More than Just Nation and Character Building
October 5th, 2016 at 5:46 am
Posted by Mohammad Adib in Philosophy of Science

Oleh: Shavira, 131611133140, Kelas: A3 2016. “….Pada tanggal Selasa,Foto Dengan Mahasiswa F. Keperawatan Gasal 2016-2017 4 Oktober 2016 Saya bersama dengan teman Saya A3 2016 sedang melaksanakan pembelajaran mata kuliah Filsafat Ilmu pada pukul 10.00 WIB di ruang kuliah Ramona yang difasilitatori oleh Dosen Dr.H.Moh.Adib, Drs, MA dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga. Pada pagi yang menjelang siang tersebut kami dengan antusias dan semangat mengikuti pembelajaran tersebut, meskipun ada beberapa dari teman kami yang telat memasuki ruang kuliah. Sebelum pembelajaran dimulai Bapak Adib selaku fasilitator memimpin dengan pembacaan doa. Setelah itu, kami diberi semangat Filsafat Ilmu yang meliputi 3M (menyadarkan, mencerdaskan, dan mencerahkan). Menyadarkan disini mempunyai arti menyadarkan hati, yaitu ketika belajar Filsafat Ilmu kita akan mempelajari bagaimana cara kita dapat menyadarkan hati kita bahwa tujuan kuliah adalah untuk mendapatkan ilmu, sehingga saat mata kuliah sedang berlangsung hati kita akan tersadar bahwa kita kuliah harus dengan semangat bersungguh-sungguh, sehingga menghasilkan pembelajaran yang memuaskan sesuai dengan semangat yang kita tanamkan.”  Penerapan Filsafat dalam Kehidupan Perkuliahan di FPerawatan

           

Pada tanggal 4 Oktober 2016 Saya bersama dengan teman Saya A3 2016 sedang melaksanakan pembelajaran mata kuliah Filsafat Ilmu pada pukul 10.00 WIB di ruang kuliah Ramona yang difasilitatori oleh Dosen Dr.H.Moh.Adib, Drs, MA dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga. Pada pagi yang menjelang siang tersebut kami dengan antusias dan semangat mengikuti pembelajaran tersebut, meskipun ada beberapa dari teman kami yang telat memasuki ruang kuliah. Sebelum pembelajaran dimulai Bapak Adib selaku fasilitator memimpin dengan pembacaan doa. Setelah itu, kami diberi semangat Filsafat Ilmu yang meliputi 3M (menyadarkan, mencerdaskan, dan mencerahkan). Menyadarkan disini mempunyai arti menyadarkan hati, yaitu ketika belajar Filsafat Ilmu kita akan mempelajari bagaimana cara kita dapat menyadarkan hati kita bahwa tujuan kuliah adalah untuk mendapatkan ilmu, sehingga saat mata kuliah sedang berlangsung hati kita akan tersadar bahwa kita kuliah harus dengan semangat bersungguh-sungguh, sehingga menghasilkan pembelajaran yang memuaskan sesuai dengan semangat yang kita tanamkan. Berbeda lagi jika kita menanamkan semangat yang setengah-setengah hasil yang akan kita dapat akan setengah-setengah sesuai dengan apa yang kita tanamkan. Mencerdaskan disini mempunyai arti mencerdaskan pikiran, dalam Filsafat Ilmu kita diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat yang ingin disampaikan. Mencerahkan disini mempunyai arti mencerahkan jiwa, dalam Filsafat Ilmu kita juga mempelajari bagaimana mencerahkan jiwa. Selain semangat tersebut, Filsafat Ilmu juga mempunyai semangat untuk mahasiswanya, ketika Pak Adib mengatakan “Mahasiswa Filsafat Ilmu” maka semuanya menjawab “Tangguh tak Pernah Mengeluh”. Dalam semangat itu dapat diketahui juga bahwasannya mahasiswa filsafat ilmu itu harus tangguh dan tidak pernah mengeluh ketika menghadapi banyak tugas yang harus dilaluinya. Setelah memberi beberapa semangat kepada kami Bapak Adib mengajak kami selfie bersama atau biasa disebut dengan wefie. Pengantar selanjutnya yang diberikan oleh Pak Adib adalah pengertian dari Filsafat itu sendiri, disini filsafat berasal dari kata philos = philia = cinta, sophia = kearifan, sehingga dapat disimpulkan bahwa philosophia adalah cinta kearifan “kearifan yang sesungguhnya hanyalah Allah SWT yang memiliki”. Dalam pertemuan kali ini Bapak Adib menjelaskan tentang “Perkembangan Ilmu” yang meliputi asal-usul ilmu, sejarah perkembangan ilmu setelah abad ke-17, renaissance (masa pencerahan). Filsafat Ilmu disini adalah hasil pemikiran dari para filsuf-filsuf berabad-abad yang lalu yang prosesnya melalui proses berpikir, mencintai sesuatu, sehingga akhirnya mendapatkan cinta. Filsafat Ilmu itu menemukan sesuatu hingga ke hakikatnya/intinya/kenyataannya/sarinya. Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu Hakikat filsafat dalam keperawatan contohnya adalah caring, karena inti dari keperawatan harus menanamkan sikap caring dalam melakukan pelayanan keperawatan kepada pasien. Reality dari filsafat pada akhirnya akan menemukan Tuhan, alam, manusia, ratio, kosnologi (makro dan mikro). Sejarah perkembangan Filsafat Ilmu berawal dari masa Yunani kuno pada tahun 6 SM, pada saat itu masyarakat mengenal adanya mitos atau kepercayaan yang belum tentu kebenarannya. Setalah kemajuan filsafat pada zaman Yunani yang begitu luar biasa, sejarah filsafat mencatat bahwa pada abad pertengahan (400-1500 M) filsafat berfungsi sebagai alat untuk pembenaran. Sejauh filsafat bisa melayani teologi dan bisa diterima. Namun, filsafat dianggap bertentangan dengan ajaran agama atau gereja ditolak dan kebebasan berfikir pun dihilangkan. Oleh karena itu, zaman tersebut sering dinamakan Abad Gelapan Filsafat. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa itu adalah ancillla theologiae atau abdi agama. Dengan kata lain, kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenraran agama. Agama Kristen menjadi permasalahan kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati. Inilah yang dianggap sebagai salah satu penyebab masa ini disebut dengan Abad gelap (dark age). Abad yang selanjutnya adalah abad modern yang terjadi pada tahun 14-15 SM, pada abad ini juga dinamakan renaissance atau masa pencerahan. Pada masa itu orang-orang merindukan kebebasan berpendapat pada masa Yunani-Kuno. Pada tahun 18-19 SM muncullah aliran-aliran besar, seperti rasionalisme, empirisme, eritisisme, idealism, positivisme yang melahirkan ilmu cabang seperti biologi, astronomi, matematika, fisika, kimia, sosiologi, computer, pariwisata, dll. Filsafat sendiri merupakan bunda dari segala ilmu, karena semua ilmu memerlukan adanya filsafat untuk mencapai hakikatnya. Abad selanjutnya adalah abad kontemporer yang terjadi pada tahun 20 SM, pada masa ini muncullah aliran-aliran filsafat, seperti fenomenologi, strukturalisme, dan nepositivisme yang mendorong lahirnya beberapa faktor heuristik. Sedangkan pada tradisi Sejarah Filsafat pada awalnya (Yunani-Kuno 6 SM), para pemikir pada masa itu sudah mulai mempermasalahkan dan mencari unsur induk (arche) yang dianggap sebagai asal mula segala sesuatu/semesta alam Sebagaimana yang dikemukakan oleh Thales (sekitar 600 SM) bahwa “air” merupakan arche, sedangkan Anaximander (sekitar 610 -540 SM) berpendapat arche adalah sesuatu “yang tak terbatas”, Anaximenes (sekitar 585 – 525 SM berpendapat “udara” yang merupakan unsur induk dari segala sesuatu. Nama penting lain pada periode ini adalah Herakleitos (sekitas 500 SM) dan Parmenides (515 – 440 SM), Herakleitos mengemukakan bahwa segala sesuatu itu “mengalir” akan berubah terus-menerus/perubahan sedangkan Parmenides menyatakan bahwa segala sesuatu itu justru sebagai sesuatu yang tetap (tidak berubah). Pythagoras (sekitar 500 SM) berpendapat bahwa segala sesuatu itu terdiri dari “bilangan-bilangan”: struktur dasar kenyataan itu tidak lain adalah “ritme”, dan Pythagoras orang pertama yang menyebut/memperkenalkan dirinya sebagai seorang “filsuf”, yakni seseorang yang selalu bersedia/mencinta untuk menggapai kebenaran melalui berpikir/bermenung secara kritis dan radikal secara terus-menerus. Inti dari hal itu adalah upaya mencari unsur induk segala sesuatu (arche), itulah awal sejarah yang periode myte (mitos) yang mengungkung pemikiran manusia pada masa itu kearah rasionalitas (logos) dengan suatu metode berpikir untuk mencari sebab awal dari segala sesuatu. Pada akhir mata kuliah kami diberikan tugas oleh Bapak Adib untuk meresume materi perkembangan Filsafat Ilmu dalam bentuk narasi yang diberi waktu 1×24 jam dimulai dari jam kuliah berakhir. Hikmah yang saya dapatkan pada mata kuliah Filsafat Ilmu adalah kita harus bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan kuliah, karena dengan begitu hasil yang akan kita peroleh nantinya akan sesuai dengan niat yang kita tanamkan, sedangkan jika niat itu hanya setengah-setengah maka hasil yang didapat juga setengah-setengah, dari hal itu sudah jelas bahwa usaha tidak akan pernah menghianati hasilnya. Selain itu saya juga mendapatkan semangat yang bertambah karena di mata kuliah Filsafat ilmu ini mempunyai semangat yang harus dimiliki mahasiswa Filsafat Ilmu, yaitu “Tangguh tak Pernah Mengeluh” meskipun tugas yang harus dikerjakan bertumpuk-tumpuk, tetapi sebagai mahasiswa kita dilatih utuk menghadapi tugas yang banyak tersebut, karena pada saat di dunia kerja nanti akan mendapatkan tugas yang lebih banyak lagi.

 


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment