More than Just Nation and Character Building
December 26th, 2015 at 8:04 am
Posted by Mohammad Adib in Inspirations, Philosophy

Keluarga M. Adib Oktober 2015Di antara pertanyaan yang saya suka untuk menjawabnya—biasanya dengan kelancaran yang tinggi dan nyaris bersemangat ‘45—adalah tentang anak dan atau cucu. “Lhoh,  sudah bercucu tah…” “ betulkah sudah punya cucu….?” “berapa jumlah cucumu?” dan “bagaimana khabar cucumu?” Sejumlah diantaanya juga menjawabnya sendiri, “… belum pantes jadi Kakek..”. Dua pertanyaan jenis pertama bersifat konfirmasi atau klarifikasi, sedangkan kedua pertanyaan terakhir bersifat standar. Jawaban yang saya sampaikan umumnya disimaknya dengan seksama, juga oleh orang di sekitarnya, dan berakhir dengan gelak tawa, atau minimal dengan lemparan senyum.

Berbeda dengan jenis pertanyaan itu, seorang teman sekelas waktu sekolah menengah di Jombang, yang puluhan tahun berkarier di Kalimantan Timur, dalam obrobal via telepon yang sering panjang lebar, pertanyaannya saya rasakan lebih seriaus, “apakah cucumu tinggal se rumah.” Beberapa waktu kemudian, saat saya nyambangi ke rumahnya—dalam kondisi kesehatan yang tidak prima, pertanyaan itu diulanginya lagi. “Apakah cucumu tinggal se rumah?” Lama saya berpikir, mengapa begitu pentingnya jenis pertanyaan seperti itu diajukan kepada saya. Dalam perbincangan  itu, jawaban saya standar, “tidak. Seorang cucu lelaki dari anak yang kedua, tinggal di rumah yang ia belinya sendiri—alhamdulillah—berjarak sekitar 800-an meter dari tempat tinggal saya di Rungkut Surabaya.  Seorang cucu lelaki lagi dari anak yang pertama tinggal di Medan.” Untuk membebaskan rasa kepenasaran, saya juga ingin tahu dan bertanya kepada, “mengapa?” Jawaban yang tidak saya duga datang dari lisannya, adalah “……. rumahmu bersih…… Cucu, kalau di rumah kita, semua barang-barang jadi berantakan……”

Jika pada masa seperempat abad-an sebelumnya, tambahan profesi saya adalah Ternak Teri (manganTer aNak dan menganTer isteRi), maka pada hampir dua tahun-an terakhir, profesi itu telah bertambah menjadi Ternak Tericu (menganTer aNak, Isteri, dan Cucu). Semakin lengkap tambahannya adalah Ternak Tericunek (mengaTEr anak, cucu, isteri, dan nenek). Karena nama nenek dari cucu-cucu saya itu adalah Umi (Muzayynah) maka bolehlah akronimnya dibuat “Ternak Teri dan Cumi.” MenganTer aNak, isTERi, CUcu dan nenek UMI. Semoga Allah swt semakin melimpahkan karunia keluarga yang sakiinah, mawaddah, rahmah, dan berkah. Aamiin.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment