More than Just Nation and Character Building
November 4th, 2013 at 7:42 am
Posted by Mohammad Adib in Jatidiri and Characters, Learning Pancasila, Study Excursie

Oleh: Lisa Fitria Ningrum (101311133151), Fakultas Kesehatan Masyarakat. “….Rasa haru dan bahagia berbaur menjadi satu ketika nama saya tercantum dalam daftar peserta Study Exursie 2013 di kabupaten Pasuruan. Namun disisi lain kebimbangan menyelimuti benak saya karena kegiatan ini bertepatan dengan acara vital di fakultas saya (FKM) yang juga hanya diadakan sekali dalam seumur hidup. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya memilih mengikuti Study Exursie di kabupaten Pasuruan.” “…..Serangkaian acara dalam pembukaan Upacara Karo tersebut menandakan berakhirnya perjalanan kami di kabupaten Pasuruan. Walau hanya satu malam dua hari, perjalanan ini memberikan sejuta pengalaman yang tak akan terlupakan dalam hidup saya. Perjalanan singkat ini menuai cerita panjang yang sulit diuraikan hanya dengan sepenggal kata-kata. Perjalanan yang memberikan pengetahuan baru bagi saya yang sebelumnya tidak pernah tahu menahu mengenai salah satu budaya Indonesia ini, perjalanan yang memberikan pelajaran mendalam tentang betapa indahnya hidup dalam perbedaan dengan menjunjung tinggi rasa toleransi dan saling menghargai serta yang paling utama adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa……”
Catatan kecil ini hanyalah segelintir peristiwa dari sejuta pengalaman tak terlupakan dan pertama dalam hidup saya menjadi bagian dari suku Tengger di kabupaten Pasuruan. Pengalaman tak terlupakan ini bermula ketika dosen mata kuliah PKN memberikan informasi mengenai kegiatan Study Exursie 2013 yang akan dilaksanakan di kabupaten Pasuruan. Saya pun antusias dan segera melengkapi segala prosedur dan persyaratan untuk bergabung dalam Study Exursie 2013.

Rasa haru dan bahagia berbaur menjadi satu ketika nama saya tercantum dalam daftar peserta Study Exursie 2013 di kabupaten Pasuruan. Namun disisi lain kebimbangan menyelimuti benak saya karena kegiatan ini bertepatan dengan acara vital di fakultas saya (FKM) yang juga hanya diadakan sekali dalam seumur hidup. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya memilih mengikuti Study Exursie di kabupaten Pasuruan.

Akhirnya pada hari Sabtu, 19 Oktober kami dari berbagai Fakultas di Universitas Airlangga dikumpulkan di gedung rektorat kampus C Universitas Airlangga untuk melaksanakan upacara pelepasan oleh Bapak Wakil Rektor I Universitas Airlangga, Prof. Dr. H. Syahrani, Apt.,MS. Dengan langkah gontai dan penuh keraguan saya menyusuri jalan menuju gedung rektorat kampus C. “Apa saya bisa, apa saya sanggup, apa saya pantas.” Terkadang berbagai pertanyaan itu yang selalu terlintas. Mengingat status saya sebagai mahasiswa baru dan usia kuliah saya yang masih seumur jagung dan belum mengerti apapun mengenai kegiatan seperti ini.

Dan akhirnya tepat pukul 09.00, sejarah baru saya pun dimulai. Perjalanan inipun dimulai. Perjalanan terhenti di stadium pertama di Pendopo “Nyawiji Ngesti Wengoning Gusti” kabupaten Pasuruan. Disana kami disambut oleh beberapa orang penting dari pemerintah kabupaten Pasuruan. Hawa panas yang membakar kulit saya turut serta membakar semangat saya menuju Stadium Generale I. Disana kami diberi penjelasan mengenai kota Pasuruan. Selain itu, kami juga diberi amanat bahwa mahasiswalah yang kelak akan menggantikan generasi tua yang mayoritas telah bobrok dengan tenggelam kedunia KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) yang semakin merasuk ke sendi-sendi pemerintahan Indonesia. Khususnya mahasiswa Universitas Airlangga dengan jargon Exelence with Morality diharapkan kelak dapat menjadi pemimpin yang amanat, cerdas, serta bermoral mulia.

Perjalanan tahap pertama pun usai dan tepat pukul 13.00 kami meninggalkan pendopo “Nyawiji Ngesti Wengoning Gusti” menuju “Pendopo Agung” Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan untuk kegiatan selanjutnya yaitu Stadum Generale II. Jalan yang kami lalui sungguh berkelok-kelok dan terus menanjak sehingga membuat saya sedikit mual. Namun, rasa mual yang saya rasakan tak sebanding dengan keindahan alam pegunungan dan terasering di sepanjang jalan menuju Pendopo Agung Desa Wonokitri.

Sesampainya di Pendopo Agung, kami disambut oleh segerombolan pedagang sarung tangan, topi, dan juga syal karena sesungguhnya udara di daerah itu begitu dingin.

Stadium Generale II dimulai. Kami memasuki Pendopo Agung di Desa Wonokitri dan disambut oleh beberapa tokoh agama yaitu:

  • Tokoh Agama Islam (Bapak Heri Istanto, S.Pd)
  • Tokoh Agama Hindu ( Bapak Eko Warnoto)
  • Tokoh Agama Kristen ( Bapak Arno, S.Th)

    Serta budayawan yang tinggal di Pasuruan yaitu Bapak Guntur Bisowarno, S.S. Apt.

Bapak Eko merupakan tokoh agama Hindu di Desa Wonokitri dan merupakan asli suku Tengger. Beliau menjelaskan tentang Suku Tengger, adat/budaya di suku Tengger, dan sekilas tentang upacara adat Karo serta tari Sodor. Berdasarkan penjelasan beliau, mayoritas Suku Tengger adalah beragama Hindu. Adat/budaya yang bisa kita rasakan hingga saat ini merupakan adat/budaya yang telah berjalan beribu-ribu tahun lamanya. Salah satunya adalah upacara adat Karo. Karo adalah upacara adat Suku Tengger yang diselenggarakan sekali dalam satu tahun. Karo adalah asal mula terjadinya manusia dan dimanapun manusia, disitu pula terdapat acara sodoran. Sodoran merupakan sebuah tarian yang melambangkan terjadinya manusia dan peranakannya.

Romo Eko juga menjelaskan bahwa masyarakat Suku Tengger ini memiliki salam khas karena masyarakat Suku Tengger ini sangat menghormati leluhur. Hari raya Karo juga merupakan upacara untuk menghormati Tuhan yang Maha Esa dan dilaksanakan oleh masyarakat Suku Tengger apapun agamanya. Agama Hindu, Islam, Nasrani hidup berdampingan dengan toleransi tinggi dan semua dilakukan bersama-sama.

Berdasarkan penjelasan Bapak Arno,S.Th, toleransi umat beragama sudah bertahun-tahun berjalan dengan baik. Oleh karena itu, warga asli Tengger bahagia hidup di Tengger dimana daerah ini banyak budaya dan tradisi. Cinta terhadap Negara bukan hanya suatu wacana, tetapi diterapkan sepanjang hari, oleh semua masyarakat Suku Tengger.

Setelah serangkaian acara di Pondok Agung usai, kami bergegas menuju acara selanjutnya yaitu study lapangan di rumah tinggal penduduk Suku Tengger. Toleransi umat beragama serta keramahan Suku Tengger ini patut di acungi jempol. Terlihat dari sepanjang jalan menuju Desa Ngadirejo (Desa dimana kami akan bermalam) terdapat berbagai macam rumah ibadah, mulai dari masjid, gereja, dan pura. Kedatangan kami disambut baik oleh keluarga Suku Tengger. Bahkan kami disuguhi minuman dan beraneka macam makanan. Sembari menikmati teh hangat dan makanan ringan di depan perapian, kami bercengkrama dan bercanda ria dengan keluarga Suku Tengger. Dan jika diperhatikan, Perayaan Hari Raya Karo jika Di dalam Islam seperti Hari raya Idul Fitri. Banyak makanan ringan yang di hidangkan, dan selalu diadakan selamatan setiap datangnya Hari Raya Karo. Acara silaturahmi antar tetangga pun tidak pernah ketinggalan. Hanya perbedaanya, di setiap acara yang di selenggarakan penduduk, Bapak dukun selalu mendatangi setiap rumah penduduk untuk mendoakan. Mayoritas penduduk Desa Ngadirejo bermata pencaharian di ladang sebagai petani kubis, jagung, serta kentang.

Hawa dingin di Desa Ngadirejo yang merayap di seantero kulit menembus pori hingga merasuk ke persendian. Kesunyian desa ini di malam hari memberikan nuansa ketenangan dan ketentraman yang belum pernah saya dapatkan di tengah hiruk pikuk kota Surabaya. Kenikmatan di malam itupun berakhir ketika saya mulai terlelap dan terjun kealam mimpi.

Pagi yang dingin memboyong rasa penasaran saya untuk melihat-lihat desa Ngadirejo di pagi hari. Dan sungguh luar biasa. Pemandangan alam yang belum pernah saya saksikan sepanjang hidup saya di Kalimantan hadir di hadapan saya. Bukit-bukit berjejer nan indah dilengkapi dengan terasering yang berbaris dengan rapi membuat lidah saya berkali-kali memuji keagungan Tuhan, memuji keagungan Allah. Maha Suci Allah pencipta yang paling agung. Allah menciptakan semua ini dengan sempurna, rapi, dan tertata tanpa ada kekurangan apapun. Udara sejuknya desa Ngadirejo serta keramahan Masyarakat Suku Tengger juga membuat saya ingin lebih lama tinggal disini.

Tepat pukul 09.00, acara yang kami nantikan akan segera dimulai, kamipun berangkat menuju Desa Tosari dimana Upacara Adat Karo akan diselenggarakan.

Prosesi Upacara Adat Karo:

  1. Upacara adat Karo dibuka dengan Tari Sodoran (Pembuka ) diawali oleh penari Sodor dari sesepuh dinamakan Mblarai (mengawali).
  2. Acara kedua adalah Pengukuhan Adat warga Tengger dengan pembacaan mantra Kertijoyo (Pembacaan mantra Karo & memberi sesajen) yang dipimpin oleh bapak Monali.
  3. Pembacaan legenda singkat Suku Tengger.
  4. Sambutan-sambutan oleh tamu. Acara ini di hadiri oleh Direktur Pencitraan Indonesia dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ratna Suranti, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur Aris Sofiyani dan anggota Komisi X DPR RI, Harbiah yang masing-masing memberi sambutan.
  5. Penyerahan Cenderamata kepada para tamu.
  6. Pembacaan doa yang dilakukan oleh tiga tokoh agama, yaitu tokoh Agama Hindu, Islam, dan Kristen.
  7. Tari Sodor yang dilakukan oleh Manten Sodor (putra putri) berjumlah 12 orang. Dan setiap desa wajib mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti lomba tari sodor. Tarian ini memiliki keunikan tersendiri, dalam tarian ini, penari membawa semacam tongkat bambu yang biasa disebut kencrek. Didalam kencrek ini terdapat biji-bijian palawija yang pada akhir tarian akan di tabur yang memiliki arti cikal bakal terciptanya manuasia dari benih laki-laki dan perempuan.

    Serangkaian acara tersebut ternyata belum berakhir dan masih banyak upacara-upacara yang akan di selenggarakan. Diantaranya adalah Upacara Santi, Upacara Pujan Kapat, Upacara Megeng dukun dan masih banyak upacara lain yang akan terlewatkan karena kami harus kembali ke Surabaya.

    Serangkaian acara dalam pembukaan Upacara Karo tersebut menandakan berakhirnya perjalanan kami di kabupaten Pasuruan. Walau hanya satu malam dua hari, perjalanan ini memberikan sejuta pengalaman yang tak akan terlupakan dalam hidup saya. Perjalanan singkat ini menuai cerita panjang yang sulit diuraikan hanya dengan sepenggal kata-kata. Perjalanan yang memberikan pengetahuan baru bagi saya yang sebelumnya tidak pernah tahu menahu mengenai salah satu budaya Indonesia ini, perjalanan yang memberikan pelajaran mendalam tentang betapa indahnya hidup dalam perbedaan dengan menjunjung tinggi rasa toleransi dan saling menghargai serta yang paling utama adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, serta perjalanan yang memberikan kami sedikit hiburan ketenangan dan ketenteraman di sela-sela kesibukan perkuliahan.***

    Daftar Pustaka

Subagyo,GA. “Tari Sodor, Elemen Penting dalam Upacara Adat Karo”. 20 Oktober 2013. http://WartaBromo.htm

Ridho.” TENGGER PEOPLE / suku ten99er“. Oktober 2013. file:///E:/SE202013/TENGGERPEOPLE_sukuten99erNamaUpacaraAdatTengger.htm

Cahyati,DD. “Pengalaman Spektakuler dalam Study Excursie 2013.” 31 Oktober 2013. Di askes dari http://madib.blog.unair.ac.id

Musyahida,RA. “Study Exursie.” 2012. Sidoarjo:Zifatama PUBLISHING


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment