More than Just Nation and Character Building
June 10th, 2014 at 9:10 am
Posted by Mohammad Adib in Etnografi Bangsa-Bangsa

Oleh: Kelompok 5. Ayu Rahmadhani 071211231030, Andraina Ary F 071211232002, Mahfudz I R 071211232013, Amellia Yuni Rahenna 071311733019, Feny Islamiati 071311733078.  “……Setelah presentasi menarik dengan menampilkan video yang menarik pula, kuliah hari tersebut pun di tutup dengan menyanyikan lagu Hymna Airlangga oleh Bapak Adib. Betapa beliau mencintai negeri ini, betapa beliau mencintai budaya negeri ini, betapa beliau menghargai apa yang negeri ini miliki. Setelah mempelajari budaya bangsa lain, inilah yang pak Adib ingin kami pelajari.”

Pada mata kuliah kali ini, yang biasanya kami dihadapkan pada senyum ramah Pak Tri Joko kami bersua dengan senyum ceria Pak Adib. Setelah beberapa pertemuan kami tidak bertemu dengan beliau, pada hari Kamis tanggal 5 Juni 2014 beliau yang menyapa kami lewat pertemua yang natinya akan membahas tuntas tentang Amerika Utara. Tetapi sebelum memulai presentasi hari itu Pak Adib membekali kami tentang 15 pengertian tentang apa itu Excellent, bagaimana bentuk Excellent, dan seluk beluk tentang Excellent. Memang satu kata ini bukanlah hal yang asing untuk beliau, sudah menjadi semacam trademark buatan Pak Adib.

Amerika Utara merupakan wilayah bagian dari benua Amerika yang terdiri dari 3 negara bagian, yakni Amerika Serikat, Mexico, dan Kanada. Suku-suku yang menjadi konsentrasi pada pertemuan kali ini adalah suku Indian yang merupakan penduduk asli Amerika. Terdapat berbagai macam dan jenis suku Indian di Amerika 2 diantaranya adalah suku Cherokke (shar-kee) dan Eskimo.

Yang menarik dari suku Cherokke adalah mereka merupakan orang-orang Indian yang sudah memeluk agama Islam. Tertuang dalam perjanjian Perpustakaan Kongres (Library of Congress) antara pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama Abdel Khak dan Muhammad Ibnu Abdullah. Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Selain membahas tentang suku Cherokee presentasi kelompok ini juga membahas tentang suku Eskimo yang menempati wilayah utara dari Amerika. Suku Eskimo memiliki gaya hidup yang unik. Mereka mendapatkan makanan dengan cara berburu binatang, seperti beruang dan serigala. Selain itu, mereka juga mendapatkan sumber makanan dengan cara memancing ikan. Pada umumnya makanan tersebut dikonsumsi dalam keadaan mentah. Hal ini dikarenakan kondisi mereka yang tinggal di daerah kutub yang senantiasa beku sehingga cukup sulit untuk mengolah makanan. Makanan mentah memang tidak enak untuk dimakan. Tapi karena mereka jauh dari peradaban dan teknologi canggih, maka mereka memakannya mentah-mentah.

Penduduk Suku Eskimo juga mengenakan pakaian yang berlapis-lapis dan sangat tebal. Hal ini dilakukan untuk mengontrol suhu tanpa banyak mengeluarkan keringat.

Suku Eskimo yang mendiami kutub utara memiliki teknik yang unik untuk memburu srigala sebagai santapan hariannya. Mereka menggunakan pisau yang sangat tajam, lalu merendamnya didalam darah hewan lain. Darah yang menyelimuti pisau itu dibiarkan membeku. Selanjutnya pisau yang sudah dilumuri darah beku tersebut, ditanam didataran tinggi tempat srigala sering bermain. Pisau itu sendiri ditanam dengan dengan posisi bagian ujung (mata pisau) mencuat keatas. Dengan trik seperti itu, acapkali srigala datang dan mengendus-endus bau darah yang menyelimuti pisau tersebut. Tentu saja, mata pisau yang tajam dengan sendirinya melukai lidah si srigala. Walaupun demikian udara yang dingin membuat sang srigala tidak merasa sakit, meski ia menjilati pisau yang tajam dan darahnya sendiri. Lama kelamaan srigala mati lemas, karena kehabisan darah. Selanjutnya sudah bisa ditebak! Suku Eskimo dapat dengan mudah membawa srigala itu untuk dijadikan santapan.

 

Bangsa Eskimo yang hidup di lingkar atas kutub utara memiliki sebuah rumah unik yang bernama Igloo, di katakan unik karena seluruh bagian rumah terbuat dari es dan bentuknya setengah bundar ( Dome ) dan berpintu masuk berupa silinder. Seperti kebutuhan rumah manusia lainnya, orang orang eskimo juga memiliki alasan membuat Igloo untuk berlindung dari udara dingin, hewan buas (hewan buas kutub seperti beruang). Suhu di dalam rumah Iglo cukup hangat dan nyaman ditinggali dan tak terpengaruh suhu diluar yang bisa sampai -45 derajat celcius dan semua kegiatan dilakukan di dalam rumah tersebut.

Setelah presentasi menarik dengan menampilkan video yang menarik pula, kuliah hari tersebut pun di tutup dengan menyanyikan lagu Hymna Airlangga oleh Bapak Adib. Betapa beliau mencintai negeri ini, betapa beliau mencintai budaya negeri ini, betapa beliau menghargai apa yang negeri ini miliki. Setelah mempelajari budaya bangsa lain, inilah yang pak Adib ingin kami pelajari.***            


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment