More than Just Nation and Character Building
March 13th, 2017 at 7:01 pm
Posted by Mohammad Adib in Philosophy of Science

curiosityOleh: Ifa Nur Rosidah, NIM: 071611433037, Prodi: Sosiologi. “….Sepanjang perkuliahan Filsafat Ilmu berlangsung, banyak hikmah atau kata lainnya menurut Pak Adib “keberuntungan” diantaranya saya dapat mengenal dosen Filsafat Ilmu yang sekaligus beliau adalah seorang penulis buku. Selain itu, saya juga mendapat pembelajaran moral dari beliau tentang kedispilan dan semngat untuk menjai mahasiswa yang aktif dan kritis dalam mencari ilmu pengetahuan. Keberuntungan selanjutnya adalah saya menjadi lebih mengerti seperti apa gambaran mata kuliah Filsafat Ilmu. Melalui mata kuliah ini, sebagai mahasiswa yang baru mengenal filsafat, saya diajak untuk giat berpikir secara kritis dan rasional terhadap berbagai macam hal, serta bertanya apapun yang ingin saya ketahui kebenarannya dengan kata lain bisa disebut sebagai filsuf. Dan keberuntungan yang terakhir yaitu saya memeperoleh kelompok pada urutan pertama yang artinya minggu depan adalah waktu untuk kelompok saya mempresentasikan materi berikutnya. Jujur, saya terkejut sebab belum mempersiapkan refrensi yang akan saya gunakan untuk mengerjakan tugas kelompok tersebut. Namun saya kembali teringat akan motivasi dari Pak Adib, ketika beliau mengatakan “Mahasiswa Filsafat Ilmu?” maka saya sebagai mahasiswa harus menjawab “tangguh tak pernah mengeluh”.” 1. Not Only Philosophy That Makes Me Curious But Also With The Figure Of A Lecturer  2. GENAP(2016_2017)_FILSAFAT_ILMU_KELAS_C Nilai Narasi Individual 13 Maret 2017 3. GENAP(2016_2017)_FILSAFAT_ILMU_KELAS_C (Rancangan) Topik Makalah Individual 4.  GENAP(2016_2017)_FILSAFAT_ILMU_KELAS_C Nilai Narasi Kelompok 9 Mei 2017

Memasuki minggu kedua dalam pembelajaran perkuliahan, tepatnya di hari Selasa tanggal 7 Maret 2017. Hari yang mungkin akan terasa sangat panjang, karna pada hari ini mahasiswa Sosiologi 2016 akan melewati tiga mata kuliah yang tergolong berat diantaranya Pengantar Statistik Sosial, Filsafat Ilmu, dan Pengantar Antropologi. Entah mengapa ada sedikit perbedaan yang aku rasakan. Rasa berbeda itu muncul ketika saya dan beberapa mahasiswa Sosiologi 2016 baru saja tiba di ruang A311 gedung lantai 3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Tak lama kemudian, ada salah satu sosok laki-laki membawa tas dengan postur tubuh tinggi, sangat rapi dan berkacamata yang berhasil membuat kami para mahasiswa memalingkan pandangan ke arah beliau. Mulanya saya bertanya-tanya, “Siapa gerangan laki-laki tersebut? Seorang dosen kah?” lantas saya juga berpikir rasanya kurang percaya bahwa beliau ini adalah dosen sebab arah jarum jam yang masih menunjukkan pukul 09.30, sedangkan yang saya tahu seperti halnya pada satu semester lalu jika perkuliahan dimulai pukul 10.00 maka dosen juga akan tiba pada jam yang sama saat bel berbunyi. Namun, setelah saya memperhatikan gerak-gerik beliau, bahasa tubuhnya menggambarkan siapa beliau sebenarnya dan rasa penasaran saya pun terjawab. Ternyata benar beliau ini adalah seorang dosen mata kuliah Filsafat Ilmu. Saya tak bermaksud meragukan profesi beliau dengan hanya memandang dari sisi waktu kedatangan saja, tetapi sungguh beliau ini sosok yang sangat disiplin itulah sebabnya saya sebagai mahasiswa yang baru pertama mengenal beliau, merasakan gemuruh kagum terhadap tindakan dan sikap yang beliau lakukan yaitu datang jauh sebelum perkuliahan dimulai.

Tak hanya berhenti pada garis kegaguman itu saja, namun juga pada saat beliau memulai perkuliahan dengan suara yang lantang penuh dengan semangat bak seorang motivator, sangat luar biasa. Beliau ini memiliki beberapa jurus andalan untuk membuat kita para mahasiswa menjadi lebih semangat, fokus, dan kritis saat perkuliahan berlangsung yaitu dengan berbagai macam jargon yang beliau kumandangkan. Bahkan beliau menegaskan mata kuliah Filsafat Ilmu ini dapat “menyadarkan, mencerdaskan dan mencerahkan” kita.


Bicara mengenai Filsafat Ilmu, tentu pertama kali saya merasa asing karena selama 18 tahun ini belum pernah mempelajari, bahkan saya hanya mendengar dari beberapa orang yang mengatakan filsafat itu berat, sukar, dan sampai ada yang rasis terhadap agama karena mempelajarinya. Sebagai orang awam, rasa penasaran saya tumbuh ketika saya tahu bahwa akan memperoleh mata kuliah ini. Saya ingin mencari kebenaran apa yang kebanyakan orang pikir di luar sana tentang Filsafat Ilmu, tentunya bersama dengan beliau dosen yang mulanya tak kenal siapa namanya, dan baru saya sadari ketika beliau memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berpendapat mengenai “Apa itu filsafat dan filsafat ilmu?”. Salah seorang teman saya bernama Alfarizqy sedang mencoba memaparkan pendapatnya mengenai Filsafat Ilmu dan di sela-sela pendapat itu dosen tersebut memperkenalkan dirinya lewat sebuah buku yang beliau tulis lalu saya pun tersadar, ternyata nama beliau sudah lama saya dengar di lingkungan Unair hanya saja saya memang belum pernah bertemu langsung dengan beliau, Pak Adib itulah sosok seorang dosen yang saya ceritakan di awal narasi ini.

Kembali pada Filsafat Ilmu, tidak hanya Alfarizqy tetapi ada juga Elly yang memberikan pendapatan mengenai Filsafat Ilmu. Pertanyaan Pak Adib tentang pengertian Filsafat Ilmu membuat saya ikut berpikir keras, apa sih Filsafat itu sebenarnya? Hingga akhirnya Pak Adib mulai menjelaskan dikit demi sedikit, secara Etimologis filsafat dari bahasa Yunani yaitu dari kata philo yang bermakna cinta dan shopia yang bermakna kebenaran, kearifan, kebijaksanaan, hikmah. Dapat disimpulkan bahwa Filsafat Ilmu adalah cinta akan kebenaran, suatu dambaan untuk mencari dan mengejar kebenaran. Pak Adib juga menegaskan filsafat ini membahas tentang realitas serta berfilsafat adalah dengan mengetahui objeknya sampai pada substansi dan esensi atau menemukan suatu hal sampai pada intinya.

Setelah menjelaskan tentang makna Filsafat Ilmu, Pak Adib pun memberikan 12 materi yang akan kita presentasikan sebagai bagian dari tugas kelompok pertama. Materinya di berikan dalam bentuk file, kemudian Pak Adib membagi mahasiswa menjadi 12 kelompok. Dan saya pun terpilih ke dalam kelompok 1 yang antinya akan presentasi untuk minggu ke-3 atau pertemuan berikutnya.

Selain itu, adapun tugas individu yang diberikan adalah membuat resume atau narasi tentang apa yang telah dipelajari dan didapat dalam pertemuan pertama di bulan Maret ini untuk mata kuliah Filsafat Ilmu pada hari ini, diantaranya dengan menyertakantugas berupa soft copy yang harus dikirim ke email Pak Adib dan hard copy yang harus dikumpulkan pada hari Kamis hingga batas waktu pukul 12.00 siang di ruang Departemen Antropologi untuk memberikan langsung ke pada  Pak Adib.


Sepanjang perkuliahan Filsafat Ilmu berlangsung, banyak hikmah atau kata lainnya menurut Pak Adib “keberuntungan” diantaranya saya dapat mengenal dosen Filsafat Ilmu yang sekaligus beliau adalah seorang penulis buku. Selain itu, saya juga mendapat pembelajaran moral dari beliau tentang kedispilan dan semngat untuk menjai mahasiswa yang aktif dan kritis dalam mencari ilmu pengetahuan. Keberuntungan selanjutnya adalah saya menjadi lebih mengerti seperti apa gambaran mata kuliah Filsafat Ilmu. Melalui mata kuliah ini, sebagai mahasiswa yang baru mengenal filsafat, saya diajak untuk giat berpikir secara kritis dan rasional terhadap berbagai macam hal, serta bertanya apapun yang ingin saya ketahui kebenarannya dengan kata lain bisa disebut sebagai filsuf. Dan keberuntungan yang terakhir yaitu saya memeperoleh kelompok pada urutan pertama yang artinya minggu depan adalah waktu untuk kelompok saya mempresentasikan materi berikutnya. Jujur, saya terkejut sebab belum mempersiapkan refrensi yang akan saya gunakan untuk mengerjakan tugas kelompok tersebut. Namun saya kembali teringat akan motivasi dari Pak Adib, ketika beliau mengatakan “Mahasiswa Filsafat Ilmu?” maka saya sebagai mahasiswa harus menjawab “tangguh tak pernah mengeluh”.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment