More than Just Nation and Character Building
May 18th, 2016 at 8:49 pm
Posted by Mohammad Adib in Etnografi Bangsa-Bangsa

Oleh: Elsyahfira N.A. / 071411733007. Ada sesuatu yang berbeda pada pertemuan perdana (setelah Ujian Tengah Semester) dalam mata kuliah Etnografi Bangsa-Bangsa. Jika biasanya pada pukul 07:00 suasana kelas masih sepi dan belum berpenghuni, namun tidak dengan hari ini. Pak Adib selaku dosen pengampu mata kuliah Etnografi Bangsa-Bangsa yang baru sudah duduk manis di kursi kebanggaan para dosen tampak tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. Ya, hari ini kami, para peserta kuliah, diajak oleh pak Adib untuk menyelami lebih dalam terkait dengan seluk-beluk kebudayaan salah satu suku bangsa yang ada di Australia dan New Zealand, yakni suku Aborigin dan suku Maori. Namun sebelum terhanyut lebih lanjut dalam keunikan kebudayaan suku-suku yang ada di Australia dan New Zealand pak Adib terlebih dahulu bertanya pada kami semua mengenai satu golden ticket untuk bisa berkelana ke luar negeri (baca: paspor). Hanya satu orang yang sudah mencicipi asyiknya tinggal di negeri paman Sam, sementara di sisi lain sebagian besar dari kami, dengan total peserta sekitar sepuluh orang, menjawab belum memiliki paspor dan tentu saja belum pernah ke luar negeri. Namun, kabar baiknya sembilan orang yang meskipun belum pernah melancong ria ke luar negeri ternyata sudah mempunyai rencana untuk dapat pergi ke negara impiannya. Setidaknya meskipun belum pernah ke luar negeri, apalagi mempunyai paspor, kami sudah punya rencana yang matang untuk bisa menetapkan dan memantapkan pilihan akan pergi ke negara mana nantinya jika memang berkesempatan untuk bisa ke luar negeri. Dari rencana yang matang tersebut kita bisa tahu bahwa memang ada niatan menuju ke sana, ke luar negeri (dengan catatan budget yang dimiliki memadai). Lain halnya dengan orang yang meskipun sudah memiliki paspor namun ternyata ia tidak memanfaatkan tiket sakti keliling dunia tersebut dengan baik, dengan kata lain ia bahkan tidak tahu ingin dan mau pergi ke negara mana, padahal lagi secara materi ia juga terbilang lebih dari cukup. Sangat disayangkan, bukan? Baiklah, kembali ke topik awal tentang perkuliahan pada hari ini. Pertemuan kali ini memang membahas mengenai kebudayaan suku yang ada di Australia dan New Zealand yang mana materi tentang topik ini seharusnya disampaikan oleh presenter tepat pada pukul 07:15, namun sehubungan dengan presenter yang tidak kunjung menampakkan dirinya hingga pukul 08:00 maka untuk sementara, dalam rangka agar waktu menunggu tidak terbuang percuma, pak Adib memberikan pengantar mengenai apa itu Etnografi Bangsa-Bangsa. Tidak heran apabila pak Adib belum-belum sudah menanyakan pada kami perihal apakah sudah memiliki paspor atau belum yang mana hal ini dikarenakan memang dengan berbekal paspor tersebut, berkaitan dengan mata kuliah Etnografi Bangsa-Bangsa, maka kami dapat dengan mudah menjelajahi suku-suku yang ada di banyak negara dan kemudian membuat etnografi mengenai hasil petualangan di suku yang kami kunjungi. Ya, kegunaan paspor dalam kaitannya dengan mata kuliah ini bukan lagi soal untuk berpelesir ria melainkan dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran kami mengenai etnografi pada suku-suku di negara yang bersangkutan.1. Nilai Resume I GENAP(2015_2016)_ETNOGRAFI_BANGSA-BANGSA_KELAS_A 12 Mei 2016  2. Tugas Makalah Etno Bangsa Bangsa AUsie dan New Zealand

            Pukul 08:20. Presenter materi tidak kunjung datang. Yoshica, salah satu peserta mata kuliah Etnografi Bangsa-Bangsa, mengajukan diri untuk presentasi meski sebenarnya ia baru berkesempatan untuk presentasi pada minggu depan. Gayung bersambut, pak Adib mengiyakan dan menyambut baik inisiatif cerdas Yoshica. Segera saja setelahnya Yoshica mempersiapkan diri untuk presentasi. Lima belas menit kemudian pintu kelas terbuka. Terlihat sesosok laki-laki berkemeja kotak-kotak biru, yang dikenal bernama Andi, melangkah masuk ke dalam kelas. Menyadari adanya kehadiran seorang yang baru di dalam kelas, sontak pandangan kami semua tertuju padanya. Akhirnya presenter materi kebudayaan suku Australia dan New Zealand tiba di kelas. Salah seorang peserta yang mengajukan diri, yakni Yoshica, untuk menggantikan presentasi si mahasiswa berkemeja kotak-kotak ini pun otomatis mengurungkan niatnya dan dengan (sedikit) berat hati kembali ke tempat duduknya.  

“Maaf, pak, saya terlambat,” ujarnya dengan agak tergopoh-gopoh. Raut wajahnya memelas, terlihat tidak nyaman, namun jujur saja saya tidak menangkap perasaan bersalah pada raut wajahnya tersebut. Ah, mungkin saya terlalu berprasangka buruk padanya.

“Nah, ini pak yang presentasi sudah datang,” celetuk salah seorang peserta.

“Kenapa mas kok terlambat? Terlambatnya sudah melampaui batas perjanjian,” tanya pak Adib dengan nada menegur.

“Saya bangun kesiangan, pak,” jawabnya setengah meringis.  

            “Ya sudah, segera persiapkan diri anda untuk presentasi,” ujar pak Adib yang disambut dengan kegopohan si mahasiswa kemeja kotak-kotak dalam mempersiapkan dirinya. Sementara para peserta kuliah tampak mulai sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri sembari menunggu Andi untuk mempersiapkan presentasinya.

            Sekitar sepuluh menit berlalu, presenter pun sudah siap untuk menyampaikan materinya. Mula-mula Andi menjelaskan mengenai suku Aborigin. Suku Aborigin kerap mewarnai tubuhnya dengan kapur sehingga pada beberapa bagian tubuhnya tambah baluran putih dengan motif tertentu. Sama halnya dengan suku Maori yang merupakan penghuni New Zealand, hanya saja suku Maori lebih menonjolkan pada tato atau rajah tubuh. Kedua perbedaan ini lantas mengundang pertanyaan saya dan juga salah satu peserta mengenai tujuan dari pewarnaan dan mengapuri tubuh. Sebagai tambahan dalam pertanyaan yang saya ajukan, dari salah satu laman web yang pernah saya baca mengenai pelukisan tubuh pada suku-suku tertentu, dalam hal ini adalah suku Xingu, di situ dijelaskan bahwa tujuannya adalah sebagai identitas kesukuan dan untuk membedakan diri dengan hewan-hewan yang ada di hutan. Nah, yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah seni lukis dan pengapuran tubuh pada suku Aborigin dan suku Maori juga ditujukan sebagai identitas kesukuan atau mungkin ada tujuan lain? Sama halnya dengan pertanyaan yang diajukan Fahmi, yakni tentang tujuan dari lukis tubuh pada dua suku tersebut. Selain tentang seni lukis pada tubuh, presenter juga menjelaskan mengenai tujuh unsur budaya yang ada pada suku Maori dan suku Aborigin. Bahasan lain yang menjadi bahan diskusi yang cukup alot yakni mengenai sistem religi dari kedua suku tersebut di mana terdapat pertanyaan bagaimana agama di luar kepercayaan masyarakat setempat dapat masuk dalam kehidupan masyarakat tersebut yang pada akhirnya agama baru itu dianut masyarakat yang bersangkutan.

Terlepas dari pertanyaan, terdapat pula kritikan dan masukan mengenai tampilan dan penyampaian materi pada presentasi kali ini. Ade mengkritik perihal pada beberapa sub-bab materi yang disampaikan kurang begitu jelas dan terkesan hanya penjelasan permukaannya saja. Pun dengan Dirgandaru, ia memberi koreksi perihal warna kulit suku Maori yang memang sebenarnya dari dulu adalah berwarna hitam, hal ini berbeda dengan yang disampaikan oleh presenter yakni bahwa dulu warna kulit suku Maori adalah cokelat yang kemudian berubah menjadi gelap. Terkait dengan hal ini, dalam tulisan ini saya ingin menambahkan mengenai perubahan warna kulit. Bisa jadi dan terdapat kemungkinan jika masyarakat pada satu wilayah tertentu yang dulunya warna kulitnya tergolong cerah kemudian bertahun-tahun kemudian, keturunannya, justru warna kulitnya sedikit atau agak kegelapan. Hal ini berkaitan dengan adaptasi tubuh terhadap lingkungan sekitar yang mana dulunya wilayah tersebut sengatan sinar mataharinya tidak semenyengat tahun-tahun berikutnya yang kemudian paparan sinar matahari yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan perubahan warna kulit. Selain karena adaptasi tubuh, perubahan warna kulit ini juga bisa disebabkan oleh perkawinan campuran (amalgamasi).

Terkait dengan jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan, Andi, selaku presenter mulai menjawab pertanyaan tersebut satu per-satu. Andi membenarkan bahwa tujuan dari seni lukis atau tato tubuh adalah untuk membedakan diri dengan hewan-hewan yang ada di hutan dan juga sebagai identitas kesukuan, di sisi lain pak Adib juga menambahkan bahwa lukisan pada tubuh antara pemimpin dengan anggota masyarakat biasa adalah berbeda di mana lukisan tubuh pada si pemimpin adalah lebih ramai. Ade juga membenarkan dan menambahkan bahwa lukisan pada tubuh selain untuk dua fungsi tersebut yakni juga sebagai identitas atas status sosial. Menambahkan lagi, saya juga menambahkan secara singkat bahwa lukisan pada tubuh tersebut memang benar terkait dengan tiga fungsi yang telah disebutkan, mengacu pada karya etnografi Levi-Strauss yang mencoba untuk memahami struktur seni lukis pada suku di Asia dan Amerika, lukisan atau tato pada tubuh tersebut bukanlah lukisan sembarang lukisan pada tubuh melainkan di dalamnya terkandung pesan atau makna mengenai filosofi hidup dari suku yang bersangkutan, dalam hal ini yakni pada suku Maori kegiatan merajah tubuh dilakukan dalam suasana yang cukup religius sehingga suasana saat merajah berlangsung adalah sarat akan religiusitas dan menandakan bahwa merajah bukanlah kegiatan yang dilakukan secara sembarangan. Mengenai bagaimana agama lain diluar kepercayaan masyarakat setempat dapat masuk ke lingkungan kedua suku tersebut, ditambahkan penjelasan oleh Yoshica bahwasannya masuknya agama pada suatu lingkungan tempat di mana suku pedalaman atau suku-suku lainnya tinggal tersebut salah satunya yakni disebabkan oleh adanya campur tangan dari para misionaris yang kemudian mengajarkan dan bertujuan untuk lebih memberadabkan masyarakat dari suku yang bersangkutan. Di sisi lain, ada pula pihak yang menyebutkan bahwa kepercayaan kuno, seperti animisme dan dinamisme sebaiknya tidak lagi dianut karena sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan di masa kini. Terkesan memaksa, namun bagaimana pun hal tersebut sudah barang tentu memiliki sisi baik dibalik kesan memaksanya tersebut. Untuk tambahan mengenai suku Maori, pada suatu kesempatan pernah saya baca satu artikel di internet yang menjelaskan bahwasannya suku Maori adalah salah satu suku kanibal. Melihat tampilan orang-orang Maori sedemikian rupa yang tampak garang dengan rajah pada tubuhnya yang semakin menambah kegarangan tersebut sedikit membuat saya takut, apalagi ditambah dengan informasi bahwa mereka adalah suku yang kanibal. Mengenai suku kanibal pernah suatu waktu saya tanyakan saat sesi presentasi pada mata kuliah ini beberapa waktu yang lalu saat masih diampu oleh pak Tri Joko. Pak Tri Joko menjelaskan bahwa maksud dari adanya aksi kanibalisme dari suku-suku tertentu tersebut merupakan salah satu bentuk pertahanan diri mereka dari orang luar mengingat memang benar adanya suku-suku yang ada di pedalaman sangat sensitif dan mudah merasa terancam oleh kehadiran orang baru. Namun ternyata hal tersebut, kanibalisme, kini tidak lagi berlangsung dikarenakan seiring berjalannya waktu masyarakat tersebut mulai sedikit terbuka dengan kehadiran orang luar.

            Begitulah sekilas nukilan hasil diskusi pada pertemuan kali ini yang berlangsung dengan sangat baik dan cukup menyenangkan. Semua peserta tampak antusias dan bersemangat, tentu saja semangat di pagi hari ini salah satunya juga dikarenakan atmosfer kegiatan belajar-mengajar yang sangat mendukung sehingga atmosfer akademik pun benar-benar tercipta sempurna. Pembelajaran dua arah memang tidak kalah menyenangkan dengan pembelajaran versi satu arah dikarenakan dengan pembelajaran dua arah masing-masing peserta selain dapat mengenal dengan baik siapa saja kawan-kawan yang ada di kelas tersebut juga bermanfaat untuk saling berbagi wawasan yang juga di sisi lain memiliki efek atau daya motivasi yang saya rasa cukup kuat untuk kemudian membuat kita berlomba-lomba untuk dapat memaksimalkan kegiatan maupun kualitas akademik kita.

            Baik itu suku Aborigin maupun suku Maori, keduanya memiliki sisi keunikan yang berbeda-beda. Suku Aborigin dengan tubuhnya yang berbalur kapur dan juga senjata andalan khasnya yakni bumerang, sementara suku Maori yang terkenal akan rajah tubuhnya sehingga membuat tampilan atau penampilannya menjadi terkesan garang. Namun percayalah, meski penampilannya garang namun dibalik kegarangan tersebut pasti tersimpan sisi persahabatan dan kehangatan dikarenakan memang pada dasarnya rajah tubuh suku Maori bukan berfungsi untuk menakut-nakuti. Baik lukis tubuh maupun rajah pada tubuh yang ada pada suku-suku tertentu tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebagai topeng bagi diri mereka.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment