More than Just Nation and Character Building
November 4th, 2013 at 5:16 am
Posted by Mohammad Adib in Jatidiri and Characters, Learning Pancasila, Study Excursie

Oleh: Indah Yuliyandini - FST Unair – 081311433056. “…..Saya sangat bersyukur bisa mengikuti acara ini. Karena dengan mengikuti acara ini lah saya jadi paham akan pentingnya penerapan multikulturalisme antar umat beragama di dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang notabenenya merupakan masyarakat yang plural.” “…Kalau boleh jujur, sebenarnya saya adalah seseorang yang tidak setuju dengan adanya multikulturalisme antar umat beragama. Karena menurut saya agama adalah suatu keyakinan yang di dalamnya tidak ada toleransi. Seseorang muslim seperti saya tidak sewajarnya membantu, mengizinkan, dan ikut berpartisipasi di setiap hari raya / ritual keagamaan yang dilakukan oleh umat beragama lain seperti yang dicontohkan oleh masyarakat Tengger. Karena menurut saya hal tersebut sama saja dengan membenarkan agama selain Islam. Tapi setelah saya mengamati lebih dalam lagi mengenai penerapan multikulturalisme antar umat beragama di masyarakat Tengger tepatnya di Desa Tosari dan Desa Kletak, pandangan saya pun berubah. Bagaimana bisa? Begini ceritanya…..” “….Maka dari itu sudah seharusnya kita menerapkan multikulturalisme di kehidupan sehari – hari mulai sekarang…..”

Assalamu’alaykum Wr. Wb… Salam sejahtera bagi kita semua

Sebelumnya perkenankan lah saya untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang telah melimpahkan karuniaNya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan essay ini sebagai suatu umpan balik dari kegiatan study excursie yang telah saya ikuti sekitar 2 minggu lalu. Selain itu saya juga menyampaikan terima kasih banyak kepada para bapak ibu dosen dan kakak - kakak sekalian selaku panitia Study Excursie Universitas Airlangga 2013 yang telah menyiapkan dan mensukseskan acara yang spektakuler ini. Saya sangat bersyukur bisa mengikuti acara ini. Karena dengan mengikuti acara ini lah saya jadi paham akan pentingnya penerapan multikulturalisme antar umat beragama di dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang notabenenya merupakan masyarakat yang plural. Tak lupa, saya juga berterima kasih kepada pemerintah Kabupaten Pasuruan, para tokoh agama, serta kepada seluruh masyarakat Tengger atas sambutannya yang begitu hangat kepada para rombongan Study Excursie UA 2013 selama acara berlangsung.

Kalau boleh jujur, sebenarnya saya adalah seseorang yang tidak setuju dengan adanya multikulturalisme antar umat beragama. Karena menurut saya agama adalah suatu keyakinan yang di dalamnya tidak ada toleransi. Seseorang muslim seperti saya tidak sewajarnya membantu, mengizinkan, dan ikut berpartisipasi di setiap hari raya / ritual keagamaan yang dilakukan oleh umat beragama lain seperti yang dicontohkan oleh masyarakat Tengger. Karena menurut saya hal tersebut sama saja dengan membenarkan agama selain Islam. Tapi setelah saya mengamati lebih dalam lagi mengenai penerapan multikulturalisme antar umat beragama di masyarakat Tengger tepatnya di Desa Tosari dan Desa Kletak, pandangan saya pun berubah. Bagaimana bisa? Begini ceritanya…..

Hari Sabtu pagi, tanggal 19 Oktober 2013, saya bersiap – siap untuk menuju gedung rektorat Universitas Airlangga di kampus C, tempat dimana pelepasan peserta study excursie 2013 akan dilaksanakan. Selama perjalanan menuju ke gedung rektorat, langkah kaki saya terasa berat, karena sebenarnya saya ini tidak minat untuk mengikuti acara study exursie tersebut. Saya tidak minat karena tema yang diambil dalam study excursie kali ini adalah tentang multikulturalisme antar umat beragama. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, saya sebenarnya tidak setuju dengan hal itu. Tapi bagaimana pun juga, saya tetap wajib mengikuti acara ini, karena saya sudah ditunjuk untuk menjadi salah satu delegasi oleh dosen saya.

Sesampai di gedung rektorat, saya melihat teman – teman peserta study excursie dari berbagai fakultas di Unair begitu bersemangat. Begitu juga dengan para dosen pembimbing dan kakak-kakak panitia, mereka begitu antusias dalam melaksanakan acara study excursie ini. Tapi lain halnya dengan saya. Saya merasa biasa saja, dan menurut saya ini adalah acara yang kurang wajar. Bahkan setelah disemangati sedemikian rupa oleh Pak Adib dengan pidato pembukanya yang luar biasa itu, saya sama sekali tidak merasakan perubahan. Saya tetap berpikir acara study excursie ini aneh. Saya yang telah lama hidup di dalam lingkungan yang kental dengan nuansa Islam, tetap berpendapat bahwa multikulturalisme / toleransi antar umat beragama itu sesuatu yang tidak wajar.

Seusai acara pelepasan, kami pun segera berangkat ke Pendopo Nyawiji Ngesthi Wenganing Gusti Kabupaten Pasuruan. Di sana kami disambut oleh pemerintah Kabupaten Pasuruan yang diwakili oleh Sekretaris Daerah II Kab. Pasuruan yaitu Bapak Agus dan ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Di pendopo itu kami diberi penjelasan mengenai latar belakang Kabupaten Pasuruan, keadaan Kabupaten Pasuruan saat ini, serta tentang Masyarakat Tengger yang mampu hidup damai walaupun para warganya menganut berbagai macam agama.

Saya masih bertanya – tanya. Bagaimana bisa kerukunan itu diciptakan di suatu masyarakat yang menganut berbagai macam agama? apalagi untuk seorang muslim? Kalau masalah keagamaan itu kan tidak ada toleransi di dalamnya, “Bagimu agamamu, dan bagi saya agama saya” seperti yang dituliskan dalam surat Al-Kafirun. Jujur saja saya masih belum paham mengenai konsep multikulturalisme alias toleransi antar umat beragama dan lain sebagainya. Karena bagi saya toleransi antar umat beragama ini bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama yang saya anut, yaitu agama Islam.

Tapi kebingungan saya ini terjawab ketika mengikuti dialog langsung dengan para tokoh pemuka agama di pendopo agung di Desa Wonokitri. Serta saat saya berinteraksi langsung dengan para warga di Desa Tosari dan Desa Kletak. Di sana saya mendapat penjelasan mengenai arti dari toleransi antar umat beragama yang sebenarnya. Toleransi disini maksudnya menghargai umat beragama lain saat melakukan ibadah / ritualnya, menghargai bukan berarti ikut berpartisipasi dalam ritual mereka. Toleransi ini lah yang disebut multikulturalisme. Multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa ataupun agama. Multikulturalisme itu begitu penting diterapkan, apalagi di Indonesia yang penduduknya sangat plural atau bermacam – macam ini. Sebab, dengan multikulturalisme , setiap warga yang ada di masyarakat yang plural dapat melakukan fungsinya secara sejajar di kehidupan sosial tanpa membanding – bandingkan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan).

Coba kita bandingkan. Pluralistik tanpa multikulturalisme sama saja dengan bencana. Seperti yang terjadi di Poso dan Sampit beberapa tahun silam. Di sana terjadi konflik besar antar umat beragama hingga menimbulkan banyak korban. Lain halnya dengan pluralistik yang dilandasi multikulturalisme. Hasilnya adalah masyarakat yang dapat hidup rukun, damai, dan sejahtera seperti yang terlihat pada masyarakat Tengger.

Maka dari itu sudah seharusnya kita menerapkan multikulturalisme di kehidupan sehari – hari mulai sekarang. Tapi sebelumnya kita harus mengetahui apa sejatinya multikulturalisme itu. Agar kita tidak salah paham. Dan juga agar kita tidak berlebihan saat menerapkan multikulturalisme. Misalnya sampai kita ikut merayakan setiap hari besar dari sekian banyak umat beragama yang ada di Indonesia. Itu sangat berlebihan. Saya kira itu saja yang ingin saya sampaikan. Kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamu’alaykum Wr. Wb…

Semoga Bermanfaat ^_^

Daftar Pustaka:

Effendi, Ridwan. 2007. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Edisi Kedua. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Muryadi. 2013. Multikulturalisme. Surabaya: publikasi pribadi


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment