More than Just Nation and Character Building
August 29th, 2016 at 2:01 pm
Posted by Mohammad Adib in Inspirations

Oleh: Elsyahfira Nabilla <viralee82@gmail.com>

Menjaga semangat agar tidak mudah surut membutuhkan seni tersendiri. Setiap orang tentu saja memiliki cara yang berbeda dalam menjaga agar motivasi atau semangatnya tidak mudah luntur. Dalam hal ini saya sejak dulu meyakini bahwa selama yakin pasti bisa adalah kalimat yang kerap kali saya dengungkan manakala saya mulai merasa down. Tepatnya di semester empat yang lalu saya menemukan kalimat penyemangat yang baru yakni live your life lively yang artinya adalah hidupilah hidupmu dengan sebaik mungkin dengan caramu sendiri karena yang paham tentang hidup dan dirimu adalah kamu sendiri dan hidupmu berharga oleh karenanya. Hal ini lebih kepada penekanan agar kita tidak terlalu memusingkan hidup orang lain yang lebih daripada kita, fokus saja pada kehidupan kita sendiri karena memang tidak selamanya yang terlihat indah adalah sebenarnya indah. Sawang sinawang.

 

Semester baru telah tiba! Ada mahasiswa yang menyambutnya dengan penuh suka cita, namun ada pula yang menyambut kedatangannya dengan biasa saja dan justru sibuk memikirkan bagaimana caranya agar dapat cepat menyelesaikan skripsi dan kemudian lulus dengan baik dalam keadaan baik-baik. Bagi para mahasiswa baru tentu semester ganjil kali ini bermakna bahwa mereka mulai memasuki tahap kehidupan yang baru di mana jika sebelumnya mereka berangkat menimba ilmu mengenakan seragam putih abu-abu kini berganti menjadi tidak seragam nan penuh warna-warni yang menandakan kebebasan diri meski sebenarnya tidak sepenuhnya bebas toh dikarenakan meskipun berpakaian bebas namun masih harus tetap dalam koridor peraturan berpakaian yang berlaku di kampus. Ya, setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menyambut sesuatu hal yang baru, tidak terkecuali saya yang kini tidak terasa telah menyandang status sebagai mahasiswa semester lima yang menandakan bahwa skripsi sudah tinggal beberapa langkah lagi dan nyaris di depan mata menunggu untuk segera dirampungkan. Resolusi baru dalam rangka menyambut semester baru beberapa telah saya persiapkan meski dalam beberapa hal resolusi saya kali ini tidak terlalu berbeda jauh dengan resolusi saya pada semester-semester terdahulu.

Tiap semester punya cerita. Ya, kesimpulan itulah yang saya dapat setelah melewati empat semester selama ini. Selama empat semester ini pula saya semakin merasa sisi kedewasaan saya saat berpikir maupun bertindak terasah. Hal ini tampak terutama saat di semester empat lalu di mana saya tidak lagi terlalu muluk-muluk menuntut diri saya untuk harus seperti ini atau seperti itu. Ya, kembali saya teringat saat saya masih awal-awal memasuki dunia perkuliahan yang tentu saja semangat akan kuliah masih menggebu-gebu dengan sejuta target yang siap untuk dituntaskan, namun mengingat hal tersebut lantas itu tidak berarti bahwa tambah semester semangat kuliah semakin berkurang, tidak, yang saya ingin tekankan di sini adalah di mana pikiran saya menjadi lebih terbuka seiring berjalannya waktu terhitung dari sejak saat saya mulai melewati semester satu. Pada awalnya saya sangat mudah merasa rendah diri manakala melihat orang yang lebih daripada saya, semacam rumput tetangga lebih hijau. Ya, mungkin memang salah saya memiliki pikiran yang seperti itu, namun di sisi lain saya mengambil hal tersebut sebagai alat motivasi diri saya untuk kemudian dapat menjadi lebih baik atau bahkan menjadi lebih baik dari orang yang saya anggap rumputnya lebih hijau tersebut. Namun seringkali hal tersebut menghantui diri saya sehingga kerap kali seolah-olah, mungkin berlebihan, harga diri saya menghilang begitu saja, apalagi jika saya kurang berhasil dalam hal yang saya yakini betul saya mampu menyelesaikannya dengan sangat baik, wah tidak diragukan lagi selama seharian penuh saya bisa tidak habis-habisnya merutuki diri sendiri dan mencoba mengulang kembali momen tersebut untuk dapat menemukan di mana letak kesalahan saya sehingga saya bisa menjadi kurang berhasil seperti itu.

Seiring berjalannya waktu dan seiring semakin dewasa serta membaiknya pola pikir kini saya tidak terlalu ambil pusing manakala saya kurang berhasil dalam suatu hal. Saya tidak lagi mendakwa diri saya sendiri dan memvonis diri ini payah. Tidak. Saya menganggap kekurangberhasilan saya tersebut sebagai penegur bagi diri saya bahwa memang saya kurang maksimal saat mengerjakan hal tersebut, entah itu terlalu meremehkan atau memang kurang persiapan matang. Seperti halnya saat ujian statistika semester empat lalu. Nilai saya pedih betul dilihat oleh mata sampai-sampai saya memvonis angka bernama nilai di selembar kertas ujian tersebut sebagai aib yang tidak seorang pun boleh tahu, kecuali saya dan Tuhan. Tidak terlalu buruk memang, selama masih belum menyentuh angka bebek saya rasa masih bisa diampuni meskipun kedua mata ini, apalagi hati, tidak sanggup jika harus terus-menerus teringat dan menatap angka yang tertera di selembar kertas tidak berdosa tersebut yang malah menjadi kambing hitam atas kekurangberhasilan saya itu. Masih ada ujian akhir, jadi setidaknya saya diberi waktu pertobatan untuk dapat menyembuhkan luka pada nilai saya tersebut. Kekurangberhasilan saya tersebut alasannya sederhana, saya tidak serius belajar kala itu atas nama ujian berbasis open book. Okelah open book, tapi sama saja kita tetap tidak berdaya meskipun open book jika kita belum memahami betul apa yang sebenarnya ada dan tertulis di buku catatan kita tersebut. Singkatnya, jangan meremehkan apapun itu meski sudah memiliki amunisi sekuat apapun itu. Ya itu lah secuil cerita sederhana dengan pesan bijak di dalamnya. Semester empat yang lalu banyak mengajarkan banyak hal pada saya, tidak hanya menyoal pada berhenti menyalahkan diri sendiri atas kekurangberhasilan melainkan juga terkait dengan hal lainnya, seperti misalnya sesekali perlu bagi diri kita untuk berani keluar dari zona nyaman hingga tidak lagi terlalu memusingkan rumput tetangga yang lebih atau semakin hijau karena memang masing-masing dari kita memiliki hidupnya sendiri-sendiri sehingga kita tidak seharusnya terlalu mengurusi apalagi memikirkan hidup orang lain, sederhananya hidupilah hidupmu sebaik yang kamu bisa karena hidup kita terlalu berharga hanya untuk sekedar membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Ya, kedewasaan diri saya mulai terpupuk semenjak masuk di dunia perkuliahan ini meski masih belum seberapa namun setidaknya sedikit banyak membantu saya untuk tetap bisa berpikir secara waras dan tidak kekanakan.

Mengenai keadaan IP saya di semester empat, saya rasa hal tersebut masih berada dalam batas aman, malah saya nilai itu adalah pencapaian yang tidak terlalu buruk bagi saya mengingat bahwa di semester empat lalu kehidupan perkuliahan semakin “berwarna”. Apabila di semester empat yang lalu saya memasang target IP minimal 3,60 maka untuk semester lima kali ini kurang lebih sama, yakni 3,60. Pak Adib pernah berkata pada saya bahwa apabila saya ingin lulus dengan predikat cum laude maka IP saya sebisa mungkin harus diatas 3,60 dan oleh karena itulah saya menetapkan target minimal IP saya adalah 3,60. Hal yang harus ditingkatkan di semester baru ini selain belajar adalah juga kemampuan dalam mengatur waktu. Mengatur waktu antara kapan untuk mengerjakan tugas dengan belajar yang benar-benar untuk belajar bukan belajar yang sambil dibayang-bayangi oleh segerombolan tugas. Tidak hanya itu, saya juga harus dapat kembali lebih menata jadwal ibadah saya selain menata jadwal belajar. Jadwal belajar, bagi saya, memang tidak terbatas hanya di jam-jam tertentu, melainkan kapan saja dan di mana saja kita dapat belajar, saat mengerjakan tugas pun secara tidak langsung kita dapat sekaligus belajar meski memang tidak seintens saat kita benar-benar memusatkan pikiran untuk belajar. Selain itu, sanksi yang harus saya terima apabila saya belum dapat memenuhi target minimal IP adalah saya diharuskan untuk mereview bacaan, baik itu buku atau pun artikel jurnal yang paling tidak dapat menunjang literatur saya untuk skripsi nanti. Terkait dengan skripsi, sedikit banyak saya mulai memutuskan untuk mengambil tema utama seputar pariwisata. Jika sebelumnya saya berpikiran untuk mengambil topik tentang ziarah wali dengan fokus ingin mengetahui motivasi orang dalam berziarah, maka kali ini bisa jadi saya akan mengambil terkait dengan aspek pariwisatanya, namun belum pasti juga apakah ziarah wali ini yang saya gunakan atau saya akan mencari topik lainnya yang masih berkaitan dengan kepariwisataan. Ada beberapa hal yang saya jadikan opsi lain selain ziarah wali, yaitu mengenai museum dan cagar budaya. Ya, saya sebenarnya ingin mengambil topik terkait dengan cagar budaya untuk skripsi saya, hanya saja untuk sementara ini mungkin aspek yang dapat saya teliti adalah terkait dengan cagar budaya sebagai sarana eduwisata kebudayaan. Seperti halnya yang kita ketahui bahwa banyak cagar budaya yang dimanfaatkan sebagai sarana wisata, seperti misalnya yang umum kita ketahui adalah candi atau makam. Ya sedikit banyak saya mulai terarah untuk memikirkan topik skripsi meskipun belum tahu kedepannya akan ada perubahan atau tidak.

Menjaga semangat agar tidak mudah surut membutuhkan seni tersendiri. Setiap orang tentu saja memiliki cara yang berbeda dalam menjaga agar motivasi atau semangatnya tidak mudah luntur. Dalam hal ini saya sejak dulu meyakini bahwa selama yakin pasti bisa adalah kalimat yang kerap kali saya dengungkan manakala saya mulai merasa down. Tepatnya di semester empat yang lalu saya menemukan kalimat penyemangat yang baru yakni live your life lively yang artinya adalah hidupilah hidupmu dengan sebaik mungkin dengan caramu sendiri karena yang paham tentang hidup dan dirimu adalah kamu sendiri dan hidupmu berharga oleh karenanya. Hal ini lebih kepada penekanan agar kita tidak terlalu memusingkan hidup orang lain yang lebih daripada kita, fokus saja pada kehidupan kita sendiri karena memang tidak selamanya yang terlihat indah adalah sebenarnya indah. Sawang sinawang. Mungkin kalimat tersebut tidak terlalu mengandung unsur membara, namun kalimat tersebut sedikit banyak membantu saya untuk menciptakan kehidupan saya yang lebih baik dengan cara saya sendiri. Selain menjaga semangat, menjaga kesehatan juga tidak kalah pentingnya. Kesehatan yang patut dijaga dalam hal ini adalah kesehatan fisik maupun psikis. Keduanya adalah sama-sama penting dan saling mengisi satu sama lain. Tidak kurang dan tidak lebih, seimbang. Dalam menjaga kesehatan fisik tentu tidak terlepas dari menjaga pola dan gaya hidup. Olahraga juga diperlukan meski itu hanya sekedar olahraga ringan, seperti peregangan misalnya. Terkait dengan kesehatan psikis, kesehatan psikis dapat kita capai manakala kita berusaha untuk membuang segala pikiran negatif dan banyak-banyak mengisi jiwa kita dengan sesusatu yang positif. Rutin beribadah sedikit banyak menuntun kita menuju kesehatan psikis yang lebih baik.

Ya itulah sedikit banyak evaluasi semester empat yang lalu beserta beberapa harapan agar di semester lima ini bisa menjadi lebih baik lagi. Kita tunggu saja kejutan apalagi yang kira-kira akan muncul di semester ganjil yang seolah-olah sarat akan tantangan yang semakin ini. Apakah di semester lima ini akan sama saja dengan semester empat? Atau apakah justru akan lebih berwarna? Kita tunggu saja kedatangannya sembari berdoa agar semua baik-baik saja karena memang setiap semester memiliki ceritanya masing-masing. Semester baru, cerita baru, pribadi baru!


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment