura. Segala yang menyangkut suramadu menuai banyak pro dan kontra dikalangan masyarakat Madura. Dulu masyarakat Madura menolak keras rencana pembangunan jembatan suramadu yang menghubungkan pulau Madura dengan Surabaya. Pola pemikiran lokal yang mendasari masyarakat Madura menolak pembangunan jembatan suramadu, dengan kekhawatiran yang sama dengan masyarakat Batam dengan jembatan Barelangnya. Hal yang dikhawatirkan ialah jembatan ini akan mengantarkan nilai-nilai asing yang masuk pada sosialnya. Sehingga keteraturan nilai-nilai lokal akan memudar dan berganti dengan nilai baru yang menyimpang. Sejalan dengan berjalannya waktu, sekarang masyarakat Madura sudah membuka pola berpikirnya untuk menerima pembangunan di Madura. Hal ini karena adanya badan pengembangan wilayah suramadu (BPWS) yang mengupayakan pemberdayaan masyarakat sekitar suramadu sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Dampak positif pembangunan jembatan suramadu sendiri ialah adanya para pedagang yang berjualan baju, aksesoris, dan makanan khas Madura disekitar pinggir jalan setelah melalui jembatan suramadu. Disisi lain suramadu bukan menghasilkan banyak pedagang kaki lima yang berjualan dipinggir jalan, melainkan masalah modernisasi sendiri belum terselesaikan dengan baik. Dampak positif yang lain yaitu masuknya industrialisasi. Dampak negatif yang ditimbulkan modernisasi di Madura yaitu pergeseran nilai-nilai carok dan karapan sapi. Dengan adanya model-model sosial dan nilai-nilai itu bergeser atau pindah ke sektor pariwisata. Oleh sebab itu, hal ini dikembangkan melalui sektor pariwisata dan menghilangkan nilai-nilai ritual yang negatif dari carok dan karapan sapi tersebut. Inilah yang menyebabkan esensi dari budaya Madura yang hilang tergerus nilai-nilai asing yang masuk, karena faktor mobilitas dan transformasi yang begitu cepat dengan adanya jembatan penghubung ini.

Adapun tambahan jawaban dari mahasiswa excellent mengenai modernisasi di Madura ini. Ia mengungkapkan bahwa modernisasi adalah salah satu bentuk dan produk kebudayaan. Namun, tidak semua orang menerimanya, karena pada faktanya tidak jarang dari mereka yang menolak bahkan apatis atau acuh dengan itu semua. Aksi penolakan ini juga harusnya punya alasan yang rasional, hal dominan yang mendasari ini adalah loyalitas pada tradisi dan budaya. Namun, ia setuju dengan Madura sekarang yang lebih menekankan pada pendidikan anak agar tercapai cita-cita mereka.

Berdasarkan uraian diatas, dari segi penerimaan budaya secara teoritis dapat dibagi menjadi tiga kategori ada yang menerima, menolak dan apatis. Menerima jika budaya itu baik dan dapat dikembangkan dengan baik pula. Menerima dalam artian tidak menerima begitu saja suatu kebudayaan, tetapi menyaring atau menyeleksi suatu kebudayaan yang tepat sesuai dengan nilai-nilai adat bangsa ini. Menolak jika suatu kebudayaan menyimpang dari nilai-nilai budaya bangsa ini, atau menganggap bahwa apa yang dilakukan sudah lama menjadi tradisi. Bersikap apatis kurang lebih acuh tak acuh dalam menerima dan menolak suatu kebudayaan.

Adapun pernyataan tambahan lain yang menurut kami sangat excellent, mahasiswa ini mengatakan bahwa setelah adanya fisik suramadu yang sekarang dapat kita lihat dan manfaatkan, ada pertanyaan terselip didalamnya. Dapatkah orang Madura benar-benar menerima Suramadu dan siap dengan keterlibatan asing dan swasta yang tentunya membawa nilai-nilai yang bersimpangan dengan nilai budaya Madura??

Modernisasi Sosial Madura

Konsep dan definisi

Konsep modernisasi seringkali menggunakan parameter fisik atau kebendaan. Ukuran itu pula yang mengawali langkah kita untuk melihat modernisasi yang ada di Madura. Namun, selain ukuran fisik yang tidak kalah pentingnya ialah ciri-ciri nonfisik atau mental. Kajian inilah yang hakekatnya menjadi objek pengamatan dan penelitian antropolog muda yang kemudian disajikan dalam bentuk etnografi sebagai wujud interpretasi hasil analisa emik yang digunakan. Ciri-ciri fisik modern yang tampak di Madura saat ini misalnya jembatan suramadu, akomodasi hotel-hotel berkualitas, sarana transportasi, sekolah-sekolah yang sudah tersedia sejak PAUD dan perguruan tinggi serta sarana-prasana lain. Ciri-ciri non-fisik modernisasi Madura, berdasarkan definisi modern itu sendiri menurut Alex Inkelles yakni tentang mindset (cara berpikir) masyarakatlah yang menjadi ukuran modern atau tidaknya suatu kaum. Terkait dengan hal ini, indikator yang muncul adalah tingkat pendidikan dimana pada masyarakat Madura menggunakan ukuran CALISTUNG (kemampuan baca, tulis, dan hitung) dalam menklasifikasi masyarakatnya dalam bidang pendidikan. Tingkat pendidikan ini diyakini berbagai pihak sebagai faktor pendukung yang menggerakkan perubahan suatu kaum untuk lebih mengenal dan merasakan kesejahteraan.     Dilain sisi, memang masyarakat ini percaya pada ilmu pengetahuan dan tekhnologi terkait dengan variable dan mitologi (mitos). Ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterima masyarakat Madura tentunya yang sesuai dengan kebutuhan sosial ekonominya, misal saja berkenaan dengan teknologi pertanian, yakni dengan diterapkannya sistem diversifikasi pangan yang cocok dengan tanah Madura. Penyediaan pangan harus memiliki standart tekhnologi yang telah ditetapkan ISO atau BPOM dan tidak kalah pentingnya pendidikan yang berkualitas agar kita tidak menjadi konsumen yang memasok bahan pangan dari luar, oleh sebab itu harus diterapkan lahan khusus untuk ini. Di bidang kesehatan, misalnya dibukanya fakultas kedokteran di Universitas Trunojoyo Madura. Hal ini juga tidak lepas dari kebutuhan petugas medis dan dokter di Madura yang cukup tinggi dan juga berperan mengubah paradigma orang Madura di Madura mengenai pentingnya pengobatan medis dibanding tradisional atau jasa dukun. Contoh real lain adalah jembatan suramadu juga tidak dapat terealisasikan tanpa adanya ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang memadai.

Demi terwujudnya kesejahteraan yang baik , tingkat pendidikan memiliki kualifikasi dengan indikator baca, tulis, hitung, Mengingat tingkat buta huruf penduduk di Madura cukup tinggi. Misalnya kabupaten Bangkalan, angka jumlah buta huruf penduduknya 157.228 dari 829.700 jumlah penduduknya. Sampang 173.938 dari 803.866 jumlah penduduk, Pamekasan 107.917 dari 733.851 penduduk dan Sumenep 233.447 dari 969.932 jumlah penduduknya. Dari data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik tahun 2010 ini dapat dikemukakan suatu kesimpulan. Data tersebut menunjukkan bahwa angka buta huruf dapat dikatakan masih tinggi, namun kita tidak bisa mengatakan naik atau turun tingkat buta huruf yang ada karena tidak adanya data pembanding. Prosentase yang diperoleh dari akumulasi mengenai besar prosentase angka buta huruf pada tiap-tiap kabupaten di Madura antara lain, Bangkalan sebesar 19%, Sampang 21%, Pamekasan 14%, dab Sumenep 24%. Ini menunjukkan kabupaten Sumenep memiliki angka buta huruf yang paling tinggi, hal ini bisa disebabkan karena penduduk kabupaten ini paling padat sehingga belum cukup tersedia sarana prasana belajar yang baik ataupun program pemerintah mengenai pengentasan pendidikan didaerah ini yang kurang tersampaikan dan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi. Sedangkan jumlah buta huruf nasional sebesar 4.077.416 jiwa dari jumlah penduduk yang ada (BPS, 2010).

Apabila melihat kualifikasi lebih jauh lagi mengenai manusia modern secara kognitif misal kualifikasi ASEAN yang mengutamakan kualitas SDM terutama pendidikan yang telah terstandasdisasibaik nasional atau internasional. Orang-orang indonesia yang bisa dikatakan profesional dibidangnya misal kesehatan, pada nyatanya tidak laku pada pasaran internasional dan tidak anggap bermerk, hanya dikarenakan soal lisensi atau standar yang harus dipenuhi sesuai dengan bidangya masing-masing (standar ISO, SNI).

Hal lain yang menyebabkan Madura kurang fokus dengan pendidikan, alhasil dapat menyumbang angka buta huruf Madura ialah adanya suatu kebiasaan pola menikah dini dikalangan Madura. Ini menyebabkan, kaum muda tidak dapat kesempatan untuk belajar lebih tinggi lagi agar dapat memperbaiki hidupnya dan keluarga. Ini melahirkan sebuah fenomena bahwa pendidikan tabu untuk kehidupan mereka dan hanya menjadi sarana transfer nilai-nilai yang dianggap berbahaya, maka harus dijauhi.

Pada bahasa selanjutnya, dimulai dengan sebuah pertanyaan, mengapa orang Madura menolak Suramadu yang pada sisi fungsionalnya harusnya berperan vital dalam bidang ekonomi khususnya? Pada intinya, masyarakat Madura sangat arif dan bijaksana dalam menyikapi persoalan tentang suramadu dan dampaknya nanti. Berbagai macam industri besar yang nantinya akan dibangun di Madura, baik itu pabrik semen, garmen, permen atau apapun itu, pada saatnya tidak akan mampu berperan dalam menyerap tenaga kerja orang Madura sendiri. Hal ini dikarenakan masyarakat Madura belum mampu untuk mengerjakan itu semua karena keterbatasan skill dan pendidikan yang dimiliki. Dan apabila hal ini, tidak menjadi perhatian dan pembangunan tetap berjalan, maka suramadu tidak akan ada fungsinya. Pada dasarnya orang Madura tidak mau hanya menjadi penonton sebuah aksi perubahan besar yang dapat mendongkrak ekonominya, ini berkaitan dengan Madura yang ulet, etos kerja tinggi, kemauan keras, pantang menyerah dan sisi enterpreneurnya yang tidak diragukan lagi. Oleh karena itu, alangkah lebih baik, jika SDM Madura disiapkan dengan baik melalui pendidikan agar semuanya berfungsi sebagaimana mestinya. Ada sebuah perupamaan, bahwa modernisasi bagaikan sebilah pisau ataupun sebuah pistol. Pisau atau pistol sebagai model dari modernisasi akan berfungsi dengan baik apabila penggunanya paham dan mengerti cara dan ciri benda yang digunakan. Dan juga bisa berbahaya dan membunuh, apabila penggunanya ceroboh dan tidak tahu fungsi dan posisi strategis benda itu. Jadi, modernisasi akan berjalan dengan baik dan fungsional, tergantung bagaimana masyarakat pendukung, pemerintah dan swasta paham dengan baik tentang kedudukan dan peran masing-masing tanpa menyalahi aturan atau tumpang tindih kepentingan.

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan panjang diatas, dapat simpulkan bahwa masyarakat Madura dalam menyikapi modernisasi tidaklah serumit yang kita pikirkan sebelum-sebelumnya. Pemikuran mereka cukup sederhana dan sangat bijak sekali. Mereka pada dasarnya ingin modernisasi itu, dengan catatan tidak menggangu gugat adat dan budayanya atau kearifan lokalnya yang berlandaskan nilai luhur dan agama. Ini juga dibutuhkan Madura yang selektif terhadap perubahan. Kepandaian filterisasi yang menuntun Madura untuk mencegah hal ini. Dan Madura menghendaki modernisasi, dengan syarat mereka harus dipersiapkan lebih baik dalam hal pendidikan dan kursus sektor informal untuk menghadapi pembangunan yang akan berlangsung di wilayah mereka. Masyarakat Madura tidak ingin jadi penonton belaka karena orang Madura dalam prinsipnya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan, karena time is money dan kesempatan tidak datang dua kali. Pendekatan emik menuntun kita pada kesimpulan keterbukaan Madura terhadap perubahan dengan adanya mindset yang modern atau yang mampu mengarahkan mereka pada kehidupan yang lebih baik dan rasionalitas materi.

Pada kesempatan terakhir, Perkuliahan diakhiri dengan pembacaan do’a oleh pak Adib, semoga perkuliahan ini barokah dan mendapatkan berkah yang berlimpah dari Allah SWT, amin. Diakhir perkuliahan, pak Adib menyelipkan ungkapan yang menginggatkan kepada mahasiswanya untuk bisa menjaga diri agar tetap menjaga nama baik diri sendiri, keluarga, dan Universitas Airlangga. Semoga saja kita semua menjadi pribadi-pribadi yang berguna bagi nusa bangsa dan agama. Serta dapat membahagiakan dan membanggakan kedua orang tua dengan mengikuti perkuliahan yang rajin, rajin datang tepat waktu dan rajin mencatat hasil perkuliahan yang dijelaskan, sehingga bisa lulus S1 Antropologi tepat waktu. Amin…


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment