More than Just Nation and Character Building
March 20th, 2014 at 10:35 pm
Posted by Mohammad Adib in Philosophy, Philosophy of Science

Oleh: Kelompok 11, Sikha Arimasen Michi (071311733051), Latifatul Fatimah (071311733017), Rini Linasari (071311733016), Thalia Nadhila Rachmawati (071311733067), Azzahro Amalia  (071311733071), Duhitta Hayyuardhini (071311733071), Anisah Hijriyati M (071311733077). Pertemuan ke tiga untuk mata kuliah filsafat. Tepat pada hari Rabo, Tanggal, 19 Maret 2014 pagi pukul 07.00 dosen kita pak adib datang. Materi kali ini sangat menarik menurut kelompok kami, yang bertopik  “Krisis Ilmu Pengetahuan dan Relevansinya untuk Mensinergikan dengan Filsafat”. seperti biasa kelompok berikutnya menjelaskan tentang topik tersebut dan diteruskan oleh pak Adib. Beliau sangat Piawai dalam menjelaskan topik ini. Pak adib selalu memberikan kata kunci dalam setiap pertemuan kali ini kata kuncinya adalah: 1. Krisis Ilmu, 2. Sinergi Ilmu dengan Filsafat.

Terdapat 3 indikator utama krisis Ilmu Pengetahuan yaitu:

1.       Tidak adanya penemuan baru setelah Charles Darwin

2.       Ilmu dan teori-teorinya gagal atau tidak mampu menjelaskan gejala alam dan non alam ( gagal menjelaskan krisis-krisis kemanusiaan)

3.       Terjadi krisis moralitas dan kejahatan dalam dunia ilmu yang terus meluas.

Dari 3 pertemuan, menurut kelompok kami topik ini yang sangat menarik. Beliau mengaitkan ilmu filsafat dengan berbagai objek misalkan uang, dengan uang kita bisa melakukan apa saja, membeli apa saja, dengan membuat istilah “keuangan yang maha kuasa”. Hal ini di lihat dari kejadian saat ini, kasus para pejabat tinggi negara yang memandang uanglah yang maha kuasa, yang marak saat ini hampir semua melakukan korupsi berkali-kali. Muncullah pepatah “ hanyalah keledai yang berkali-kali terperosok di lubang yang sama”.  Objek yang diberikan pak adib bukan hanya uang ada lagi yaitu:  Tuhan, Alam, Manusia, Ilmu tentang Ilmu.

-          Ketuhanan, Alam dan Manusia

Contoh yang diberikan pak adib: Ada seseorang yang bertanya, mampukah tuhan menciptakan suatu batu yang besar sekali, dan tuhan tidak mampu mengangkatnya?

Jawabanya: pertanyaan itu kontradiksi dengan dirinya sendiri, intinya pertanyaan itu pertanyaan yang salah, kenapa salah? Tuhan tidak berobyek melainkan kitalah (manusia) yang dijadikan obyek oleh tuhan, tuhan tidak dibawah kekuasaan kita, melainkan kita dibawah kekuasaannya. Tuhan menciptakan alam dan manusia saja bisa, apa lagi hanya sebuah batu. Pada intinya pertanyaan itu salah besar.

Perbedaan filsafat dengan ilmu bisa dilihat dari suatu obyek yaitu seluruh kenyataan. Apa sih maksud dari kenyataan?  Berbicara tentang filsafat, berfilsafat itu sampai memfilsafati hal yang mungkin ada dan hal yang ada, sampai ke akar-akarnya.  Alam semesta adalah ide dari tuhan sehingga timbul istilah “kehidupan adalah seperti bayang-bayang” seperti contoh jika kita di cubit kita merasa sakit, kursi yang nyaman untuk di duduki adalah merupakan bayang-bayang dari ide, uang juga merupakan sumber dari bayang-bayang.

Ilmu objeknya hanya aspek tertentu saja atau pada bidang tertentu saja. Misalkan contoh : Antropologi, sosiologi, dan psikologi objeknya semua mengacu pada manusia. Tetapi, yang membedakan adalah perspektif tertentunya, seperti materi, sudut pandang. Antro membantu manusia dari segi kebudayaan, sosiologi dari segi relasi.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment