More than Just Nation and Character Building
November 4th, 2013 at 6:11 am
Posted by Mohammad Adib in Jatidiri and Characters, Learning Pancasila, Study Excursie

Eka Nur Fitriani/081311433037 /FST. “…..Pengalaman yang spektakuler dan penuh kekaguman ini merupakan suatu anugrah buat saya. Bagaimana tidak ? saya bisa mengunjungi sebuh tempat yang begitu menakjubkan, tempat dimana terdapat sebuah cinta keharmonisan yang luar biasa yaitu desa pancasila di Tengger Pasuruan. Thanks for study excursie 2013. Saya juga berterimakasih buat kelompok saya yang memberi kesempatan untuk saya mengikuti perjalanan excellent tanpa batas ini.” “….Dan perbedaan itu bisa terjadi pada semua sisi kehidupan, termasuk prinsip atau profesi. Karena itulah, seharusnya perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, justru seharusnya menjadi sumber kekuatan. Yang dibutuhkan dari kita adalah rasa saling menghargai , saling membutuhkan satu sama lain. Seandainya semua jadi penjual, siapa yang akan membeli ?? Penjual butuh pembeli dan seballiknya pembelipun butuh pedagang.” “…Keesokan harinya, kami menyempatkan untuk jalan-jalan di Desa Tosari. Selama perjalanan kami melewati rumah-penduduk dan mereka menyapa kami dengan hangat. Senang sekali rasanya. Benar-benar, pengabdian untuk masyarakat itu harus ada. Setelah itu kami juga membatu ibu Ida memasak mie. Lalu kami menikmati sarapan yang super lezat. Sebelum kami meninggalkan rumah ini kami berkesempatan untuk berfoto. Saat foto saya merasa bangga sekali Indonesia mempunyai suku Tengger ini. ” “…Pukul 11.30 akhirnya kami harus bersiap meninggalkan desa Tosari. Desa Pancasila yang mempunyai berjuta keindahan dan keharmonisan yang dapat dibagikan bagi masyarakat lain. Sedih rasanya harus meninggalkan tempat penuh penghargaan, kerukunan dan keharmonisan ini. Inilah tempat sebenarnya untuk menjadi cermin kita bahwa perbedaan itu harmonis..” “…Kita sebagai mahasiswa Universitas Airlangga harus dapat mengamalkan apa yang sudah kita dapat dari kegiatan study excursie ini. Dan tetap menanamkan dan mengamalkan “excellent wint morality”. Bukan hanya diucap tapi kita lakukan.”

  1. PENGANTAR

Puji syukur Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya yang dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Essay bebas yang berjudul ” Perbedaan Itu Romantis , Kawan”. Penulisan essay bebas ini merupakan salah satu tugas setelah mengikuti Study Excursie di Desa Tengger Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Dalam penulisan Essay bebas ini penulis masih merasa banyak kekurangan, baik teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi pnyempurnaan pembuatan Essay bebas ini. Selain itu juga penulis ucapkan terima kasih kepada :

  1. Drs. H.Mohammad adib, MA selaku ketua panitia dan dosen pembimbing Study Excursie.
  2. Drs. Saikhu Akhmad Husen, M.Kesselaku dosen PpKn Universitas Airlangga.
  3. Keluarga besar Universitas Airlangga atas dukungannya dalam pelaksanaan stdy excursie.

Penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan kepada mereka yang telah memberikan bantuan dan dapat menjadikan semua bantuan sebagai pahala, aamiin.

Perbedaan sudah merupakan fitrah manusia. Seperti telah didhawuhkan dalam maqalah yang telah masyhur “Kesepakatan semua manusia adalah tujuan yang tidak akan bisa terwujud”.

Dan perbedaan itu bisa terjadi pada semua sisi kehidupan, termasuk prinsip atau profesi. Karena itulah, seharusnya perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, justru seharusnya menjadi sumber kekuatan. Yang dibutuhkan dari kita adalah rasa saling menghargai , saling membutuhkan satu sama lain. Seandainya semua jadi penjual , siapa yang akan membeli ?? Penjual butuh pembeli dan seballiknya pembelipun butuh pedagang.

Dalam bermusyawarah misalnya, kita perlu mendengarkan pendapat orang lain, bukan hanya mengeluarkan pendapat tanpa peduli dengan pendapat orang lain. “Marilah belajar mengelola perbedaan bukan memaksakan persamaan”.

  1. KONSEP POKOK

    Adapun konsep pokok dari acara study excursie :

    1. Toleransi yang kuat antar masyarakat suku Tengger
    2. Perbedaan agama yang dapat disatukan dengan kebudayaan adat yang kokoh
    3. Menumbuhkan cinta tanah air bagi peserta study excursie
    4. Kebersamaan masyarakan suku tengger dengan peserta study excursie
    5. Menerapkan “Excellent with Morality” pada jiwa ksatria Airlangga
  1. PEMBAHASAN

Pengalaman yang spektakuler dan penuh kekaguman ini merupakan suatu anugrah buat saya. Bagaimana tidak ? saya bisa mengunjungi sebuh tempat yang begitu menakjubkan, tempat dimana terdapat sebuah cinta keharmonisan yang luar biasa yaitu desa pancasila di Tengger Pasuruan. Thanks for study excursie 2013. Saya juga berterimakasih buat kelompok saya yang memberi kesempatan untuk saya mengikuti perjalanan excellent tanpa batas ini.

Sabtu, 19 Oktober 2013 kami para Ksatria Airlangga dari berbagai fakultas berkumpul di depan gedung rektorat kampus C Universitas Airlangga dengan semangat yang kami bawa dalam langkah kami. Sekitar pukul 07.30 kami mulai untuk registrasi peserta. Kami mendapatkan buku study excursie yang didalamnya terdapat tulisan dari Pak Guntur yang begitu indah dan memotivasi selain itu kami juga mendapatkan kaos J. Setelah itu upacara pemberangkatan atau pelepasan rombongan study excursie oleh Bapak Wakil Rektor I Universitas Airlangga, Prof. Dr. H.Syahrani, Apt.,MS. Pada upacara pelepasan ini dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne airlangga dan mengheningkan cipta. Begitu syahdunya suasana saat kami para Ksatria Airlangga mnyenandungkan lagu-lagu tersebut. Setelah itu ada sambtan dari Pak Adib selaku ketua Study Excursie. Disini Pak Adib dengan semangat membaranya menerangkan apasih macam-macam dari Excellent with Morality. Lalu ada sambutan dari Pak syahrani selakku Wakil Rektor. Upacara pelepasan ini menurut saya seperti pelepasan seorang pahlawan untuk membela bangsa. So amazing for me.

Setelah upacara pelepasan / pemberangkatan selesai, sekitar pukul 08.15 wib kami memulai perjalan ke lokasi pertama yaitu di Pendopo ” Nyawiji Ngesti wengoning Gusti” Kabupaten Pasuruan untuk Studium Generale dan Dialog I . Pejalan ini menempuh waktu 2 jam. Selama perjalanan, bis 1 saling mengakrabkan diri dengan warga bis 1 yang didalamnya terdapat dosen pembingbing yaitu Drs. H.Mohammad adib, MA dari FISIP , dr.R. Moh Teguh Wahyudi, M.Kes. dari FK dan Drs. Ajar Triharso, M.S. dari FISIP. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 11.15. Sesampainya disana kami melihat pendopo yang agung nan megah. Pertama kami menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Airlangga dan mengheningkan cipta. Lalu kami membaca bersama-sama Deklarasi Kerukunan Hidup Mahasiswa Indonesia berbasis Bhinneka Tunggal Ika dan Kesadaran Kemajemukan. Disini telah hadir narasumber yaitu H. Irsyad Yusuf selaku Bupati Pasuruan dan Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si selaku ketua LPPM Universitas Airlangga. Tetapi , Bapak Bupati Kabupaten Pasuruan pada waktu itu berhalangan untuk hadir maka digantikan oleh H.Agus Setiadji selaku sekretaris daerah.

Sambutan pertama disampaikan oleh Bapak Djoko. Beliau menjelaskan point-point pengertian Excellent with Morality. Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa siapapun berhak untuk mendapat pendidikan, terutama untuk bisa belajar di perguruan tinggi. Tidak ada alasan untuk tidak mendapatkan pedidikan. Kesulitan ekonomi bukanlah suatu halangan untuk menempuh pendidikan. Banyak beasiswa yang dapat kita dapatkan untuk belajar. Contonhya yaitu adanya bidikmisi.

Sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Agus Setiadji. Beliau menyampaikan tentang profil Kabupaten Pasuruan secara global. Di Kabupaten Pasuruan juga berkembang gama islam , Hindu , Budha , Katolik dan Protestan. Masyyarakat disana saling membangun kebersamaan , saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada. Masyarakat disana sangat mensyukuri adanya suatu perbedaan. Beliau menjelaskan bahwa di Pasuran terdapat suku tengger. Tengger ini dibagi menjadi 2 yaitu Tengger sabrang kulon yang ada di Tosari dan Tengger sabrang wetan yang ada di Probolinggo. Masyarakat tengger menganut agama Hindu Tengger, berbeda dengan agama hindu di Bali. Disana kehidupan masyarakatnya tentram dan ayem.

Selesai sambutan-sambutan acara ditutup do’a yang dipimpin oleh Bapak tokoh amama islam daerah sana. Berakhirlah kegiatan di lokasi I dan dilanjutkan dengan ISHOMA. Sekitar jam 13.00 kami melanjutkan perjalan ke lokasi k 2 yaitu di “Pendopo Agung” Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan untuk Studium Generale dan dialog II. Untuk menuju ke lokasi II kami harus pindah dari bis ke elf untuk dapat melewati jalan yang berkelok-kelok tetapi penuh dengan pemandangan yang luar biasa indah.

Sesampainya di lokasi II pada pukul 17.00 wib. Saat keluar dari elf terasa dingin yang menyentuh kulit dan pemandangan sunset yang membuat saya berdecak kagum atas keindahan yang telah dibuat oleh Allah SWT. Dalam dialog yang bertema ” Dialog Pradaban Lintas Agama dan Budaya: Penerapan Kehidupan Multikultura. Kebhinnekaan , dan Solidaritas Sosial Terbuka” ini terdapat narasumber yaitu Tokoh Agama Islam (Bapak Heri Istanto, S.Pd.) , Tokoh Agama Hindu ( Bapak Eko Warnoto) , Tokoh Agama Kristen (Bapak Arno, S.Th.) dan Budayawan yang tinggal di Pasuruan ( Bapak Guntur Bisowarno, S.S. Apt.). akan tetapi pada kesempatan kali ini tokoh agama islam tidak dapat datang.

Dalam dialog ini Bapak Eko dan Bapak Arno menjelaskan tentang adat masyarakat suku Tengger. Salah satunya adalah Upacara Karo. Sebelum itu pak Eko menyampaikan bahwa orang tengger itu sudah diajarkan “ingat” terhadap nenk moyang mereka. Termasuk upacara Karo ini termasuk penghargaan terhadap nenek moyang. Upacara Karo ini dilakukan setiap sasa (bulan purnama). Upacara ini mengingatkan masyarakat tengger tentang asal mula terjadinya atau adanya manusia. Di dalam uacara karo terdapat suatu tarian yang khas yang hanya ditarikan saat uparacara karo yaitu Tari Sodoran. Properti yang digunakan dalam Tari sodoran adalah bambu kecil yang di dalamnya berisi 5 macam biji-bijian seperti jagung, percis dan lain lain yang mempunyai makna ” Panca Maha Cipta”. Dalam upacara karo tak lepas dari sesajen diantaranya adalah 25 tumpeng, 25 takir, gedang ayu dan beras fitrah. Angka 25 tersebut menggambarkan anak dari Roro anteng dan Joko Seger. Selama hari raya karo 2 minggu tersebut , penduduk tengger saling berkunjung ke rumah tetangga dan wajib mencicipi suguhan yang telah disediakan.

Untuk kehidupan masyarakat suku Tengger dalam kemajemukan agama, mereka mempunyai rasa menghargai dan toleransi yang tinggi. Walaupun sudah bertahun-tahun hidup bersama dengan perbedaan, mereka tidak pernak ada konflik. Di dalam suku Tengger ini terdapat 3 agama yaitu Hindu, Kristen dan Islam. Mayoritas suku Tengger ini memeluk agama Hindu. Menurut mereka kebudayaan adalah suatu anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai pelengkap kerukunan dalam suatu perbedaan. Masyarakat suku Tengger mempunyai salam yang dapat menyatukan mereka yaitu ” Hong kulun Basuki Langgeng – langgeng Basuki”. Itulah wujud kebersamaan mereka, wujud dari kedewasaan cara berpikir terhadap perbedaan yang ada.

Setelah itu, dilanjutkan oleh Bapak Guntur. Beliau memberi motivasi kita dan menyadarkan kita jika di dalam tubuh kita, di dalam napas kita terhadap Tuhan. Tuhan selalu ada bersama kita. Beliau juga menyampaikan bahwa adat itu datangnya dari kebiasaan yang diulang terus-menerus. Bapak Guntur ini menambah semangat kita di sore hari yang semakin dingin.

Pukul 18.30 kami mengakhiri dialog bersama para tokoh agama suku Tengger. Begitu banyak pengetahuan yanng kami peroleh disini. Benar-benar membuka wawasan kami. Kami pun keluar dari pendopo, angin malam dan dinginnya kaki gunung Bromo terasa menyentuh tulang kami. Sungguh pengalaman yang menarik dan tak terlupakan.

Setelah itu kami diantarkan ke rumah penduduk untuk menginap. Disana kami disambut degan ramah oleh ibu dan bapak pemilik rumah. Saya dan rekan bis 1 ditempatkan di Desa Tosari sedangkan teman-teman yang lain di desa lain. Saat memasuki rumah kaki kami menyentuh keramik tapi rasanya kami sedang menginjak es saja. Sangat dingin. Di meja tamu pun sudah tersedia teh hangat yang langsung membuat mata kami berbinar dan juga makana kecil. Tak lupa makan malam yang lezat menyambut kedatangan kami.

Setelah makan malam kami mempunyai kesempatan untuk berbincang-bindang dengan ibu-ibu di dapur. Meliau menceritakan bagaimana kehidupan di suku Tengger ini berlangsung. Mereka tidak pernah mempunyai konflik satupun. Hal ini dikarenakan masyarakat suku Tengger bekerja keras sampai sore sampai tidak sempat bergosip dengan tetangga. Walaupun begitu mereka tida individualis. Mereka selalu bergotong-royong. Kedua ibu ini mempunyai keyakinan yang berbeda , yaitu kristen dan islam. Kami pun meihat kerukuhan yang harmonis diantara kedua ibu ini. Walaupun baru eberapa menit kami berbincang , serasa mereka adalah keluarga kita yang sudah bertahun-tahun. Sungguh harmonis , kawan. Tidak lupa kami juga membantu ibu-ibu ini memasak. Tepatnya sih diajari ibu-ibu ini memasak. Selanjutnya adalah waktunya kami beristirahat.

Keesokan harinya, kami menyempatkan untuk jalan-jalan di Desa Tosari. Selama perjalanan kami melewati rumah-penduduk dan mereka menyapa kami dengan hangat. Senang sekali rasanya. Benar-benar, pengabdian untuk masyarakat itu harus ada. Setelah itu kami juga membatu ibu Ida memasak mie. Lalu kami menikmati sarapan yang super lezat. Sebelum kami meninggalkan rumah ini kami berkesempatan untuk berfoto. Saat foto saya merasa bangga sekali Indonesia mempunyai suku Tengger ini.

Kami pun berjalan menuju ke lokasi yang menjadi puncak kegiatan study excursie ini yaitu di Balai desa tosari untuk melihat upacara karo berlangsung. Mata kami selalu terpaku saat melihat kerukukan yang terjalin antar penduduk suku Tengger ini. Semua ikut terlibat dalam hari raya besar ini. Upacara ini diawali dengan iring-iringan para penari sodoran bersama tamu spesial yang disambut dengan tarian selamat datang oleh anak-anak kecil nan lucu. Setelah itu ada tari sodoran yang disambut dengan antusias oleh masyarakat suku Tengger. Adapun lomba menari sodoran yang diikuti oleh 8 desa dengan kostum yang berbeda-beda. Kami merasakan makna yang luar biasa mendalam dalam upacara ini.

Pukul 11.30 akhirnya kami harus bersiap meninggalkan desa Tosari. Desa Pancasila yang mempunyai berjuta keindahan dan keharmonisan yang dapat dibagikan bagi masyarakat lain. Sedih rasanya harus meninggalkan tempat penuh penghargaan, kerukunan dan keharmonisan ini. Inilah tempat sebenarnya untuk menjadi cermin kita bahwa perbedaan itu harmonis, kawan J

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan :

Dari study excursie ini saya dapat menyimpulkan bahwa kita harus menghargai perbedaan dalam kehidupan.

Saran :

Kita sebagai mahasiswa Universitas Airlangga harus dapat mengamalkan apa yang sudah kita dapat dari kegiatan study excursie ini. Dan tetap menanamkan dan mengamalkan “excellent wint morality”. Bukan hanya diucap tapi kita lakukan.

  1. DAFTAR PUSTAKA
    1. http://madib.blog.unair.ac.id/category/study-excursie/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment