More than Just Nation and Character Building
April 11th, 2015 at 6:39 am
Posted by Mohammad Adib in Etnografi Bangsa-Bangsa

putri-lindu-dan-kain-kulit-kayuOleh: Kelompok 1 Respati Suryo Pratomo (070917038), Fareza Rahman (071012069), Safitri Kusumaningtyas (071211231033). “……… Organisasi suku Ainu dibentuk sebagai upaya mendesak Pemerintah Jepang untuk membentuk Undang-Undang guna memperbaiki kehidupan dan kebudayaan mereka. Ainu Association Hokkaido dan Ainu Utari Renrakukai, merupakan organisasi awal yang dibentuk oelh suku Ainu dan merupakan organisasi payung untuk masyarakat Ainu yang menetap di Tokyo dan sekitarnya. Selain itu organisasi Ainu juga meluncurkan organisasi baru di Tokyo pada akhir bulan september 2011. Ainu Association Hokkaido menyatakan organisasi ini ditujukan untuk menjadi tempat berbagi informasi diantara berbagai organisasi yang didirikan oleh suku Ainu, mengkonsolidasikan opini mereka dan membangun konsensus diantara sesama Suku Ainu.” 1. Suku Bangsa Ainu di Jepang dan Tatar di Asia Tengah 2.  Nilai Tugas Kelompok I dan II GENAP(2014-2015)_ETNOGRAFI_BANGSA-BANGSA_KELAS_A sampai Jumat 10 April 2015 jam 10.00

Keberadaan suku bangsa tersebar di hampir seluruh pelosok dunia. Suku bangsa yang ada di dunia sendiri sangatlah beragam. Eksistensi suatu kelompok masyarakat di suatu wilayah tertentu pasti tidak lepas dari tradisi atau disebut juga dengan kebudayaan. Kebudayaan sendiri secara singkat dipahami sebagai hasil dari budi daya, cipta, karya dan karsa, yang memiliki keterkaitan erat dengan akal. Dalam tulisan ini, penulis akan memberikan pemaparan mengenai deskripsi budaya di wilayah Asia Timur dan Asia Tengah berdasarkan pertemuan hari Kamis pada tanggal 2 April 2015. Asia Timur merupakan kawasan Asia yang memiliki luas sebesar 15% dari benua Asia, sementara Asia Tengah merupakan kumpulan negara-negara yang berasal dari pecahan Uni Soviet. Pada dasarnya, akibat wilayah yang terbentang luas membentuk daratan, Asia Timur dan Asia Tengah memiliki beragam suku bangsa yang memiliki unsur kebudayaan yang berbeda-beda.

Asia Timur terdiri dari negara Jepang, Cina, Hong Kong, Makau, Mongolia, Korea Selatan, Korea Utara, dan Taiwan. Secara geografis wilayah ini memiliki batas bagian utara Asia Timur adalah Rusia, bagian selatan bertemu dengan kawasan negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, dan bagian barat adalah Asia Tengah. Kawasan ini beriklim subtropik sehingga terdapat beberapa stepa, savanna, serta tundra. Begitu pula terdapat beberapa puncak puncak tertinggi Everest dan beberapa gurun di China. Sedangkan dari segi politik, kebanyakan wilayah ini dulunya menganut sistem kekaisaran dan dinasti dan kependudukan yang secara mayoritas menganut agama Budha. Asia Timur ini banyak dihuni oleh ras Mongoloid khususnya jenis atau tipe Asiatic Mongoloid. Sub-ras Asiatic Mongoloid ini memiliki ciri-ciri fisik seperti berambut hitam lurus, bermata sipit dan berkulit putih kekuningan. Sub-ras ini merupakan induk dari sub-ras Malayan Mongoloid dan American Mongoloid di Amerika. Persebarannya meliputi seluruh negara di Asia Timur serta beberapa negara di Asia Tenggara seperti Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja dan Vietnam. Keadaan kepulauan di Asia Timur menyebabkan wilayah ini menjadi rentan terhadap bencana gempa dan tsunami, sehingga m  enjadi penting bagi masyarakat Asia Timur untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Wilayah Asia Timur ini juga disinyalir sebagai wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang paling tinggi di kawasan benua Asia.

Asia Tengah merupakan kawasan beriklim subtropis yang secara geografis berbatasan dengan Cina di sebelah timur, Rusia di sebelah utara, laut Caspian di barat, serta negara Iran, Afghanistan dan Pakistan di bagian selatan. Kawasan ini memiliki wilayah perariran yang sempit dan justru terdapat banyak gurun-gurun, seperti  Kyzykum dan gurun Karakun yang berbatasan dengan Eropa Timur. Beberapa negara yang berada di wilayah ini adalah Kazakhstan, Turmeknistan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Kyrgyztan yang myoritas merupakan pecahan negara Uni Sovyet. Jika Asia Timur banyak dihuni oleh ras Mongoloid maka di kawasan Asia Tengah ini lebih banyak dihuni oleh ras Turanid. Ras Turanid merupakan gabungan antara ras Mongoloid dengan ras Kaukasoid. Sehingga ciri fisik yang ditampilkan memiliki karakteristik wajah oriental dengan mata sipit. Tak jarang, ciri fisik penduduk Asia Tengah juga memiliki karakteristik seperti orang Barat yaitu bermata biru dan berkulit putih. Ciri fisik yang seperti itu banyak ditemui di negara Kazakthan dan Uzbekistan.

Wilayah Asia Tengah juga merupakan kawasan yang letaknya strategis karena menghubungkan antara Asia Timur dengan Timur Tengah. Namun, keadaan sekarang menunjukan bahwa kawasan Asia Tengah dewasa ini menjadi mono-etnis karena banyak penduduk yang mulai meninggalkan wilayah Asia Tengah untuk menetap di wilayah lainnya. Pada zaman Soviet, Kazakhstan, Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan dianggap multietnis. Hal ini terutama dikarenakan hadirnya orang Rusia, yang sebenarnya mengacu pada perwakilan bangsa Slavia lain terutama orang Ukraina dan Belarusia. Dewasa ini, situasi berubah secara dramatis. Orang Rusia di wilayah tersebut menjadi minoritas. Puncak eksodus penduduk berbahasa Rusia dari wilayah itu terjadi pada 1990-an, setelah runtuhnya Uni Soviet disusul kerusakan situasi sosial-ekonomi. Saat itu, muncul friksi antaretnis di berbagai wilayah. Akibatnya, pada tahun-tahun awal pasca-Soviet, jumlah penduduk berbahasa Rusia di Negara Asia Tengah berkurang dari hampir sepuluh juta penduduk menjadi tiga juta jiwa saja. Namun, proses migrasi ini belum berakhir.

Setiap negara di Asia Timur dan Asia Tengah dapat dipastikan memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dan terkadang menjadi ciri khas ataupun identitas, namun ada juga yang pada ditinggalkan dengan sengaja pada dekade tertentu. Pada konteks etnis suku bangsa kali ini akan membahas mengenai suku Ainu yang mendiami daratan Asia Timur lebih spesifik berada di Jepang dan suku Tatar yang berkembang di wilayah Asia Tengah.

Suku Ainu merupakan salah satu suku yang ada di jepang namun latar belakang budaya dan ras suku Ainu berbeda dengan etnis yang ada di Jepang. Suku Ainu sendiri memiliki populasi sebanyak 15.000 jiwa dan sebagian kecil populasinya berada di Hokaido. Jumlah populasi suku Ainu ini dapat dipastikan merupakan data yang tidak valid, dikarenakan banyak dari keturunan suku Ainu sendiri tidak menyadari kalau mereka merupakan keturunan suku Ainu. Hal tersebut bukan tanpa alasan dimana kondisi dan situasi suku Ainu sendiri sangat terpiggirkan dan agar menjaga keturunan-keturunan suku Ainu dari permasalahan sosial. Suku Ainu memiliki tampilan fisik sedikit lebih pendek dari Bangsa Jepang umumnya (Ras Yamato), tubuh  mereka kuat dan proporsional, tulang pipi tinggi dengan hidung pendek, wajah lebar dan rambut lebat berombak serta memiliki mata coklat gelap. karena dalam adat, Ainu pria tidak mencukur kumis dan jengggot sampai periode tertentu maka ciri fisik pria memiliki wajah dengan kumis dan jenggot lebat. Kerap kali ditemukan para wanita mempunyai tato di wajah, lengan dan kadang-kadang ada pula di dahi. Suku Ainu tidak pernah makan daging atau ikan dalam keadaan mentah. Meski berburu daging beruang, rubah, serigala, musang, sapi, kuda, ikan, dan unggas, mereka selalu merebus atau memanggangnya dengan sayur, akar dan rempah-rempah sayuran, rempah-rempah, dan akar. Hal ini terlihat bahwa mata pencaharian suku Ainu adalah berburu, meramu, dan berkebun.

Bangsa Ainu menganut kepercayaan shamanisme. Mereka mempercayai bahwa bumi para manusia ini mengambang dan berbeda dengan tanah para dewa. karena tidak ada Imam khusus dalam menjalankan kehidupan religi, maka kepala desalah yang memimpin upacara keagamaan apapun. Mereka tidak mengenal sejenis kuil untuk upacara dan beribadah, tetapi tetap mempercayai konsep surga dan neraka, konsep dewa serta keabadian kehidupan roh mereka setelah kematian. mereka berdoa sebelum makan sebagai bentuk rasa syukur, berdoa kepada dewa api ketika sakit. Salah satu contoh upacara yang dilakukan suku ainu adalah Iomante. Upacara utama mereka berupa penghormatan terhadap beruang—sang penyedia makanan, bulu, dan tulang untuk perkakas. Mereka menyebut Asahi Dake sebagai Gunung Nutap-kamui-shir yang berarti “gunung dewa yang mengandung wilayah bagian dalam dari belokan sungai.”

Suku Ainu menggunakan bahasa ainu yang tidak memiliki keterkaitan dengan bahasa jepang. Dahulu bahasa ainu diajarkan turun temurun melalui tradisi lisan dan tidak dituliskan. Namun seiring perkembangan waktu bahasa ainu dituliskan pertama kali oleh orang dari Eropa dengan tulisan latin dan aksara sirilik. Serta orang dari Suku Yamato menulis bahasa ainu dengan aksara katana/kana. Pada era tahun ‘90an Orang yang dapat berbicara bahasa Ainu di Hokkaido hanya ada kurang dari 10 orang, dan mereka pun rata-rata sudah berusia di atas 80 tahun. Hingga UNESCO pada tahun 2009 memasukkan bahasa Ainu sebagai bahasa dalam keadaan kritis (critically endangered). Suku Ainu sendiri memiliki teknologi dalam kehidupan sehari-hari seperti Pakaian tradisional. Pakaian tradisional suku Ainu adalah jubah pintal dari kulit pohon elm. Jubah dengan panjang hampir mencapai mata kaki ini juga berlengan panjang dan diikat dengan korset dari bahan sama. Pada musim dingin, mereka mengenakan kulit binatang, berupa legging dari kulit rusa atau sepatu bot dari kulit anjing atau salmon. Rumah suku Ainu terbuat dari buluh-jerami. Dengan luas mencapai 20 kaki, rumah suku Ainu tidak bersekat dan memiliki perapian di tengah. Ada cerobong asap berupa lubang di sudut atap, ada satu jendela di sisi timur dan ada dua pintu. Masyarakat suku Ainu  memiliki pengetahuan yang maju dan hal tersebut terlihat dari sistem pembagian tanah mereka menjadi lahan-lahan cakupan desa atau iwor, tempat mereka memancing ikan salem, berburu beruang, dan mengumpulkan kayu dan buah buni. Saat makan, para pria menggunakan sumpit, sementara para wanita menggunakan sendok kayu.

Suku Ainu memiliki warisan kesenian tradisional yang dapat dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu lagu sehari-hari dan lagu-lagu epik. Setiap hari lagu-lagu dalam tradisi Ainu dinyanyikan dalam banyak situasi dan secara dadakan. Musik Ainu membawa resonansi rohani di hampir semua bentuknya, dan memainkan peran penting baik dalam sejarah budaya dan budaya masyarakat Ainu sendiri. Hampir setiap jenis lagu Ainu dianggap suci, bahkan alat musik dikatakan memiliki jiwa. Musik Ainu, secara historis telah mewakili keadaan masyarakat Ainu. Tekanan pada musik Ainu, sepanjang sejarah mereka sebagai orang-orang di bawah kekuasaan mayoritas yang dominan, telah datang sebagian besar dari pemerintah Jepang. Pemerintah Jepang sengaja melarang bahasa Ainu, musik, dan tariannya (termasuk upacara beruang) pada tahun 1799 dalam upaya untuk menghomogenkan Ainu dengan penduduk Jepang yang lebih besar. Pasca 1997 suku Ainu membentuk sebuah wadah yang menampung aspirasi masyarakat suku Ainu dan mulai berani memunculkan idetitas kebudayaannya. Organisasi suku Ainu dibentuk sebagai upaya mendesak Pemerintah Jepang untuk membentuk Undang-Undang guna memperbaiki kehidupan dan kebudayaan mereka. Ainu Association Hokkaido dan Ainu Utari Renrakukai, merupakan organisasi awal yang dibentuk oelh suku Ainu dan merupakan organisasi payung untuk masyarakat Ainu yang menetap di Tokyo dan sekitarnya. Selain itu organisasi Ainu juga meluncurkan organisasi baru di Tokyo pada akhir bulan september 2011. Ainu Association Hokkaido menyatakan organisasi ini ditujukan untuk menjadi tempat berbagi informasi diantara berbagai organisasi yang didirikan oleh suku Ainu, mengkonsolidasikan opini mereka dan membangun konsensus diantara sesama Suku Ainu.

Selanjutnya ada suku Tatar yang  secara historis mendiami daerah Rusia dan banyak bermigrasi ke luar Rusia dari wilayah Asia Tengah sepeti Uzbekistan, Kazakstan, ukraina, Tajikistan, Kirgistan, Turkmenistan, dan Azerbaijan serta di beberapa wilayah Eropa seperti Polandia. Jumlah total populasi Tatar yang berada di luar Tartanistan berjumlah 30. 000 jiwa. Suku Tatar memiliki biasa menggunakan bahasa Tatar sendiri serta bahasa lainnya yakni Rusia dan Karaim. Suku Tatar memiliki mata pencaharian sebagai peternak dimana banyak dari mereka yang berternak, bertani, dan berkebun. Suku Tatar sendiri menganut agama Islam Sunni sebagai mayoritas, dan juga agama lain seperti Ortodoks. Dengan mayoritas masyarakat yang beragama Islam maka masjid merupakan tempat ibadah yang wajib ada. Menurut Belyaev, Islam Tatar mengembangkan pandangan  yang inklusif, toleran dan bisa berintegrasi dengan budaya lokal tempat mereka hidup, maka dalam membangun masjid pun mereka memasukkan seni dimana tempat masjid tersebut didirikan. Dalam konteks sistem pendidikan Selain menuntut ilmu umum mereka juga menuntut ilmu khusus seperti pemebelajaran mengenai AL-Quran (www.edukasi-net.com). dalam lingkup pendidikan umum masyaakat Tatar telah mengenal pendidikan tinggi sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat Tatar memiliki power dan knowledge yang sangat baik untuk melakukan pertumbuhan dan pembangunan manusia guna meningkatkan pembangunan Rusia sendini. Karena masyarakat suku Tatar telah mengenal pendidikan hingga perguruan tinggi, Sistem teknologi dan peralatan hidup Tatar sangat berhubungan dengan perkembangan pengetahuan, karena banyak masyarakat yang telah mengadopsi ilmu pengetahuan modern. Tentunya dalam kehidupan mereka dikelilingi oleh teknologi canggih seperti penggunaan handphone, komputer,dan lain-lain.

Suku Tatar memiliki tradisi kesenian berupa tarian yang dilakukan oleh wanita dengan gerak pinggang, namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa modernisasi telah merasuk dalam Tatar karena kesenian dari Tatar sendiri juga dipengaruhi dari kesenian suku yang lain. Dalam mempertahankan kebudayaanya Tatar kerap melakukan festival menari maupun perayaan kesenian lainnya, dengan adanya hal ini maka nilai kesukuan Tatar dapat dikenalkan pada generasi muda. Dalam organisasi sosialnya, masyarakat Tatar melakukan perkawinan endogami dimana mereka melakukan perkawinan dalam suku Tatar sendiri, hal ini merupakan strategi Tatar dalam mempertahankan nilai kesukuan dan kebudayaan mereka. Namun di sisi lain juga terdapat perkawinan eksogami yang terjadi di Polandia dimana masyarakat Tatar yang mendiami Polandia melakukan perkawinan dengan etnis Polandia (www.everyculture.com).

Dari review mengenai kawasan Asia Tmur dan Asia Tengah diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya Asia Timur dan Asia Tengah merupakan dua wilayah di benua Asia yang memiliki kemiripan karakteristik penduduk meskipun berbeda secara geografis. Dari segi ras keduanya memiliki kemiripan dimana bangsa Asia Timur berasal dari ras Mongloid sedangkan bangsa Asia Tengah berasal dari campuran ras Mongoloid dan Kaukasoid. Di kedua wilayah tersebut bahasa yang digunakan beragam dan cenderung tiap negara mempunyai bahasanya masing-masing. Salah satu suku yang menonjol di Asia Timur adalah Suku Ainu yang berasal dari Jepang sedangkan di Asia Tengah adalah suku Tartar dimana penduduk suku ini merupakan campuran dari berbagai negara yang ada di Asia Tengah seperti Kazakhtan, Kirgistan dan lain-lain. Isu-isu yang dihadapi oleh kebanyakan suku-suku di dua kawasan ini umumnya adalah isu konflik antar etnis yang terjadi karena kesenjangan sosial antara yang kaya dan yang miskin, serta yang mayoritas dan yang minoritas. Meski demikian, suku-suku ini cukup menarik untuk dipelajari karena memiliki adat dan kesenian yang istimewa. moh.adib@fisip.unair.ac.id | hmadib2005@yahoo.com | madib.blog.unair.ac.id

Referensi:

Kelompok 3, 2015.Etnografi Asia Timur dan Asia Tengah,materi disampaikan pada  kuliah Etnografi Bangsa-Bangsa Universitas Airlangga, 2 April 2015.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment