More than Just Nation and Character Building
December 6th, 2015 at 11:15 pm
Posted by Mohammad Adib in Ethnography of Madura

Sate Ayam MADURAOleh: Mentari Agustin Alif  (07141173-3002), Iqke Putri Rahmasari  (07141173-3006), Elsyahfira Nabilla A (07141173-3007), Mochammad Ressa A (0714117-33016), dan Putri Darmayanti (07141173-3024).  “……Setelah para presenter menjawab ketiga pertanyaan Pak Adib mengajak kami semua untuk berdiri dan berfoto bersama terlebih dahulu disela-sela jam berakhirnya mata kuliah Etnografi Madura di saat pertemuan terakhir dikelas. Selanjutnya presenter kembali ketempat duduk dan Pak Adib memberikan masukan (feedback) serta menganalisis tiap-tiap materi yang sudah dipresentasikan didepan kelas dan menambahkan jawaban dari presenter untuk pertanyaan dari teman-teman dan yang terakhir Pak Adib memutarkan sebuah video yang diambil dari youtube tentang “pernikahan dini di masyarakat Madura”. Video tersebut adalah acara sudut pandang dari rmetro tv yang di bawakan oleh Fifi Aleyda Yahya dan salah satu bintang tamu atau pembicaranya adalah Bapak Adib selaku dosen Etnografi Madura. Kami menyaksikan video tersebut dikalas dengan durasi sekitar tiga menit. Setelah kami menyaksikan video Pak Adib mengajak kami semua untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing sebagai penutup pertemuan hari ini. Singkat kata, pertemuan terakhir pada mata kuliah Etnografi Madura kali ini ditutup dengan suguhan manis berupa video yang didalamnya tersebut terdapat Pak Adib yang diundang sebagai tamu dalam salah satu program acara di Metro TV. Tentu sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami selaku mahasiswa beliau melihat beliau dapat tampil di tv dengan membawa nama baik almamater sekaligus program studi Antropologi itu sendiri.” Sisi Lain Ikon Kebudayaan Madura, dari Sate sampai Tari.pdf

Pada Kamis tepatnya 3 Desember 2015 adalah pertemuan pertama kami di Desember sekaligus pertemuan terakhir kami pada kuliah Etnografi Madura. Sebelum mata kuliah dimulai, pak Adib terlebih dahulu membuka pertemuan kali ini dengan berdoa bersama. Setelah berdoa, pak Adib memulai mata kuliah Etnografi Madura dengan melanjutkan presentasi yang sudah dijadwalkan minggu sebelumnya. Pada hari ini yang maju presentasi didepan kelas adalah materi tentang Kesenian Tari Madura, Tarung (Ojhung), dan Sate Madura. ini adalah presentasi terakhir dikelas, ketiga teman kami atau presenter yang presentasi hari ini adalah Agus Supriyanto yang mempresentasikan tentang Kesenian Tari Madura, kemudian Erha Munir yang mempresentasikan tentang Tarung (Ojhung), dan yang terakhir Dzaka Nur yang mempresentasikan tentang Sate Madura.

Presentasi pertama dimulai dengan topik kesenian tiga tari Madura yang dibawakan oleh Agus. Kesenian tari Madura yang di tampilkan dalam slide power point presenter terdapat tiga jenis tarian Madura yaitu tari muang sangkal, tari topeng gethak, dan tari rondhing. Tari Muang Sangkal dimengerti sebagai bentuk tarian yang bermakna membuang sial atau membuang kesusahan. Gerakan tari yang menyimbolkan membuang sial ini adalah pada saat si penari yang membawa mangkok kecil yang berisikan bunga-bunga yang mana kemudian bunga-bunga tersebut disebar-sebarkan saat tarian tengah berlangsung. Tari Muang Sangkal ini biasa dipertunjukkan dalam rangka menyambut tamu dan dilakukan dikeraton Madura. Tidak semua orang bisa dan boleh menarikan tarian muang sangkal. Hanya perempuan yang masih gadis / perawan saja yang boleh menarikan tarian muang sangkal, itu pun seorang penari harus dalam keadaan suci atau sedang tidak haid. Menari tarian muang sangkal tidak diperbolehkan berpasangan dengan laki-laki karena menjaga kesucian, maka dari itu para penari tarian mang sangkal adalah para gadis/perawan saja. Untuk jumlah penari dalam tarian muang sangkal harus ganjil tidak boleh genap misalnya 3, 5, atau 7 penari. Kostum dari para penari muang sangkal sangat mencolok yaitu warna merah dan kuning. Gerakan tari Muang Sangkal sendiri di awal yakni gerakannya sedikit cepat lantas tidak lama kemudian gerakan tarian tersebut melambat dengan sendirinya. Gerakan tarian sangkal melambat dikarenakan menyesuaikan dengan langkah tamu yang disambut. Selanjutnya presenter menjelaskan tentang tari topeng gethak. Tari topeng gethak adalah tari klonoan yang diubah oleh Parso Adiyanto saat masih menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta ( STKW ). Tarian topeng gethak berasal dari pamekasan ini tidak bisa dipisahkan dari ludruk. Tari topeng gethak ditetapkan oleh pemerintah kabupaten pamekasan sebagai tarian khas oleh kabupaten setempat. Tarian ini mengandung makna mengumpulkan massa yang dimainkan oleh satu hingga tiga penari. Tari gethak juga mengandung filosofis pejuangan warga pamekasan saat memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Dan yang ketiga presenter menjelaskan tentang Tari Rondhing. Tari Rondhing adalah tari komedian tradisional yang menggambarkan baris berbaris berasal dari Pamekasan Madura. Tarian Rondhing ditampilkan saat penyambutan tamu penting/pelantikan pengurus organisasi. Penari berjumlah enam orang dan seluruhnya adalah gadis remaja. Para penari gadis remaja dikarenakan seorang gadis jika menari gerakannya lemah lembut dan gemulai.

Pada presentasi yang kedua presenter menjelaskan topik tentang ojhung (tarung) yang dibawakan oleh Erha Munir. Ojhung adalah suatu pertarungan, permainan atau suatu tarian perang yang dimainkan oleh dua orang pria bertelanjang dada dengan tongkat yang berasal dari rotan. Selain sebagai permainan tradisional yang sudah turun temurun dilakukan masyarakat madura, ojhung juga dilakukan sebagai ritual permohonan turunnya hujan kepada Tuhan. Perlengkapan yang digunakan saat dilakukannya ojhung adalah tongkat rotan, penutup kepala, baju zirah untuk pinggang atau biasa disebut stagen dan yang terakhir adalah pembalutan untuk lengan. Dalam sekali pertandingan terdapat tiga ronde, tiap ronde para petarung harus berusaha sebanyak-banyaknya melakukan pukulan rotan ke tubuh lawannya. Tiap luka yang timbul akan segera diberi tanda oleh kedua orang yang bertugas. Setelah tiga ronde berakhir, peserta yang menyabetkan luka paling banyak dinyatakan sebagai pemenang. Dalam permainan ojhung ini tidak ada batasan usia, hanya ada batasan berat badan karena sebelum melakukan permainan ojhung para pemain di timbang dahulu berat badannya. Dan yang paling utama adalah ojhung hanya boleh dilakukan atau dimainkan oleh laki-laki saja tidak boleh dilakukan oleh perempuan. Setelah permainan atau pertandingan ojhung selesai, kedua ara pamain saling berpelukan dan bersalaman guna menandakan bahwa tidak ada dendam diantara mereka karena ini hanya sebatas permainan saja. Dan untuk luka dibadan akan diberi obat hingga sembuh, tetapi biasanya para pemain ojhung mempunyai doa / kekuatan tersendiri sehingga ketika usai melakukan permainan ojhung tidak perlu pengobatan lebih lanjut oleh tim medis dapat sembuh dengan sendirinya.

Kemudian presentasi yang terakhir adalah tentang Sate Madura yang dibawakan oleh Dzaka. Pada presentasi ini presenter menjelaskan tentang tata cara pembuatan sate madura, bahan-bahan yang digunakan saat membuat sate madura, serta perbedaan bumbu sate madura dengan bumbu sate daerah lainnya. bahan-bahan yang diperlukan adalah fillet ayam, jeruk limau, bawang merah, bumbu kacang, dan kecap manis. Untuk cara pembuatan sate madura adalah fillet ayam dipotong dadu lalu tusuk dengan tusukan sate dan berikan/ lumuri 1 buah jeruk limau. Setelah itu untuk pembuatan bumbu sate madura yang diperlukan adalah bawang merah, bawang putih, kacang tanah digoreng, kemiri, garam secukupnya, air kaldu, dan minyak goreng. Untuk pembuatan bumbu kacang yaitu campurkan bahan seperti bawang putih, bawang merah, kacang tanah, garam, dan juga kemiri, kemudian dihaluskan. Lalu panaskan minyak, kemudian ditumis hingga tercium bau harum, masukkan air kaldu dan selanjutnya masak sampai mengental lalu angkat. Tahap berikutnya campurkan dua sendok makan bumbu kacang dengan ditambah dua sendok makan kecap manis, lalu celupkan sate, kemudian bakar hingga matang dan Sate Madura pun siap untuk disantap. Perbedaan bumbu sate madura dengan bumbu sate daerah lainnya terletak pada bumbu kacang nya yang khas. Bumbu kacang terbuat dari kacang tanah yang digoreng dan jeruk limau serta air kaldu dan minyak goreng. Itu yang membuat cita rasa tersendiri Sate Madura sehingga lezat untuk dinikmati. Tak heran menjual sate madura dapat menjadi ladang bisnis tersendiri bagi para penjual nya, menjual Sate Madura dapat dibilang pekerjaan yang menjanjikan dan rupiah yang dihasilkan tidak sedikit.

Setelah ketiga teman kami selesai melakukan presentasi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Kemudian beberapa dari teman-teman memberikan sebuah pertanyaan kepada presenter dan kemudian ketiga presenter menjawab pertanyaan. Setelah para presenter menjawab ketiga pertanyaan Pak Adib mengajak kami semua untuk berdiri dan berfoto bersama terlebih dahulu disela-sela jam berakhirnya mata kuliah Etnografi Madura di saat pertemuan terakhir dikelas. Selanjutnya presenter kembali ketempat duduk dan Pak Adib memberikan masukan (feedback) serta menganalisis tiap-tiap materi yang sudah dipresentasikan didepan kelas dan menambahkan jawaban dari presenter untuk pertanyaan dari teman-teman dan yang terakhir Pak Adib memutarkan sebuah video yang diambil dari youtube tentang “pernikahan dini di masyarakat Madura”. Video tersebut adalah acara sudut pandang dari rmetro tv yang di bawakan oleh Fifi Aleyda Yahya dan salah satu bintang tamu atau pembicaranya adalah Bapak Adib selaku dosen Etnografi Madura. Kami menyaksikan video tersebut dikalas dengan durasi sekitar tiga menit. Setelah kami menyaksikan video Pak Adib mengajak kami semua untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing sebagai penutup pertemuan hari ini. Singkat kata, pertemuan terakhir pada mata kuliah Etnografi Madura kali ini ditutup dengan suguhan manis berupa video yang didalamnya tersebut terdapat Pak Adib yang diundang sebagai tamu dalam salah satu program acara di Metro TV. Tentu sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami selaku mahasiswa beliau melihat beliau dapat tampil di tv dengan membawa nama baik almamater sekaligus program studi Antropologi itu sendiri.***


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment