More than Just Nation and Character Building
May 22nd, 2014 at 12:33 am
Posted by Mohammad Adib in Etnografi Bangsa-Bangsa

Oleh : Abdullah (071012014), Hamargo Panguwuh (071211233003), Muhammad Rizal Nugroho (071211233033), Valentinus Deeshandio Pamedar Jati (071311733055). Walaupun pada hari ini tanggal 21 Mei 2014 merupakan kuliah pengganti, akan tetapi semangat masih terpancar dalam raut muka mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Etnografi Bangsa Bangsa. Pada minggu yang lalu, teman kita yang beragama Budha sedang merayakan hari raya Waisak yang jatuh pada kamis lalu. Etnografi Bangsa Bangsa merupakan mata kuliah yang selalu dinanti-nantikan karena topic yang dibahas dalam mata kuliah ini tidak pernah membosankan. Setiap minggu selalu topic yang baru yang selalu dibahas dalam pembicaraan. Pada minggu ini, kelompok yang akan melaksanakan presentasi adalah 7A dan 7B dan akan membahas tentang Etnografi Bangsa Bangsa. Tetapi semangat kelompok 7B lebih berkobar daripada kelompok 7A. Pelaksanaan mata kuliah ini berada di Ruang A 313 . Dan yang mengisi mata kuliah kali ini adalah Pak Adib, yang merupakan dosen Excellent kebanggan Universitas Airlangga.

           Di kawasan Afrika Utara kebanyakan di huni oleh suku Bangsa Berber, akan tetapi para ahli masih memperdebatkan bagaimana mengelompokkan bangsa arabdan bangsa Berber di Afrika Utara. Sebagaian ingin memasukkannya kedalam ras Eropa namun masih di pertentang. Jumlah bangsa Arab sekarang sekitar 80 juta. Mereka berdiam di Mesir, Sudan, dan di sepanjang pantai Laut Tengah. Bangsa Berber menghuni daerah Barat Laut Tengah Afrika semenjak jaman prasejarah. Jumlah sekitar 20 juta. Mereka terutama tinggal di negara Aljazair dan Maroko. Bangsa Arab dan Berber merupakan kelompok etnis utama di Afrika Utara.

Sementara ada pula kelompok atau etnis lain yang berdiam di kawasan Afrika Utara antara lain bangsa-bangsa yang berasal dari Eropa. Bangsa Eropa pada waktu itu pernah melakukan kolonialisme antara lain Prancis, Jerman, dan Inggris.

            Daerah Afrika Utara telah maju kebudayaannya semenjak beberapa ribu tahun sebelum Masehi , seperti Mesir (sejak sebelum 3.000 SM) yang dipimpin oleh raja-raja Firaun (Farao). Kemudian Mesir dan Afrika Utara di daerah Maghribi mendapat pengaruh dari budaya Yunani, Romawi, dan Islam; khususnya pengaruh Islam sangat kuat di Mesir, Sudan dan daerah Sahara. Orang Romawi mendirikan koloni-koloni di pantai bagian utara, sesudah Kartago jatuh (149 SM). Kemudian orang-orang Arab yang menyerbu Afrika pada abad ketujuh dan keseblas membawa ajaran dan kebudayaan Islam. Suku-suku bangsa yang beragama Islam dan terutama Eropah dalam beberapa gelombang; penyerbuan-penyerbuan ini berhenti dalam abad kelima belas.

            Penduduk terbagi menjadi dua, yaitu pedesaan dan perkotaan. Kurang lebih separuh penduduk Afrika Utara berdiam di pedesaan. Meraka memelihara ternak atau bertani, kebanyakan pekerjaan dilakukan dengan tangan. Ribuan penduduk tidak mempunyai tanah dan harus menyewa sebidang kecil tanah.

            Beberapa kelompok pengembara, seperti Badui, memelihara unta, kambing dan domba di Sahara. Kebanyakan wilayah Afrika Utara pernah dihuni bangsa Badui. Dongeng-dongeng Arab pernah berisi cerita tentang pengembaraannya. Kini mereka menghuni kurang dari 10 persen wilayah tersebut. Mereka mengembara antara musim panas dan dingin sambil menggembala ternak. Kemah tempat tinggalnya di tenun dari bulu binatang.

            Hasil-hasil pertanian penduduk Afrika Utara adalah kurma, singkong, ubi rambat, dll. Sementara hasil perkebunannya adalah kopi, kelapa, coklat, kampas. Dan hasil penjualan jenis tanaman ini dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti untuk membeli membeli sepeda, makanan kaleng, pakaian, minyak lampu, dan korak api. Upacara-upacara yang sering diadakan diadakan di desa meruapakan satu bagian penting dari kehidupan pedesaaan. Kegiatan ini diadakan berkenaan dengan peristiwa seperti hujan pertama dalam musim hujan, saat menanam, atau saat menuai panenan.

            Dalam kebudayaan Afrika, kaum wanita seringkali tidak dapat menanyakan pasangan mereka mengenai skandal asmara, tidak dapat menolak kontak seksual, atau tidak dpat menyarankan kebiasaan seksual yang aman. Kepercayaan budaya seringkali mencerminkan ketidaktahuan dan penyangkalan mengenai AIDS. Misalnya, mempersalahkan ilmu sihir atas penyakit itu, dan pertolongan bisa didapat dari dukun.

            Sektor pertanian menyumbangkan 17% perekonomian negara Mesir. Meskipun didominasi wilayah gurun, namun Mesir mendapatkan berkah dari adanya aliran Sungai Nil yang menyuburkan kawasan lembah dan deltanya. Mesir terkenal sebagai penghasil kapas, gandum, kurma, zaitun, dan serat papyrus (bahan baku kertas). Seiring dengan dibangunnya proyek raksasa bendungan Aswan, maka pertanian Mesir semakin maju. Saat ini produk pertaniannya semakin berkembang dengan menghasilkan berbagai jenis buah – buahan, sayuran, padi, tebu, dan rumput-rumputan untuk makanan ternak.

            Selain sebagai petani, masyarakat tradisional Mesir juga banyak yang hidup dari beternak secara nomaden. Jenis hewan ternak yang dikembangkan secara tradisional adalah domba, biri – biri, dan unta. Salah satu dampak pembangunan bendungan Aswan adalah mampu mendukung kegiatan peternakan, sehingga saat ini banyak peternak yang mulai mengembangkan ternaknya dengan cara – cara modern. Adapun perikanan dibedakan atas perikanan laut dan perikanan darat. Perikanan laut banyak diusahakan di perairan Laut Merah dan perairan Laut Tengah, sedangkan perairan darat banyak diusahakan di Sungai Nil dan di kawasan bendungannya.

            Dengan mengetahui etnografi tentang Afrika Utara, kita dapat memahami sedikit gambaran umum tentang budaya mereka. Sebagai seorang Antropolog memang sudah tugas kita untuk mempelajari budaya secara utuh. Dan kita juga dapat sudah beradaptasi dengan masyarakat sekitar, apabila memiliki kesempatan berkunjung ke sana . Amin.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment