More than Just Nation and Character Building
November 4th, 2013 at 5:34 am
Posted by Mohammad Adib in Jatidiri and Characters, Learning Pancasila, Study Excursie

Oleh: Kartika Octa (kartikaocta99@yahoo.co.id). “….Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika saya akan merasakan pengalaman yang tak terlupakan ini. Mempelajari kehidupan dari aspek perbedaan agama dan budaya. Inilah yang saya dapatkan ketika mengikuti kegiatan “Study Excursie” di kabupaten Pasuruan. Melakukan dialog peradaban lintas agama dan budaya dengan menerapkan kehidupan multicultural dan kerukunan antar umat beragama, Pada Sabtu-Minggu, 19-20 Oktober 2013.” “…..Selama perjalanan saya mendapatkan banyak teman baru dan berbagai hal yang menarik. Saya berkenalan dengan teman-teman dari berbagai fakultas dan mereka berasal dari berbagai daerah. Seperti Batam, Papua, NTT, Padang, dll.kami saling berbagi cerita dan pengalaman mengenai daerah asal kami. Dan dari sini pula saya mendapatkan hal baru, yakni perbedaan kebiasaan, budaya dan agama diantara kami.” “…Ada beberapa perkataan beliau yang begitu membekas dalam ingatan saya, yakni “ada Tuhan pada setiap hembusan nafas kita. Maka saat kita berhenti menghembusakan nafas, hanya jasad kita yang mati bukan jiwa kita. Jiwa kita tetap hidup sehingga Tuhan tidak akan pernah mati”. “…..Inilah kegiatan terakhir kami yang begitu menakjubkan. Sebenarnya masyarakat Tengger menganut tiga agama yang berbeda, yakni Islam, Kristen dan Hindhu baik Hindhu Jawa, Hindhu Bali Maupun Hindhu Tengger. Namun, tak pernah ada masalah dengan perbedaan yang mereka miliki. Justru dengan perbedaan yang ada, membuat kebersamaan mereka semakin terjalin dengan baik. Agaknya kita perlu mencontoh perilaku masyarakat Tengger, yang menjadikan suatu perbedaan menjadi suatu kebudayaan yang layak untuk dilestarikan. Terimakasih Tengger, telah mengajarkan berbagai hal yang begitu berharga.”
Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika saya akan merasakan pengalaman yang tak terlupakan ini. Mempelajari kehidupan dari aspek perbedaan agama dan budaya. Inilah yang saya dapatkan ketika mengikuti kegiatan “Study Excursie” di kabupaten Pasuruan. Melakukan dialog peradaban lintas agama dan budaya dengan menerapkan kehidupan multicultural dan kerukunan antar umat beragama, Pada Sabtu-Minggu, 19-20 Oktober 2013. Kami memulai perjalanan hari Sabtu 19 Oktober 2013, berangkat dari kampus C Universitas Airlangga. Sebelumnya kami melaksanakan upacara pemberangkatan bersama bapak wakil Rektor dan tepat pada pukul 08.00 WIB kami memulai perjalanan menuju lokasi kegiatan. Selama perjalanan saya mendapatkan banyak teman baru dan berbagai hal yang menarik. Saya berkenalan dengan teman-teman dari berbagai fakultas dan mereka berasal dari berbagai daerah. Seperti Batam, Papua, NTT, Padang, dll.kami saling berbagi cerita dan pengalaman mengenai daerah asal kami. Dan dari sini pula saya mendapatkan hal baru, yakni perbedaan kebiasaan, budaya dan agama diantara kami.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan,sekitar pukul 10.30 WIB kami tiba di Pendopo “Nyawiji Ngesti Wengonging Gusti” Kabupaten Pasuruan. Kami disambut dengan begitu hangat dan ramah. Berbagai penjelasan mengenai Kabupaten Pasuruan secara umum dan khususnya kecamatan Tosari yang disebut dengan Desa pancasila, masyarakat Tengger mampu menjaga keaslian nilai-nilai budayanya dan tetap bersikap sopan santun pada para wisatawandengan kebhinekaan yang dapat membangun kebersamaan. Penjelasan tersebut disampaikan oleh bapak H.Irsyad Yusuf selaku Bupati Pasuruan. Kemudian juga ada sambutan dari bapak Dr.Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si selaku Ketua LPPM Universitas Airlangga. Setelah acara selesai, kami diberi waktu untuk istirahat, sholat dan makan. Barulah kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi ke dua.

“Hongkulung Basuki Langgeng” jawab: “Langgeng Basuki” itulah salam khasnya orang Tengger. Setiap masyarakat suku Tengger akan mengucapkan salam tersebut saat bertemu dengan orang lain maupun memulai sebuah acara. Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB dan tibalah kami di lokasi ke dua, yakni di “Pendopo Agung” Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Disinilah kami melakukan dialog peradaban lintas agama dan budaya: penerapan kehidupan Multikultural, Kebhinekaan, dan Solidaritas sosial terbuka. Bersama tokoh-tokoh agama dan budayawan. Penjelasan pertama disampaikan oleh bapak Eko Warnoto selaku tokoh agama Hindhu. Beliau menyampaikan berbagai hal mengenai budaya di suku Tengger, salah satunya adalah upacara adat “Karo”. Upacara Karo dilaksanakan setiap malam bulan purnama sebagai wujud persembahan kepada “Sang Hyang ing Dumadi”. Di dalam upacara Karo terdapat suatu tarian yang disebut dengan “Tari Sodoran”, tari ini menggambarkan bagaimana proses terjadinya manusia. Kehalusan perasaan dalam tarian ini, tidak dapat disampaikan secara terang-terangan melainkan melalui suatu simbol-simbol. Simbol tersebut berupa wuluh atau bambu panjang yang berisi biji-bijian seperti jagung, percis, pencet. Wuluh melambangkan peran wanita dan pria atau bertemunya bibit wanita dan pria, sedangkan biji-bijian melambangkan bibitdari wanita dan pria itu sendiri. Pada saat menarikan, bambu harus dipukul hingga pecah dan biji keluar dari dalam bamboo. Sehingga tari sodoran bermakna bagaimana bertemunya bibit wanita dan pria hingga menjadi komunitas suku Tengger. Tarian ini hanya bisa dibawakan saat upacara pembukaan Karo, karena harus dibacakan mantra “Peti Joyo”. Setelah puncak acara, masing-masing warga melaksanakan upacara sendiri-sendiri selama dua minggu berturut-turut.

Cara mereka untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, ialah dengan memberikan sesajen atau peker yang berisi gedhang ayu sebagai pelinggih, dan beras pitrah (gula, beras, pisang, kelapa) sebagai aturan untuk leluhur. Dalam upacara ini juga terdapat 25 tumpeng, takder, gedhangan, gamelan, pras (tampah). Angka 25 menggambarkan 25 leluhur yang ada pada jaman Mahabaratha. Pakaian yang dikenakan saat upacara adat antara lain ialah slempang kuning, sabuk, cemeti (keris/pusaka), luncuran, dan anju.

Pembicara kedua ialah Pendeta Arnold selaku tokoh agama Kristen, berikut ini adalah beberapa hal yang beliau sampaikan. Kebudayaan ialah anugerah dari Tuhan, dan setiap masyarakat Tengger punya kewajiban melestarikan budaya. Semua agama ikut melaksanakan semua adat-istiadat, karena terdapatsuatu nilai luhur. Saat Karo, masyarakat salingberkunjung ke tempat-tempat saudara atau tetangga dan mereka harus mencicipi jamuan yang telah disediakan, walaupun hanya sedikit. Sebagai penghornatan pada tuan rumah.

Dan pembicara terakhir ialah bapak Guntur, seorang budayawan yang tinggal di Pasuruan. Beliau menjelaskan apa itu budaya, dan bagaimana budaya yang ada di Tengger. Ada beberapa perkataan beliau yang begitu membekas dalam ingatan saya, yakni “ada Tuhan pada setiap hembusan nafas kita. Maka saat kita berhenti menghembusakan nafas, hanya jasad kita yang mati bukan jiwa kita. Jiwa kita tetap hidup sehingga Tuhan tidak akan pernah mati”.

Tak terasa kegiatan kedua telah berakhir, banyak hal yang dapat kami ambil sebagai suatu pelajaran. Dan semoga dapat memberi manfaat untuk kehidupan kami dalam bermasyarakat. Hari semakin gelap, dan hawa dingin semakin merasuk dalam pori-pori, kami yang terbiasa dengan cuaca panas di Surabaya tidak tahan dengan hawa dingin di Tengger, walaupun kami mengenakan pakaian tebal, tapi kami tetap menggigil kedinginan. Mungkin butuh waktu untuk melakukan penyesuaian dengan suhu disini. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melanjutkan kegiatan studi lapangan di rumah penduduk, dan juga bermalam disana. Saya berkesempatan untuk tinggal di rumah penduduk muslim, di dusun Kletek Kecamatan Tosari. Pemilik rumah bernama bu Sumantri, beliau memliki dua orang putra. Kami disambut dengan penuh ramah dan hangat, beliau juga mnyiapkan berbagai jamuan. Disana kami melakukan interaksi kepada beliau mengenai perbedaan agama di suku Tengger. Beliaupun bercerita banyak tentang hal tersebut. Hari semakin larut, kami pun beristirahat dan memulai kegiatan kembali pada esok hari.

Dan inilah saat yang paling saya tunggu-tunggu, menyaksikan pembukaan upacara adat Karo tahun 1935 Saka. Saat upacara berlangsung, ketua adat menceritakan asal mula upacara karo dan makna dalam Tari Sodoran. Masyarakat Tengger juga memiliki alat musik tradisional, yang disebut “Slompret” sebagai wujud persembahan pada leluhur. Slompret terbagi menjadi tiga bagian, yakni kepala, badan dan ekor. Slompret tersebut berbentuk binatang menyerupai Naga yang melambangkan penjaga alam yang memperkokoh jagad raya. Kepala, sebagai perwujudan alam. Badan slompret yang berlubang menggambarkan Sembilan lubang yang ada pada manusia. Dan ekor yang melambangkan alam sua atau nirwana, sebagai pencerminan suatu perasaan atau kehalusan budi kita.

Inilah kegiatan terakhir kami yang begitu menakjubkan. Sebenarnya masyarakat Tengger menganut tiga agama yang berbeda, yakni Islam, Kristen dan Hindhu baik Hindhu Jawa, Hindhu Bali Maupun Hindhu Tengger. Namun, tak pernah ada masalah dengan perbedaan yang mereka miliki. Justru dengan perbedaan yang ada, membuat kebersamaan mereka semakin terjalin dengan baik. Agaknya kita perlu mencontoh perilaku masyarakat Tengger, yang menjadikan suatu perbedaan menjadi suatu kebudayaan yang layak untuk dilestarikan. Terimakasih Tengger, telah mengajarkan berbagai hal yang begitu berharga. Dan tak hanya dapat dijadikan suatu pelajaran namun juga dapat dikenang.***


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment