More than Just Nation and Character Building
November 4th, 2013 at 4:54 am
Posted by Mohammad Adib in Jatidiri and Characters, Learning Pancasila, Study Excursie

Tari Sodor Bambu dan Sabut KelapaOleh: Anisa Pramita (081311433002) FSAINTEK 2013 UNIVERSITAS AIRLANGGA. “…Banyaknya polemik yang menyeret permasalahan multikultural di negeri ini menggerakkan hati petinggi-petinggi Universitas Airlangga untuk meningkatkan kesadaran mahasiswanya akan keragaman budaya yang ada di Indonesia, maka diadakanlah kegiatan Study Excursie…” “…Malam pun tiba, waktunya kami untuk beristirahat, kami tidak tinggal di villa atau cottage tetapi kami tinggal di rumah warga. Syukurlah kedatangan kami disambut dengan sangat ramah, kami diizinkan untuk tinggal semalam. Kami tidak menyia-nyiakan waktu berhharga untuk bercengkrama dengan warga. Saya dan kelompok saya mendapat bagian untuk tinggal dirumah Bapak Agus. Kami bertanya banyak hal tentang kehidupan yang mereka jalani. Ada satu hal yang membuat saya tersentuh ketika saya bertanya mengapa mereka tidak memilih bekerja di kota dengan gaji yang cukup dan semua kebutuhan dapat sangat mudah didapat disana, tetapi dengan lugunya beliau menjawab bahwa ketenangan hidup jauh lebih berharga, beliau merasa lebih bahagia ketika hidup didesa menjadi petani…..” “……Kehidupan masyarakat Tengger yang damai dengan kebudayaan yang beragam patutlah kami mencontohnya seperti bertoleransi, menghargai, gotong royong, serta kebahagiaan yang dapat ditemukan dengan kehidupan yang sederhana. Setelah mengikuti kegiatan ini membuat saya faham bahwa tidak seharusnya permasalahana multikultural terjadi bila kita telah menanamkan dalam jiwa kita akan sikap terpuji para masyarakat tengger.”

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan berkah yang diberikan sehingga kegiatan Study Excursie 2013 ini dapat terlaksana dengan lancar tanpa hambatan yang berarti, serta dapat terselesaikannya artikel ilmiah populer tentang pengalaman kami mengunjungi masyarakat Tengger di Pasuruan Jawa Timur yang syarat akan kebudayaannya yang bermacam-macam.

Artikel ini berisi catatan kecil tangan-tangan kami tentang perjalanan menembus batas akan perbedaan kebudayaan bersama masyarakat tengger. Kami ingin berbagi cerita perjalanan ini, dimana kami mendapatkan banyak pelajaran yang berharga akan bagaimana menjaga kebudayaan tanpa harus menarik garis pembatas perbedaan, menghargai untuk setiap titik kebudayaan, agama, ras, hidup rukun ditengah bergamnya kebudayaan, dan masih banyak lagi. Kami sebagai mahasiswa yang masih seumur jagung sangat faham bahwa artikel ini mungkin jauh dari sempurna dimata pembaca, untuk itu kami memohon maaf bila artikel ini kurang berkenan dihati pembaca.

Latar Belakang

Banyaknya polemik yang menyeret permasalahan multikultural di negeri ini menggerakkan hati petinggi-petinggi Universitas Airlangga untuk meningkatkan kesadaran mahasiswanya akan keragaman budaya yang ada di Indonesia, maka diadakanlah kegiatan Study Excursie (Dialog Peradaban Lintas Agama dan Budaya : Penerapan Kehidupan Multikultural dan Kerukunan antar Umat Beragama di Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur) pada hari Sabtu – Minggu, 19 – 20 Oktober 2013. Pembelajaran kultural secara outdoor diharapakan akan lebih mudah dicerna oleh mahasiswa untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan indoor atau di dalam ruangan.

Tujuan Kegiatan

  1. Memberikan pengalaman tentang kehidupan bermasyarakat yang multicultural di lokasi kegiatan.
  2. Membangun kesadaran solidaritas social terbuka yang Bhinneka Tunggal Ika.
  3. Mengembangkan karakter masyarakat yang “excellence” dan bermoral mulia, terbuka, dan toleran.

Pembahasan

Pagi hari yang cerah saya bersama teman-teman kami berkumpul didepan gedung Rektorat yang berada di Kampus C UA kami melakukan registrasi, banyak sekali mahasiswa yang mengikuti acara ini. Berjejer bus dan elf terparkir di area parkir rektorat. Setelah melakukan registrasi, gedung rektorat dipenuhi oleh mahasiswa berkaos biru, beberapa ada yang menggunakan kaos merah yang menandakan bahwa mereka adalah panitia. Tak lama kemudian dimulailah upacara pemberangkatan peserta Study Excursie 2013, sambutan-sambutan diberikan oleh wakil rektor dan dosen-dosen. Dalam sambutannya beliau memberikan pesan-pesan kepada kami semua. Sampai tiba saatnya kami harus berangkat ke Pasuruan.

Tiga jam lamanya perjalanan kami hingga kami tiba di lokasi pertama yaitu di Pendopo “Nyawiji Ngesti Wengoning Gusti” kabupaten Pasuruan. Disana kami dijadwalkan akan bertemu dengan bapak Bupati Pasuruan, namun dikarenakan beliau berhalangan untuk hadir maka diwakilkan oleh bapak sekretaris daerah Pasuruan yaitu bapak Agus Setiadi. Dalam acara ini kami juga bertemu dengan narasumber lainnya yaitu bapak Suhud Ibrahim selaku ketua forum FKUB dan perwakilan dari LP3. Beliau menceritakan banyak hal tentang kota Pasuruan, kami juga dijamu dengan makanan yang sangat enak.

Tidak samapi disitu saja perjalanan kami juga berlanjut ke lokasi II di “Pendopo Agung” yang terletak di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari KAbupaten Pasuruan. Disana kami dipertemukan dengan beberapa narasumber yang semuanya adalah para pemuka agama di daerah tersebut. Bapak Eko Warnoto dari tokoh agama hindu, bapak Arnold dari tokoh agama Kristen dan satu lagi ada seorang budayawan asli tengger maaf saya lupa namanya. Sebenarnya acara ini juga dihadiri oleh tokoh agama islam, namun beliau berhalangan hadir. Dalam dialog kali ini mengangkat tema “Peradaban Lintas Agama dan Budaya: Penerapan Kehidupan Multikultural, Kebhinekaan , dan Solidaritas Sosial Terbuka”. Dalam sesi ini kami mendapat banyak manfaat diantar lainnya adalah bagaimana masyarakat sekitar yang hidup damai walaupun dengan perbedaan terutama dalam agama, dimana setiap rumah yang berdampingan belum tentu memiliki agama yang sama, bahakan dalam satu desa terdapat 2 tempat peribadatan sekaligus yaitu gereja dan masjid yang jaraknya berdekatan. Disana semua orang hidup berdampingan dengan sangat rukun.

Malam pun tiba, waktunya kami untuk beristirahat, kami tidak tinggal di villa atau cottage tetapi kami tinggal di rumah warga. Syukurlah kedatangan kami disambut dengan sangat ramah, kami diizinkan untuk tinggal semalam. Kami tidak menyia-nyiakan waktu berhharga untuk bercengkrama dengan warga. Saya dan kelompok saya mendapat bagian untuk tinggal dirumah Bapak Agus. Kami bertanya banyak hal tentang kehidupan yang mereka jalani. Ada satu hal yang membuat saya tersentuh ketika saya bertanya mengapa mereka tidak memilih bekerja di kota dengan gaji yang cukup dan semua kebutuhan dapat sangat mudah didapat disana, tetapi dengan lugunya beliau menjawab bahwa ketenangan hidup jauh lebih berharga, beliau merasa lebih bahagia ketika hidup didesa menjadi petani.

Pagi hari ini sangat berbeda dengan pagi hari yang lain, udara dingin menusuk tulang kami, beginilah suasana pagi di lereng gunung bromo, suhu mencapai 10 derajat celcius, pegunungan yang khas, dan kabut yang menyelimuti. Pagi hari ini kami diberi waktu sampai jam 8 pagi sebelum kami berangkat ke lokasi selanjutnya. Waktu yang tak banyak ini kami manfaatkan untuk sekedar berkeliling desa dan berolahraga. Selanjutnya sehabis kami berolahraga ketika kami sampai di rumah bapak Agus lagi, tercium bau harum masakan, ternyata ibu asuh kami telah menyiapakan banyak makan untuk kami sarapan.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 8 itu artinya kami harus bersiap –siap pamitan dengan keluarga Bapak Agus karena kami harus melanjutkan agenda. Sedih rasanya harus berpisah dengan keluarga kami disini. Walaupun baru semalam mengenal mereka, karena kehangatan mereka membuat kami seperti tinggal dirumah sendiri.

Perjalan berlanjut ke Balai Desa Tosari, walaupun masih pagi semarak kemeriahan acara sudah mulai terlihat dari banyaknya kendaraan yang membawa para penari untuk acara Hari Raya Karo. Acara ini juga dihadiri anggota Komisi X DPR RI, Harbiyah Salahudin dan sejumlah pejabat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), maklum bila penjagaannya cukup ketat. Ada satu tari yang pasti ditampilkan dalam acara ini yaitu tari sodoran, tarian Sodoran ini adalah ritual suci yang melambangkan pertemuan dua bibit manusia yakni laki-laki dan perempuan yang mengawali kehidupan di alam semesta. Pertemuan dua manusia yakni Joko Seger dan Lara Anteng inilah yang dipercaya sebagai cikal bakal tumbuhnya masyarakat Tengger.

Simbol tarian Sodoran yang hanya dipertunjukkan pada Hari Raya Karo ini ditandai dengan sebuah tongkat bambu berserabut kelapa yang di dalamnya terdapat biji-bijian palawija. Di kalangan masyarakat suku Tengger, biji-bijian yang dipecahkan dari dalam tongkat ini dipercaya akan memberikan rejeki keturunan bagi pasangan keluarga yang belum memiliki anak. Perayaan Karo ini merupakan tradisi masyarakat Tengger untuk memuliaakan tradisi leluhur. Tradisi ini juga sebagai wujud syukur terhadap para leluhur masyarakat Tengger,

Setelah ritual Sodoran, maka akan dilanjutkan dengan upacara Santi untuk memuliakan para leluhur. Sebagai bentuk kesatuan adat, masyarakat Tengger berkewajiban melakukan unjung-unjung (anjang sana) kepada kerabat dan sanak saudara. Selama perayaan Karo, para dukun Suku Tengger akan melayani warganya dari rumah ke rumah. Para dukun adat ini akan memimpin doa-doa yang dipanjatkan warga Suku Tengger.

Tepat pukul 14.00 kami dijadwalkan untuk kembali ke Surabaya, dua hari yang syarat akan makna, pengalaman yang menjadi bagian dari sejarah hidup kami semua. Ada banyak pelajaran yang dapat kami bawa ke Surabaya, toleransi, keselarasan, keseimbangan, saling menghormati.

Simpulan dan Saran

Simpulan

Kehidupan masyarakat tengger yang damai dengan kebudayaan yang beragam patutlah kami mencontohnya seperti bertoleransi, menghargai, gotong royong, serta kebahagiaan yang dapat ditemukan dengan kehidupan yang sederhana. Setelah mengikuti kegiatan ini membuat saya faham bahwa tidak seharusnya permasalahana multikultural terjadi bila kita telah menanamkan dalam jiwa kita akan sikap terpuji para masyarakat tengger.

Saran

Dalam kegiatan ini hampir semuanya berjalan lancar hanya ada beberapa kegiatan ada yang kurang koordinasi sehingga mengalami kemunduran jadwal. Untuk kegiatan berikutnya akan lebih baik bila koordinasi dapat lebih tertata lagi.

Daftar Pustaka

  1. Adib,Mohammad.2013.Panduan Study Excursie Tema : Dialog Peradaban Lintas Agama dan Budaya : Penerapan Kehidupan Multikultural dan Kerukunan Antra Umat Beragama Di Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur Sabtu – Minggu, 19-20 Oktober 2013:Surabaya.Zifatama Publishing.

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment