More than Just Nation and Character Building
November 5th, 2013 at 9:13 pm
Posted by Mohammad Adib in Jatidiri and Characters, Learning Pancasila, Study Excursie

Oleh: Silvia Rani A (061311133008), Fakultas Kedokteran Hewan. “…Bapak yanto juga menceritakan bahwa meski di suku tengger terdapat 3 agama yang berbeda namun mereka saling gotong royong satu sama lain. Jika ada hari raya keagamaan maka meskipun tidak mempercayai keyakinan yang sama namun mereka turut merayakan acara hari raya tersebut namun mereka tetap berkeyakinan dalam keyakinan yang mereka yakini. Ramah, baik, toleransi, dan saling tolong menolong terjadi disetiap hari dalam kehidupan suku ini. Saya sangat kagum dengan rasa kepedulian mereka satu sama lain. Orang lain mereka anggap keluarga, mereka sangat suka menerima tamu yang datang kerumahnya.” “…pengalaman yang dapat kita ambil dari kehidupan mereka juga sangat cocok bila kita terapkan dalam kehidupan kita sehari – hari karena pada dasarya manusia adalah makhluk sosial yang juga membutuhkan orang lain. Saya yakin bila bangsa kita dapat benar – benar menyatu seperti itu kita tidak akan mudah terpecah belah meski negara Indonesia tersebar dari beribu – ribu pulau. Hal ini sangat positif bagi kita dan menjadikan Indonesia jauh lebih baik dari sebelumnya…” “Dengan perasaan yang sangat senang karena saya merasa beruntung sempat menjadi keluarga suku tengger meski hanya dalam waktu 2 hari. Kesan dan pesan saya adalah saya sangat merasa kagum dan takjub dengan kerukunan hidup berbeda agama dalam kehidupan sehari – hari suku tengger. Pesan saya , saya berharap kebudayaan suku tengger dapat dijadikan salah satu objek wisata karena dari kehidupan mereka kita dapat memetik pengalaman tentang kebersamaan dan kekeluargaan. Dan yang terpenting adalah dapat menghormati satu sama lain meski berbeda keyakinan. Saling tolong menolong satu sama lain dan bersatu seperti symbol dasar Negara kita yaitu Bhineka Tunggal Ika.”

Pada tanggal 19 – 20 Oktober 2013 Universitas Airlangga melaksanakan Study Excursiedengan tema “Dialog Peradaban Lintas Agama dan Budaya: Penerapan Kehidupan Multikultural, dan kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur”.

Sabtu, 19 Oktober 2013 pukul 06.00 – 07.30 kami melakukan pesiapan untuk pemberangkatan. Para peserta Study Excursie melakukan registrasi sebelum mengikuti upacara pelepasan keberangkatan oleh wakil rektor Universitas Airlangga. Pukul 07.30 – 08.00 semua panitia, peserta, dan dosen pembimbing Study Excursie melaksanakan upacara pemberangkatan yang secara resmi dilepas oleh wakil rektor Universitas Airlangga. Setelah selesai melakukan upacara pemberangkatan tersebut saya beserta rombongan bergegas naik ke bus untuk melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi yang pertama.

Tepat pukul 10.00 saya beserta rombongan telah sampai di Pendopo “Nyawiji Ngesti Wengoning Gusti” Kabupaten Pasuruan. Sebagai pembuka acara dialog di Pendopo nyawiji di awali dengan sambutan Ketua LPPM Universitas Airlangga, beliau mengutarakan bahwa di negara yang kita cintai ini masih banyak oknum pejabat yang melakukan korupsi. Kebutuhan pangan di negara Indonesia dapat dipenuhi ditunjang dari impor bahan pangan dari luar negeri. Tetapi dengan adanya mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa yang berkarakter exelence with morality dapat membangkitkan bangsa kita untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sambutan kedua disampaikan oleh Sekda Kabupaten Pasuruan, beliau menyampaikan bahwa dengan adanya keberagaman suku, etnis, agama, dan budaya kita harus bisa hidup bersama dengan saling menghormati antar pemeluk agama dan menerima perbedaan dengan lapang dada. Suku tengger yang bertempat tinggal di Kecamatan Tosari sebagian besar penduduknya memeluk agama hindu. Suku ini sangat melestarikan dan menjaga adat istiadat dari leluhurnya. Di desa tersebut juga ada penduduk yang memeluk agama islam dan nasrani. Namun penduduknya sangat menghormati satu sama lain dan memiliki rasa toleransi yang tinggi. Inilah cermin dari bangsa Indonesia yang besimbolkan Bhineka Tunggal Ika. Dialog di lokasi pertama di tutup dengan do’a yang di sampaikan oleh ketua FKUB dan penyerahan cinderamata dari Universitas Airlangga kepada Sekda Kabupaten Pasuruan. Acara selanjutnya setelah penyerahan cindera mata ialah ISHOMA ( Istirahat Sholat dan Makan ). Seusainya runtutan acara di lokasi pertama usai saya beserta rombongan melanjutkan perjalanan untuk menuju ke lokasi ke 2 .

Pukul 13.00, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang kedua. Lokasi kedua kami adalah “Pendopo Agung” Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Dialog di lokasi kedua ini bertemakan “Dialog Peradaban Lintas Agama dan Budaya: Penerapan Kehidupan Multikultural, Kebhinekaan, dan Solidaritas Sosial Terbuka”. Narasumber pertama adalah Romo Eko. Beliau salah satu tokoh agama hindu dari Desa Wonokitri. Beliau menjelaskan tentang upacara karo yang merupakan upacara peringatan hari raya bagi suku tengger. Upacara ini dilaksanakan tepat saat muncul bulan purnama. Agama mayoritas di daerah tersebut adalah agama hindu. Di dalam upacara karo terdapat tari sodoran yang menggambarakan pria dan wanita. Ada pula bamboo ( uluh ) berisikan 5 macam biji- bijian. Sesajen yang dipersembahkan untuk para leluhur suku tengger berjumlah 25 sesajen,25 tapir, dan dilengkapi dengan pisang sebagai simbol hasil pertanian di daerah tersebut. Roro ambek adalah salah satu leluhur dari suku tengger. Pembukaan acara karo dimulai pada tanggal 20 Oktober 2013 pada pukul 04.00 – 2 minggu kedepan. Cemeti merupakan pusaka seperti keris yang di gunakan hingga sekarang. Salam khas dari suku tengger ialah kung ulum basuki langgeng dan dijawab dengan mengatakan langgeng basuki. Kegiatan di hari raya keagamaan dilaksanakan secara gotong royong dan bersama – sama. Pada hari raya karo biasanya melakukan kegiatan berkunjung kerumah tetangga dan diwajibkan untuk memakan makanan yang telah di sediakan meski hanya sedikit namun wajib untuk dimakan. Dialog pada lokasi kedua ini ditutup dengan penyerahan cinderamata dari Universitas Airlangga kepada para narasumber yang berbincang pada kesempatan sore hari itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, Perjalanan kami berlanjut menuju rumah singgah milik penduduk suku tengger. Saya beserta kelompok saya yang beranggotakan 4 orang mahasiswi singgah di rumah sederhana milik Ibu Mus . kami singgah di Desa Wedirejo Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Saya beserta mahasiswi yang lain di sambut hangat dengan keluarga ibu Mus. Mereka sangat antusias ketika saya dan mahasiswi yang lain memasuki rumahnya. Ibu Mus mengajak kami untuk berbincang di dalam dapur rumah, kebiasaan masyarakat tengger adalah ketika berbincang bincang dengan orang lain di lakukan di dapur karena di dalam dapur terdapat perapiaan yang dapat menghangatkan tubuh karena suhu disana sangat dingin. Perbincangan hangat selama 15 menit membuat kesan yang sangat mengagumkan, karena Ibu Mus dan keluarganya menyambut kami dengan senang hati dan menerima kami sebagai keluarga baru mereka padahal sebelumya kami sama sekali tidak pernah berjumpa. Keluarga ini sangat baik mereka dengan senang hati menerima kami untuk bermalam di rumah mereka. Bahkan Ibu Mus memasakkan makanan untuk kami, membuatkan minuman hangat dan mempersiapkan tempat tidur yang cukup nyaman untuk tempat kami beristirahat. Mereka menganggap kami sudah seperti anak mereka sendiri. Kami dipersilahkan untuk mempergunakan rumah mereka dengan segala keperluan kami mulai dari kamar mandi, tempat tidur, ruang tamu dan dapur. Saya sangat takjub dengan ketulusan hati mereka menyambut kami dengan perlakuan seperti itu. Setelah selesai makan malam dan lelah mengerjakan jurnal harian saya dan teman mahasiswa lain bersiap untuk beristirahat. Keesokan harinya, udara sejuk menyambut kami. Setelah bangun tidur saya dan teman mahasiswa lain berjalan mengelilingi sekitar rumah Ibu Mus. Di samping rumah beliau terdapat kebun kubis yang hijau dan tampak segar. Udara sejuk jauh dari polusi turut mendukung untuk melakukan aktivitas olah raga pada pagi hari itu. Di tengah perjalanan kami ada seorang laki – laki yang menghampiri saya, laki – laki itu bernama Pak Yanto. Beliau memulai perbincangandan beliau pula bercerita tentang suku tengger. Bapak yanto merupakan penduduk asli dari Desa Tosari. Beliau bercerita tentang asal usul tengger bahwa dahulu kala mantan raja majapahit meninggalkan negeri kekuasaannya beserta permaisurinya. Mereka dikaruniai seorang anak yang bernama Roro Anteng. Roro Anteng adalah seorang putri yang cantik jelita. Karena kecantikannya itu ada seorang raksasa bernama Kyai Bima, yang tinggal di hutan lereng Gunung Bromo dan ingin meminang Roro Anteng namun Roro Anteng sebenarnya tidak menyukai sang raksasa itu. Roro Anteng memberikan syarat bagi Kyai Bimo bila ia mampu memenuhi syarat tersebut maka Roro Anteng mau menjadi istrinya. Syarat tersebut adalah membuat danau diatas Gunung Bromo itu, tetapi hanya dalam waktu semalam. Kyai Bimo yang saktipun menyanggupi permintaan tersebut. Kyai Bima lalu pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Roro Anteng tadi untuk membuat danau di tempat itu.Dengan menggunakan batok (tempurung) kelapa yang besar,Kyai Bima dengan percaya diri dan mengumpulkan segenap kekuatannya mengeruk tanah.Hasil kerukan itu akan diisi air agar menjadi danau.Hanya beberapa kali kerukan,Kyai Bima berhasil membuat lubang besar.Kyai Bima mengeruk tanah tanpa mengenal lelah.Roro Anteng pun menjadi cemas melihat Kyai Bima sudah membuat lubang yang besar. Setelah lama berpikir,akhirnya ia menemukan ide.Ia membangunkan para penduduk desa,termasuk tetangga dan keluarganya.Lalu Roro Anteng menyuruh kaum perempuan untuk menumbuk padi di lesung,sedangkan kaum Laki-Laki ia suruh untuk membakar jerami disebelah timur agar kelihatan fajar telah terbit. Cahaya kemerah-merahan segera muncul dari arah Timur,disusul dengan suara lesung yang bersahutan.Ayam pun terbangun dan berkokok.Kyai Bima yang menyangka pagi sudah datang pun kesal karena pekerjaannya tidak selesai dan tidak bisa menikahi Roro Anteng. Kyai Bima lalu meninggalkan tempat itu.Tempurung yang dipegangnya dilemparkan dan bertelungkup di tanah.Tempurung itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok.Jalan yang dilalui Kyai Bima berubah menjadi sebuah sungai yang sampai sekarang dapat dilihat di hutan pasir Gunung Batok.Sedangkan danau yang belum selesai dibuat oleh Kyai Bima berubah menjadi kawah yang sampai sekarang masih bisa dilihat di kawasan Gunung Bromo.

Roro Anteng dan Joko Seger menjadi senang.Tak berapa lama kemudian,mereka berdua menikah dan tetap tinggal di lereng Gunung Bromo.Mereka kemudian membuka desa baru.Desa itu kemudian mereka namakan dengan nama Tengger.Nama ini merupakan gabungan dari nama mereka berdua,Roro Anteng dan Joko Seger. Mereka pun hidup bahagia.Setelah beberapa tahun mereka hidup bersama namun mereka belum dikaruniai seorang anak. Kedua pasangan tersebut mendatangi Gunung Bromo untuk meminta pada penjaga gunung bromo agar di karuniai keturunan. Mereka berjanji mereka akan memberikan salah satu dari keturunan mereka untuk di jadikan sesajen di Gunung Bromo jika permintaan mereka dikabulkan. Tak lama dari kejadian tersebut sepasang suami dan istri tersebut dikaruniai 25 orang anak. Setelah permintaan mereka terkabulkan Joko Seger ingat bahwa ia berjanji akan mengorbankan salah satu anaknya kepada kawah Gunung Bromo namun dari ke 24 anak mereka tidak ada yang mau untuk di korbankan tetapi anak paling bungsu mereka bernama Jaya Kusuma menawarkan diri untuk dijadikan sesajen di kawah Gunung Bromo. Sebelum ia menceburkan dirinya di dalam kawah gunung bromo ia berpesan bahwa .Ia meminta kiriman hasil ladang dengan menceburkannya ke kawah Gunung Bromo pada setiap terang bulan,tanggal 14 bulan Kasadha. Untuk mengenang peristiwa itu,para rakyat Tengger melakukan perintah yang pernah diucapkan Jaya Kusuma saat akan menceburkan diri kedalam kawah,yaitu mengirimkan hasil ladang pada tanggal ke 14 bulan Kasadha.Hal ini terus dilakukan sampai sekarang dan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat Tengger.Tradisi ini kemudian dinamakan Tradisi Kasadha. Bapak yanto juga menceritakan bahwa meski di suku tengger terdapat 3 agama yang berbeda namun mereka saling gotong royong satu sama lain. Jika ada hari raya keagamaan maka meskipun tidak mempercayai keyakinan yang sama namun mereka turut merayakan acara hari raya tersebut namun mereka tetap berkeyakinan dalam keyakinan yang mereka yakini. Ramah , baik, toleransi, dan saling tolong menolong terjadi disetiap hari dalam kehidupan suku ini. Saya sangat kagum dengan rasa kepedulian mereka satu sama lain. Orang lain mereka anggap keluarga, mereka sangat suka menerima tamu yang datang kerumahnya. Mereka selalu menyediakan makanan bagi para tamunya. Bapak yanto juga menceritakan sedikit tentang upacara karo yaitu upacara yang diadakan setiap tahun oleh suku tengger. Setelah lama berbincang kami menyudahi percakapan dan kamipun berpisah. Setelah usai menikmati pemandangan desa yang menyegarkan kami bersiap untuk packing dan berpamitan untuk menuju ke lokasi yang ketiga dari jadwal kunjungan kami.

Pada lokasi ketiga kami menuju ke Balai Desa Tosari Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Di lokasi ketiga kami menyaksikan secara langsung tari sodoran saat upaca karo. Tarian Sodoran salah satu dari ragam tarian khas masyarakat tengger ini merupakan sebuah tari klasik tradisional dan religius, sodoran bentuk tari mempunyai kandungan nilai luhur, filosofis yang dalam serta simbolis.Karena bersifat klasik dan religius, maka tarian ini hanya bisa   disaksikan saat hari raya Karo atau disebut juga Pujan Karo adalah suatu perayaan terbesar yang dilakukan setahun sekali, tepat bulan Karo tahun Saka, Tari yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan ritual dalam perayaan Karo ini merupakan tarian sakral khas masyarakat Tengger yang melambangkan asal-usul manusia.Menurut kepercayaan penduduk Tengger manusia itu berasal dari Sang Hyang Widi Wasa dan mereka akan kembali kepada-Nya, Manusia berasal dari tanah maka mereka akan kembali ke tanah juga, Salah satu contoh makna gerakan tari ini adalah ketika para penari mengangkat jari telunjuk, artinya penunjukkan tersebut mengandung makna simbol terjadinya manusia pertama, bahwa manusia itu berasal dari purusa dan pradana. Di dalam tari sodoran juga dilengkapi dengan membawa bambu yang berisikan 5 jenis biji – bijian yang berasal dari hasil pertanian suku tengger. Pada acara tersebut juga di datangi oleh mentri pariwisata. Menurut saya kebudayaan yang sangat baik dan patut untuk di contoh dari masyarakat tengger pantas untuk diliput media umum dan dikembangkan lebih lanjut. Kebudayaan tersebut juga dapat dijadikan tempat pariwisata karena tradisi baik yang terjalin disana dapat mengajarkan kita arti dari kekeluargaan dan kebersamaan secara nyata. Dan pengalaman yang dapat kita ambil dari kehidupan mereka juga sangat cocok bila kita terapkan dalam kehidupan kita sehari – hari karena pada dasarya manusia adalah makhluk sosial yang juga membutuhkan orang lain. Saya yakin bila bangsa kita dapat benar – benar menyatu seperti itu kita tidak akan mudah terpecah belah meski negara Indonesia tersebar dari beribu – ribu pulau. Hal ini sangat positif bagi kita dan menjadikan Indonesia jauh lebih baik dari sebelumnya.

Setelah beberapa jam berlalu di lokasi ketiga, saya beserta rombongan melanjutkan perjalanan untuk menuju ke kampus Universitas Airlangga. Dengan perasaan yang sangat senang karena saya merasa beruntung sempat menjadi keluarga suku tengger meski hanya dalam waktu 2 hari. Kesan dan pesan saya adalah saya sangat merasa kagum dan takjub dengan kerukunan hidup berbeda agama dalam kehidupan sehari – hari suku tengger. Pesan saya , saya berharap kebudayaan suku tengger dapat dijadikan salah satu objek wisata karena dari kehidupan mereka kita dapat memetik pengalaman tentang kebersamaan dan kekeluargaan. Dan yang terpenting adalah dapat menghormati satu sama lain meski berbeda keyakinan. Saling tolong menolong satu sama lain dan bersatu seperti symbol dasar Negara kita yaitu Bhineka Tunggal Ika.***


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment