More than Just Nation and Character Building
October 12th, 2013 at 1:08 am
Posted by Mohammad Adib in Introduction of Anthropology

OLEH: LATIFATUL FATIMAH (071311733017) S1 ANTROPOLOGI 2013. Hari pertama bersama dosen yang baru saya berpikir di ajar pak pujio sama pak adib lebih enak di ajar pak pujio, tepat pukul 14.25 beliau sudah datang sedangkan pak pujio pukul 13.15 baru datang, kelihatannya juga pak adib orangnya judes, tidak bertoleransi, galak, itu yang terlintas di pikiran saya pertama. Tetapi dugaan itu salah, ternyata lebih asyik di ajar pak adib. bapak Drs. H. Mohammad Adib, MA ternyata beliau adalah dosen yang ramah, lucu, tidak membosankan, beliau dalam menyampaikan materi pegantar Antropoogi lebih detail dan jelas. Pak adib memberikan contoh yang sangat mudah dipahami, beliau menggunakan contoh yang sekarang ada di sekitar kita dalam penyampaian materi itulah yang menjadikan saya paham dan lebih cepat mengerti apa yang disampaikan beliau. Bapak adib juga menanamkan mahasiswa antropologi untuk mengikuti motto universitas airlangga “excelent with morality” bahkan pak adib juga memberikan motto pada mahsiswa antropologi “cerdas, berakhlaq, mulia”.

Rabo, 2 Oktober 2013 adalah hari pertama di ajar pak adib. Saya dan temen saya nebak karakter dosen yang ada di hadapan kita belum berbicara apa-apa sudah nyatat poin-poin yang akan dibahas nanti, di dalam pikiran saya dosen ini kaku dalam memberikan materi, dan bikin mengantuk. Tetapi setelah beliua berbicara dugaan itu mulai hilang satu persatu, gaya bahasa yang digunakan seperti seorang MC di suatu acara, yang paling saya ingat beliau berbicara ” Kesehatan itu memang bukanlah segala-galanya tetapi tanpa kesehatan segalanya tidak berarti “, di situ saya mulai menghilangkan pikiran tadi, “dosen ini lucu dan tidak membosankan” serentak berubah pikiran saya. Dari gaya bahasanya sudah beda dari dosen yang lain itu yang menjadikan dugaan saya serentak berubah. Dan ternyata itu semua benar, selang beberapa waktu, kami mahasiswa antropologi di buat tertawa lepas oleh beliau. Waktu itu ada mahasiswa yang telat masuk di suruh berhenti pak adib tepat di depan dan di tengah-tengah, dengan gaya bahasa pak adib yang tiap berbicara matanya terpejam dan seperti tidak bersemangat beliau nyuruh anak itu mengenalkan nama, nama orang tua, jumlah saudara, SD, SMP, SMA, berjanji tidak ngulangin lagi, dan katanya di suruh duduk di bangku kehormatan, semua serentak pada tertawa. Di situlah saya mulai nyaman di ajar pak adib. Beliau selalu menanamkan pada kami harus benar-benar menjadi mahasiswa yang “excelent with morality” cerdas tidak cukup kalau kita tidak bermoral dan berakhlaq, itu yang menjadi motivasi hidup saya saat ini kejujuran sangat di perlukan. Dan saat itu juga pak adib memberikan motto untuk kami “cerdas, berakhlaq, mulia” dosen yang sekaligus motivator juga.

Pada pertemuan pertama, beliau menjelaskan poin-poin yang akan di bahas dalam mata kuliah antropologi (konsep manifes kebudayaan) :

  1. Pengertian Etimologi dan Terminologi kebudayaan
  2. Kategori-kategori kebudayaan menurut para ahli
  3. Unsur-unsur kebudayaan
  4. Kerangka kebudayaan
  5. Keterkaitan unsur dan wujud kebudayaan
  6. Karekteristik kebudayaan
  • Definisi Etimologi kebudayaan: kebudayaan berasal dari bahasa sanskerta duddhayah bentuk jamak dari buddhi yang berarti : akal dan daya yang berarti : karya
  • Definisi Terminologi kebudayaan: kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, rasa dan hasil karya manusia dan dijadikan untuk belajar.

Definisi kebudayaan menurut para ahli :

Cruber dan Cluchon : seperangkat peraturan-peraturan yang apabila dipenuhi oleh masyarakat akan menghasilkan perilaku yang dianggap layak yang dapat diterima anggotanya. Contoh: tidak masuk kuliah lebih dari 25% tidak boleh mengikuti UAS

E.B Taylor : kompleks seluruh yang mencakup pengetahuan itu diotak, keyakinan ada di hati, moral, adat istiadat, dan berbagai kemampuan dan berbagai kebiasaan yang diperoleh manusia terhadap anggota masyarakat. Contoh : orang didaerah pegunungan jalannya cenderug membungkuk

Clifort Gerzt: system konsep dan pola makna yang diwariskan dan terungkap dalam bentuk simbolk yang dengan cara itu manusia berkomunikasi melestarikan dan mengembangkan pengetahuan serta sikapnya tentang kehidupan.

Glifort adalah peneliti yang dating di Indonesia, meneliti kebudayaan di jawa timur tepatnya di pare “Kediri”, dan menulis buku “the religion of java” yang menjelaskan strata kehidupan di jawa. Ada 3 strata yang ada di jawa:

  1. Santri
  2. Abangan
  3. Priyayi

2 poin itulah yang di jelaskan pak adib pada kami (mahasiswa antropologi). Tak terasa kelas pun harus diakhiri. Beliau pun mengingatkan kami untuk berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Saya berharap bias menjadi mahasiswa yang cerdas, berakhlak, mulia seperti jargon yang di berikan beliau.***


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment