More than Just Nation and Character Building
December 14th, 2014 at 5:21 pm
Posted by Mohammad Adib in Philosophy

Oleh: Mohammad Adib. Konsep jaringan sosial (social network) semakin signifikan dan kongkrit saat dipergunakan sebagai paradigma dalam melihat para aktornya melalui siasat-siasat yang ditempuh untuk melakukan sejumlah aksi misalnya pencurian kayu Jati (Curyuti). Penggunaan jaringan sosial sebagai perspektif akan semakin tepat saat didasari oleh paparan teoritik bahwa perspekif jaringan telah mampu mengungkapkan hal-hal yang berdimensi tersembunyi (hidden dimension) dalam dalam suatu aksi kegiatan (Adib, 2009:7; Susilo, 2003:7; dan Haryono, 2006:87).

 

Adapun konsep transaksional dalam jaringan sosial, sesungguhnya memiliki pengertian yang kontradiktif dengan konsep patron-client. Bagaimana klien  dapat melakukan transaksional dalam hubungan patron, saat ia diposisikan sebagai sub-ordinatif, dan terhegemoni, dan terdeterminasi oleh Patron. Pastilah klien  dalam kondisi yang lebih tidak berdaya untuk melakukan tawar-menawar (bargain) kepada patron. Dalam posisi yang tidak seimbang, Apakah terdapat kesempatan dan ruang bagi klien untuk melakukan negosiasi. Lalu bagaimana negosiasi dilakukan oleh klien? Dalam bentuk apa saja?

 Tantangan dalam penelitian ini adalah dalam hubungan patron-klien apakah terdapat ruang untuk bertransaksi? Jika jawabnya afirmatif maka tunjukkanlah, berapa besarannya dan dalam konteks apa saja. Eksplorasi yang dilakukan secara detil, lengkap, dan jelas adalah tantangan yang menjadi semakin menarik.

 

Mengapa terdapat pandangan yang kontradiktif (dalam perspektif teoritis), antara teori transaksional dengan hubungan patron-klien ? Asumsi dalam hubungan patron-klien adalah berupa hubungan yang asimetris dalam hal akses, kesempatan, kekuasaan, dan kewenangan. Para agen atau aktor  di lapangan, umumnya,  hanyalah menunggu order dari patron. Apakah dapat ditemukan data atau bukti demikian, di lapangan? Ataukah justru posisi patron adalah ditentukan keberadaan oleh klien, dalam konteks penyediaan kayu Jati?. Dapat dilakukan cek lagi, apakah terdapat ruang bagi klien  untuk mengatakan “tidak” atas sejumlah transaksi yang tidak sejalan dengan harapan klient? Juga atas sejumlah hal, yang dirasakan kurang dan atau tidak menguntungkan klien ?jika yang terdapat di lapangan, kejadiannya adalah demikian, berarti aktor  dalam klien itu bukanlah orang-orang yang biasa (biasa saja), bukan orang sembarangan, dan bukan klien yang umumnya ditemukan dalam masyarakat. Karena model klien yag seperti itu, tidak terhegemoni oleh Patron. Aktor  dalam klien, dengan demikian adalah orang-orang yang memiliki skill (keterampilan) yang khusus. Dalam hal mental, mereka memiliki sikap keberanian, tekad, performa, preferensi yang lebih daripada umumnya orang. Para aktor  di lapangan memiliki kemampuan determinasi, spesifikasi, dan kwalifikasi yang memadai.  Kekhususan dari aktor adalah spesial, dalam keterampilan misalnya saat mengidentifikasi obyek sasaran Pohon kayu Jati, cara memotong kayu, keteguhan, ketabahan, ketekunan, dan keberanian.

 

Peluang untuk melakukan kritik atau koreksi kepada teori patron – klien, adalah bahwa tidak selamanya, teori tersebut bersifat eksploitatif sebagaimana dikemukakan oleh kaum Marxian. Tetapi dalam konteks tertentu juga terdapat ruang untuk melakukan negosiatif. Temukan dalam hal apa, kegiatan apa, tahapan, dan kapan saja? Temukan buktinya dalam kegiatan di lapangan.

 

 

Tansaksionalitas dalam hubungan patron-klien adalah fungsi dari ketidakseimbangan akses. Saat menggunakan perspektif Marxian, klien hanyalah dapat melakukan kegiatan untuk “revolusi.” Dalam skala mikro misalnya Curyuti (Pencurian Kayu Jati), terdapatkah ruang untuk melakukan transaksi yang dilakukan oleh para aktor  secara sadar. Dapatkah para aktor  (klien) di lapangan melakukan “pemogokan.” Kalau tidak, mengapa tidak melakukannya.

 

Perspektif jaringan menjadi semakin nyata, dari sejumlah aksi yang dilakukan oleh para aktornya. Para aktor  yang terlibat di dalamnya, adalah orang-orang  yang memiliki kwalifikasi, kompetensi, dan determinasi. Dalam jaringan terdapat patron yang memberikan layanan pembayaran atas barang kayu Jati yang diterimanya, namun Juragan tidak apat berperilaku semena-mena, karena aktor  mempunyai kemampuan untuk bernegosiasi dan menolaknya. Betulkah?

 

Akan lebih tepat lagi saat ditemukan bukti bahwa hubungan yang asimetris (structural) itu, dalam konteks Curyuti, adalah khas, karena orang yang terlibat adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan khusus yang kemampuan tersebut tidak semua orang dapat melakukannya. Artinya, bagi aktor , enegrinya untuk berani dan mampu menegosiasikan keberadaan dirinya dalam jaringan Curyuti. Mungkin di lingkungan mereka mempunyai istilah-istilah khusus misalnya “ngunu yo ngunu ning ojo ngunu (berbuat begitu ya berbuatlah asal tidak begitulah. “Bos, ya Bos. Aku ora ngerti, ya jangan begitulah.”

Terdapat sejumlah dugaan, bahwa para aktor  Curyuti bukanlah sembarang orang, keahliannya dilakukan untuk melakukan Curyuti. Bagaimanakah kesadarannya, atau keterperangkapannya dan ketakterelakkannya perilaku tersebut?


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment