More than Just Nation and Character Building
September 5th, 2017 at 9:02 am
Posted by Mohammad Adib in Jatidiri and Characters

Presenter dan Penyimpul materi IDNAS Senin 4 September 2017 di Ruang Ki Hajar Dewantoro Gedung Kuliah Bersama MKWU Kampus B UnairOleh: Retno Alfiyani (071711133021), Amelia Rahmah Safira (071711133025), Heni Hebriyeni (071711133035), Prodi: S1 Ilmu Administrasi Negara, Matkul:  Pendidikan Kewarganegaraan. Dosen:  Dr. H. Moh. Adib, Drs., MA. The Pledge of Allegiance “I pledge allegiance to the flag of the United States of America, and to the republic for which it stands, one nation under God, indivisible, with liberty and justice for all.”  Janji Kesetiaan, “Saya berjanji setia kepada bendera Amerika Serikat, dan kepada republik yang berdiri satu bangsa dibawah ketuhanan, tidak terbagi, kebebasan dan keadilan bagi semua masyarakat.”  “…… Pak Adib tadi juga menunjuk Sisilia untuk maju ke depan untuk memberikan kesimpulan karna dia pernah ke luar negeri untuk belajar. Sisilia sedikit bercerita tentang murid di Amerika yang setiap pagi sebelum memulai kegiatan pembelajaran akan mengucapkan kata kata yang dapat menumbuhkan rasa nasionalisme rakyat Amerika. Seharusnya kita mencontoh America dalam hal ini untuk menumbuhkan rasa nasionalisme bengsa Indonesia yang mulai pudar.  Pak Adib juga menunjukkan foto beliau dengan keluarganya, kemudian menceritakan bahwa beliau sekeluarga pernah berwisata ke titik 0 km Indonesia di Aceh. Satu hal yang dapat kita ambil dari pertemuan kali ini yaitu tentang Nasionalisme. Kita sebagai generasi muda harus meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air kita agar tidak terbawa arus globalisasi.” Memupuk Nasionalisme Bangsa di Kelas Ki Hajar Deantoro Gedung Kuliah Bersama Kampus B UNAIR 4 Septermber 2017

            Diawali dengan pemutaran lagu Indonesia Raya, menandakan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di ruang Ki Hajar Dewantara pada Senin, 4 September 2017 akan dimulai. Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, kita dituntut untuk menunjukkan sikap sempurna. Karena lagu Indonesia Raya merupakan salah satu identitas nasional yang harus kita jaga keberadaannya. Bapak Adib selaku dosen pembimbing merupakan orang yang sangat disiplin waktu, bisa dilihat dari datangnya beliau pagi itu. Beliau datang jauh sebelum kelas akan dimulai. Mahasiswa pun masih sedikit yang datang. Hal itu yang perlu kita jadikan contoh sebagai generasi  penerus bangsa. Lebih baik menunggu daripada terlambat.

            Seperti pertemuan sebelumnya, Pak Adib selalu menyebutkan jargon-jargon sebagai penyemangat kami dalam mengikuti kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Materi yang kita bahas hari ini adalah “Identitas Nasional dan Nasionalisme Indonesia”, yang merupakan kelanjutan dari materi sebelumnya yaitu “Identitas Nasional Sebagai Karakter Bangsa Indonesia”. Hari ini yang persentasi adalah kelompok dua yang beranggotakan Dwi Bayu, Ayu, Leny, dan Bellina. Mereka menjelaskan tentang bentuk-bentuk Identitas Nasional, Dinamika dan Tantangan Identitas Nasional Indonesia serta Esensi dan Urgensi Identitas Nasional Indonesia.

Kelompok ini kembali menjelaskan tentang apa yang di maksud dengan Identitas Nasional. Identitas Nasional adalah suatu ciri yang dimiliki suatu bangsa yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain. Identitas Nasional Indonesia adalah suatu ciri yang dimiliki Indonesia yang menjadi pembeda antara Indonesia dengan negara lainnya. Sepuluh bentuk Identitas Nasional Indonesia adalah sebagai berikut: (i) Bendera Merah Putih; (ii) Bahasa Indonesia; (iii) Garuda Pancasila; (iv) Lagu Indonesia Raya; (v) Bhinneka Tunggal Ika; (vi) Dasar Filsafah Negara Pancasila; (vii) Konstitusi Negara UUD 1945; (viii) Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia; (ix) Konsep Wawasan Nusantara, dan (x) Kebudayaan Daerah Yang Telah Diterima Sebagai Kebudayaan Nasional.

Kelompok 2 juga membahas tentang dinamika dan tantangan Identitas Nasional Indonesia salah satunya yaitu banyaknya remaja sekarang yang lebih bangga terhadap Bendera negara lain dari pada Bendera Indonesia dan lebih bangga menggnakn Bahasa asing dari pada Bahasa Indonesia. Hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan Bahasa inggris yang menjadi Bahasa internasiona apabila dikitkan dengan masalah tersebut?, Bagaimana cara kita menghadapi Bahasa “alay” yang sekarang mulai banyak digunakan?, dan Berikan contoh bangsa kita lebih bagga terhadap bendera negara lain!.

Kemudian kelompok 2 menjawab pertanyaan tersebut.bahasa inggris memang menjadi Bahasa internasional sehingga kita mau tidak mau harus menguasainya karna dengan kita bisa menggunakan Bahasa inggris kita dapat mengenalkan Indonesia di dunia internasional lewat Bahasa tersebut. Untuk Bahasa alay, dalam menyikapinya kita seharusnya mencoba untuk Bahasa yang baik dan benar sesuai yang sudah di tentukan karna apabila ini dibiarkan di masa yang akan datang tidak ada lagi yang namanya Bahasa Indonesia. Sedangkan untuk contoh bangsa kita yang lebih bangga terhadap bendera negara lain contohnya kaum pria biasanya akan menggunakan baju bermotif bendera negara yang timnas sepak bolanya mereka sukai. Begitu pula dengan kaum wanita, mereka lebih suka menggunakan baju dan tas yang bermotif bendera negagra lain misalnya Amerika. Ada juga yang memposting foto dirinya yang sedang berada di negara lain dengan bendera negara tersebut, kita saja yang bertahun-tahun tinggal di Indonesia tidak pernah berfoto dengan Bendera Merah Putih.

Contoh konkrit yang bisa kita lihat yaitu keberagaman Indonesia. Seperti yang kita tahu, Indonesia terdiri dari ribuan pulau. Kita tidak harus mengelilingi Indonesia untuk mengetahui betapa kayanya Indonesia itu. Tapi kita bisa berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Di sana terdapat Indonesia versi kecil. Mulai dari rumah, baju, dan senjata tradisional bisa kita lihat di sana. Setidaknya dengan hal itu kita bisa mengetahui apa maksud dan bentuk Bhinneka Tunggal Ika itu.

Dan contoh lain yang mungkin masih melekat di ingatan kita yaitu bendera Indonesia yang terbalik pada ajang internasional Sea games yang berlangsung di Malaysia. Meskipun itu terdapat unsur ketidaksengajaan tapi itu merupakan kesalahan yang fatal. Karena Malaysia merupakan negara tetangga yang letaknya sangat dekat dengan kita.

Pak Adib tadi juga menunjuk Sisilia untuk maju ke depan untuk memberikan kesimpulan karna dia pernah ke luar negeri untuk belajar. Sisilia sedikit bercerita tentang murid di Amerika yang setiap pagi sebelum memulai kegiatan pembelajaran akan mengucapkan kata kata yang dapat menumbuhkan rasa nasionalisme rakyat Amerika. Seharusnya kita mencontoh America dalam hal ini untuk menumbuhkan rasa nasionalisme bengsa Indonesia yang mulai pudar.

Pak Adib juga menunjukkan foto beliau dengan keluarganya, kemudian menceritakan bahwa beliau sekeluarga pernah berwisata ke titik 0 km Indonesia di Aceh. Satu hal yang dapat kita ambil dari pertemuan kali ini yaitu tentang Nasionalisme. Kita sebagai generasi muda harus meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air kita agar tidak terbawa arus globalisasi.

Waktu menunjukkan pukul 08.40 yang menandakan bahwa mata kuliah pendidikan kewarganegaraan harus berakhir. Seperti biasanya, kita mengakhiri kelas dengan doa semoga apa yang kita dapatkan hari ini bisa berguna di kemudian hari.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment