More than Just Nation and Character Building
October 9th, 2013 at 8:50 am
Posted by Mohammad Adib in Introduction of Anthropology, Jatidiri and Characters

Oleh: GALUH TUHU RAHAYU, 071311733038, PRODI: ANTROPOLOGI SOSIAL. “Jargon yang dikeluarkan oleh Universitas Airalangga Surabaya “Excellent With Morality” adalah salah satu dari bentuk kebudayaan. Jargon tersebut dibentuk karena adanya pemikiran, gagasan atau ide yang terbentuk dalam proses interaksi yang dilakukan oleh seluruh lapisan pelaku yang terlibat dalam lingkuo Universitas Airlangga Surabaya. Jargon ini juga memiliki arti yang sangat kompleks, karena arti yang terkandung dalam jargon ini sangat berpengaruh bagi siapapun yang dinaungi oleh pemilik jargon tersebut.” “…Seseorang diwajibkan memiliki sebuah kepandaian dibidang apapun, gunanya tidak lain untuk mempertahankankan diri dari appaun yang dapat mempengaruhi keberadaannya. Akan tetapi kepandaian yang dimiliki seseorang tidak akan berguna jika miral atau kelakuan yang dimiliki tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat sekitar. Jadi kepandaian atau kecerdasan seseorang seharusnya dibarengi dengan adanya moral atau kelakuan yang dapat diterima oleh masyarakat sekitar, sehingga akan dapat terjadinya korelasi yang cukup baik antara individu dengan kelompok.”
Manusia adalah makhluk yang berbudaya, mereka hidup bersama-sama melakukan sebuah interaksi yang selalu menghasilkan budaya. Mengapa bisa seperti itu? Karena budaya berasal dari kata Sansekerta BUDDHAYA yang merupakan bentuk jamak kata BUDDHI yang berarti budi atau akal. Jadi setiap hasil dari interaksi yang dilakukan oleh setiap manusia menghasilkan budaya. Budaya mempunyai 7 unsur yang melingkupinya, yaitu bahasa, teknologi, ilmu pengetahuan, mata pencaharian, organisasi sosial, kesenian dan yang terakir adalah religi atau kepercayaan.

Jargon yang dikeluarkan oleh Universitas Airalangga Surabaya “Excellent With Morality” adalah salah satu dari bentuk kebudayaan. Jargon tersebut dibentuk karena adanya pemikiran, gagasan atau ide yang terbentuk dalam proses interaksi yang dilakukan oleh seluruh lapisan pelaku yang terlibat dalam lingkuo Universitas Airlangga Surabaya. Jargon ini juga memiliki arti yang sangat kompleks, karena arti yang terkandung dalam jargon ini sangat berpengaruh bagi siapapun yang dinaungi oleh pemilik jargon tersebut.

Seseorang diwajibkan memiliki sebuah kepandaian dibidang apapun, gunanya tidak lain untuk mempertahankankan diri dari appaun yang dapat mempengaruhi keberadaannya. Akan tetapi kepandaian yang dimiliki seseorang tidak akan berguna jika miral atau kelakuan yang dimiliki tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat sekitar. Jadi kepandaian atau kecerdasan seseorang seharusnya dibarengi dengan adanya moral atau kelakuan yang dapat diterima oleh masyarakat sekitar, sehingga akan dapat terjadinya korelasi yang cukup baik antara individu dengan kelompok.

Kebudayaan telah ada sejak dulu, sebelum adanya kehidupan sperti sekarang kebudayaan telah lahir dan kebudayaan tidak akan pernah mati oleh jaman. Kebudayaan akan terus ada seiring dengan kehidupan yang ada. Kebudayaan melahirkan 3 wujud nyata yaitu ide atau gagasam, budaya, dan fisik. 3 wujud ini akan terus melekat pada kebudayaan yang dilahirkna oleh masyarakat dari adanya sebuah interaksi sosial yang tercipta ditengah-tengah masyarakat.

Kebudayaan yang tercipta akibat adanya interaksi sosial yang ada didalam masyarakat akan berbeda-beda, ini dipengaruhi oleh adanya pemikiran, gagasan atau ide yang muncul berbeda-beda antara satu manusia dengan menusia yang lain. Sehingga terbentuklah kebudayaan yang berbeda-beda pada setiap kelompok masyarakat yang ada, sesuai pemikiran yang timbul dalam kelompok masyarakat itu sendiri.***


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment