More than Just Nation and Character Building
June 13th, 2013 at 8:58 pm
Posted by Mohammad Adib in Logic, Philosophy, Philosophy of Science

Oleh: Dyaz Yogasmara NIM : 071211133044 www.dyaz-yogasmara-fisip12.web.unair.ac.id, Dwi Sri Susanti NIM : 071211132042 www.dwi-susanti-fisip12.web.unair.ac.id, Moh. Irham Triyuda NIM : 071211132012 www.moh-ham-fisip12.web.unair.ac.id, Bagas Prasetyo Nugroho  NIM :071211133066 www.bagas-prasetyo-fisip12.web.unair.ac.id, Achmad Baharudinsyah NIM : 071211133037 www.achmad-baharudinsyah-fisip12.web.unair.ac.id. Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. “…….Pertemuan pada pagi hari ini dibuka dengan sedikit berbeda dari pagi yang biasanya, Pak Adib memberikan kejutan yang sempat membuat mahasiswa yang terlambat kebingungan dan terkejut sehingga membuat suasana kelas menjadi semarak oleh gelak tawa yang disebabkan lucunya ekspresi mahasiswa yang terlambat, walaupun hanya lima menit harus menempati kursi panas yang berada di barisan paling depan yang semestinya batas toleransi keterlambatan adalah 15 menit, yang membuat kami lebih waspada dan akan lebih disiplin waktu pada jam yang telah ditetapkan agar di pertemuan berikutnya tidak menjadi mahasiswa spesial yang duduk di barisan paling depan dan berhadapan langsung dengan dosen jenius pengajar ilmu filsafat Bapak H.M.Adib .” Mata Rantai Penemu Kebenaran Melalui Logika Penalaran Induksi.pdf Selasa, 28 Mei 2013, kami bertemu kembali dengan dosen paling spektakuler dari Departemen Antropologi, yaitu Mas Adib. Tepat pukul 10.00 WIB semangat pagi telah menyapa kami untuk mengikuti kuliah filsafat ilmu. Seperti biasanya Pak Adib langsung siap di kursi untuk memandu kami semua untuk mengikuti mata kuliah filsafat ilmu. Sapaan halo dan yang lainnya seakan membuat semangat kami membara dan menggebu – gebu untuk mengikuti mata kuliah ini.

Pertemuan pada pagi hari ini dibuka dengan sedikit berbeda dari pagi yang biasanya , Pak Adib memberikan kejutan yang sempat membuat mahasiswa yang terlambat kebingungan dan terkejut sehingga membuat suasana kelas menjadi semarak oleh gelak tawa yang disebabkan lucunya ekspresi mahasiswa yang terlambat , walaupun hanya lima menit harus menempati kursi panas yang berada di barisan paling depan yang semestinya batas toleransi keterlambatan adalah 15 menit , yang membuat kami lebih waspada dan akan lebih disiplin waktu pada jam yang telah ditetapkan agar di pertemuan berikutnya tidak menjadi mahasiswa spesial yang duduk di barisan paling depan dan berhadapan langsung dengan dosen jenius pengajar ilmu filsafat Bapak H.M.Adib .

Pertama bapak Adib sedikit mengulas tentang penalaran deduksi seperti yang di bahas minggu sebelumnya. Iya sedikit pembahasan untuk mengingat – ingat tentang pembelajaran minggu sebelumnya karena bab yang akan di bahas minggu ini masih memiliki keterkaitan  dengan presentasi minggu lalu.

Setelah itu Bapak Adib memanggil satu persatu anggota kelompok yang melakukan presentasi dan seperti sebelum – sebelumnya absensi dilakukan oleh perwakilan dari kelompok yang melakukan presentasi dan kali ini di bacakan oleh Karina dan Dian dari kelompok 9B. Dan suasana yang tak asing lagi yaitu banyak beberapa teman kami yang duduk di kursi kehormatan karena terlambat.

Dalam pembahasan kali ini dibahas tentang penalaran induksi yang akan di presentasikan oleh kelompok 9B dan kelompok 9A sebagai pembanding dalam jalannya presentasi.

Singkat cerita langsung kami jelaskan tentang pembahasan dari kelompok 9B dalam presentasi minggu ini :

Apa sih itu logika induksi ?

Logika → pengetahuan yang simpul - menyimpulkan penalaran yang diperoleh dari premis – premis. Induksi → suatu cara berpikir dimana ditarik sebuah kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.

Logika Induksi → mengamati berbagai fenomena dan mengumpulkan berbagai macam fakta dan data yang kemudian dievaluasi untuk bisa melahirkan kesimpulan umum. Kesimpulan tersebut pada dasarnya merupakan generalisasi proposisi tunggal yang ada dan memperlihatkan keterkaitan.

Menurut Aristoteles pola penalaran induksi adalah proses peningkatan dari hal-hal yang bersifat individual kepada yang bersifat universal. Menurut John Stuart Mill (1806-1837), induksi sebagai kegiatan budi, dimana kita menyimpulkan bahwa apa yang kita ketahui benar untuk kasus atau kasus-kasus khusus, juga akan benar untuk semua kasus yang serupa dengan yang tersebut tadi dalam hal-hal tertentu.

Jenis logika induksi itu sendiri ada 2 yaitu:

Generalisasi induksi, ialah penalaran yang menyimpulkan sesuatu konklusi yang bersifat umum dari premis-premis yang berupa proposisi empirik.

Generalisasi yang sebenarnya harus memenuhi 3 syarat antara lain :

–   Generalisasi harus tidak terbatas secara numerik.

–   Generalisasi harus tidak boleh terbatas secara spasio – temporal.

–   Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian.

Analogi induksi, lebih menunjukan persamaan diantara dua hal yang   berbeda akan tetapi menarik kesimpulan atas dasar persamaan itu.

Kemudian setelah kelompok 9B selesai menyampaikan presentasi kemudian dibuka sesi pertanyaan dan saat itu kemudian sang moderator mempersilahkan bagi para audience untuk bertanya kepada kelompok penyaji. Kemudian ketika sang moderator berhitung dari angka 1….2….3 siapa yang mengacungkan tangan paling cepat maka mereka lah yang diperbolehkan untuk mengajukan pertanyaan. Dan yang beruntung pada saat itu adalah saudara Ogin,  saudari Siska dan saudari Nikita.

Sesi pertanyaan:

Ogin       : “Apakah yang dimaksud dengan spasio-temporal?”

Siska        : “Apakah generalisasi induksi dikatakan benar dan tepat?”

Nikita      : “Penalaran induksi adalah obyek empiris dan di buku, empiris adalah penelitian yang menggunakan sampling. Apakah ada yang membantah?”

Sesi menjawab:

Dian (menjawab nomer 2)    : “generalisasi dikatakan hampir benar. Jadi, intinya penalaran induksi itu memang mendekati kebenaran.

Wawan (menjawab nomer 1)                : “spasio-temporal itu adalah tidak boleh terbatas ruang dan waktu. Contoh, semua apel berwarna hijau asam rasanya. Jadi dimanapun dan kapanpun semua apel yang berwarna hijau rasanya asam.” Namun untuk pertanyaan dari nikita tidak dijawab oleh kelompok penyaji karena terbatasnya waktu kuliah yang tersedia.

Kemudian tiba waktunya bagi kelompok 9A selaku pembanding untuk menyampaikan tambahan untuk kelompok penyaji. Ayu novia selaku ketua kemudian menambahkan bahwa terdapat langkah-langkah untuk menarik kesimpulan dengan logika induksi yaitu meliputi:

Induksi Murni                        : Identifikasi masalah - pengamatan dan pengumpulan data - merumuskan hipotesis - pengujian hipotesis

Induksi modifikasi                : Adanya suatu situasi masalah - pengajuan hipotesis - penelitian lapangan - pengujian hipotesis.

Pola metode logika induksi itu sendiri memiliki kelebihan dan kekurangan yaitu:

Kelebihan: - Memberikan tempat penting pada pengalaman indrawi & eksperimen

- Pernyataan bersifat ekonomis

Kekurangan: - Keterbatasan dan ketidaksempurnaan  panca indra

-          Para ilmuwan terjebak di dalam idola-idola pikiran

Sebelum mengakhiri sesi presentasinya sang moderator mengajukan pertanyaan yang ditanyakan oleh Ogin, Siska dan Nikita untuk dilemparkan kepada audiences. Namun ketika moderator telah membacakan pertanyaannya satu per satu namun tidak ada dari audiences satu pun yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh moderator.

Setelah presentasi kelompok 9B selesai langsung sedikit penjelasan dari dosen kita Bapak Adib. Pembahasan sedikit dari Bapak Adib masih menyinggung tentang bab yang di bahas minggu ini. Beliau membahas tentang faktor probabilitas dalam penalaran induksi yang meliputi:

  • Jumlah fakta sebagai faktor probabilitas, bahwa jika makin besar jumlah fakta yang dijadikan dasar penalaran induktif, makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya.
  • Faktor analogi sebagai faktor probabilitas, makin besar jumlah faktor analogi di dalam premis, makin rendah probabilitas konklusinya dan sebaliknya.
  • Faktor dis-analogi sebagai faktor probabilitas, makin besar jumlah faktor disanalogi di dalam suatu premis, makin tinggi probabilitas konklusinya dan sebaliknya.
  • Luas dan sempitnya kesimpulan sebagai faktor probabilitas, semakin luas konklusi premis, semakin rendah probabilitasnya dan sebaliknya.

Jam pun sudah menunjukkan pukul 11.40 dan kami senang sekali karena telah mendapatkan ilmu yang berguna bagi kami dan berharap bahwa ilmu yang diterima pada hari ini bermanfaat dan berguna untuk kami di kemudian hari. Sebelum mengakhiri pembelajaran pada hari itu seperti biasa Pak Adib mengajak para mahasiswa di kelas untuk berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing. Setelah berdoa selesai akhirnya Pak Adib mengakhiri pembelajaran filsafat pada hari itu.

Demikian review dari kelompok kami untuk pembelajaran filsafat semester 2 ini. Semoga bermanfaat dan berguna dan bila ada salah kata atau penulisan yang kurang sempurna mohon dimaklumi karena manusia tidak luput dari kesalahan. Terima kasih.

1.        Pengertian penalaran induksi

Aristoteles menyatakan bahwa proses peningkatan dari hal-hal yang bersifat individual kepada yang bersifat universal disebut sebagai pola penalaran induksi. Premisnya berupa proposisi-proposisi singular, sedangkan konklusinya sebuah proposisi universal yang berlaku secara umum. Sedangkan menurut Stuart Mill (1806-1873), induksi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan budi, di mana kita menyimpulkan bahwa apa yang kita ketahui benar di dalam suatu kasus atau kasus-kasus khusus, juga akan benar untuk semua kasus yang serupa dengan yang tersebut tadi dalam hal-hal tertentu.

2.        Prinsip-prinsip penalaran induksi

Untuk mengetahui prinsip-prinsip penalaran induksi, terlebih dahulu akan diberikan suatu contoh.

-          Pejabat 1 yang bertugas di kantor Direktorat Perpajakan melakukan korupsi

-          Pejabat 2 yang bertugas di kantor Direktorat Perpajakan melakukan korupsi

-          Pejabat 3 adalah pejabat yang bertugas di kantor Direktorat Perpajakan

-          Pejabat 4 melakukan korupsi

Dari contoh di atas kita dapat mengetahui prinsip-prinsip yang terdapat di dalam penalaran induksi. Berikut adalah prinsip-prinsip penalaran induksi.

a.        Pertama, premis-premis dari induksi ialah proposisi empiris yang langsung kembali pada suatu observasi indra atau proposisi dasar (basic statement). Proposisi dasar di dalam penalaran induksi haruslah merujuk kepada fakta-fakta yang dapat diuji atau ditangkap oleh indera. Apabila kita melihat pada contoh di atas, jelas bahwa premis yang disajikan dapat kita tangkap dengan indera. Kita mengetahui bahwa pejabat 1 yang bertugas di kantor Direktorat Perpajakan melakukan korupsi dengan menangkap melalui indera penglihatan dan indera pendengaran. Sehingga, sesuailah premis tersebut dengan prinsip penalaran induksi yang pertama ini.

b.       Kedua, konklusi penalaran induktif lebih luas daripada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya. Artinya, konklusi di dalam penalaran induktif haruslah mencakup seluruh premis yang telah disampaikan sebelumnya karena premis-premis yang sebelumnya merupakan suatu proposisi atau pernyataan yang sifatnya khusus.

c.        Konklusi induksi memiliki kredibilitas rasional atau probabilitas. Artinya konklusi yang ditarik atau diambil dapat dipercaya kebenarannya dan dapat didukung dengan pengalaman indera. Jadi, sama halnya dengan konklusi yang ditarik pada contoh sebelumnya di mana konklusi tersebut dapat kita lihat dan dapat kita dengar bahwa konklusi tersebut merupakan fakta yang nyata.

Contoh:

Premis umum         : Melakukan uji materi pada Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar merupakan salah satu tugas hakim Mahkamah Konstitusi

Premis khusus        : Harjono, Akil Muchtar, dan Achmad Sodikin merupakan hakim Mahkamah Konstitusi

Kesimpulan           : Harjono, Akil Muchtar, dan Achmad Solikin harus melakukan uji materi pada Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar

3.        Jenis penalaran induksi

a.        Generalisasi induksi

Penalaran yang menyimpulkan suatu konklusi yang bersifat umum dari premis premis yang berupa empirik disebut generalisasi . Prinsip utamanya dapat dirumuskan demikian : “apa yang beberapa kali terjadi dalam kondisi tertentu , dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi” . Hasil penalarannya juga disebut generalisasi dimana suatu proposisi universal . Syarat syarat yang harus dipenuhi antara lain :

1.        Generalisasi tidak boleh terikat kepada jumlah tertentu

2.        Generalisasi tidak boleh terbatas secara spasio temporal , artinya tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu

3.        Generalisasi harus dijadikan dasar pengandaiian atau yang biasa disebut ‘contary to-facts conditionals’ atau ‘unfulfilled conditional’.

Contoh:

Harjono merupakan hakim konstitusi yang dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Maka setelah kita mengetahui karakter Harjono tersebut kita menyimpulkan bahwa semua hakim konstitusi diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

b.       Analogi induksi

Analogi dapat dimanfaatkan sebagai penjelasan atau sebagai dasar penalaran . Pada dasarnya bentuk penalaran analogi baik faktor faktor probabilitasnya maupun kaidah-kaidahnya sama dengan generalisasi induksi. Tetapi di dalam metode keilmuan analogi induktif dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu objek atau fakta itu, dan sifat sifat apakah yang dapat diharapkan padanya, sedangkan generalisasi induksi digunakan untuk menemukan hukum, menyusun teori, atau hipotesis.

Contoh :

-          Harjono merupakan hakim konstitusi yang bertanggung jawab terhadap tugasnya

-          Akil Mochtar merupakan hakim konstitusi yang bertanggung jawab terhadap tugasnya

-          Achmad Solikin merupakan hakim konstitusi yang bertanggung jawab terhadap tugasnya

-          Arief Hidayat merupakan hakim konstitusi

-          Jadi, Arief Hidayat merupakan hakim konstitusi yang bertanggung jawab terhadap tugasnya

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa analogi induksi tidak hanya menunjukan persamaan diantara dua hal yang berbeda, akan tetapi menarik kesimpulan atas dasar persamaan itu.

4.        Probabilitas (kredibilitas rasional)

Prinsip dasar dalam penyimpulan penalaran induksi adalah objek empiris, tidak perlu mencapai kebenaran mutlak atau permanen, cukup dengan memiliki peluang (probabilitas) untuk benar atau tepat. Artinya konklusi yang diambil atau ditarik dari penalaran induksi berupa suatu konklusi yang tidak harus selalu berupa suatu kepastian, melainkan cukup dengan suatu kemungkinan atau peluang atau probabilitas. Namun, probabilitas yang dimaksudkan di sini bukanlah suatu probabilitas yang tidak diterima oleh akal pikiran, tetapi sebaliknya. Konklusi yang diambil berisi tentang fakta-fakta yang dapat diterina oleh pikiran sehingga sifat konklusi adalah rasional dan didukung oleh pengalaman indera.

5.        Faktor probabilitas dalam penalaran induksi

a.        Jumlah fakta

Kaidahnya semakin besar jumlah fakta yang dijadikan dasar penalaran induktif , semakin tinggi probabilitas konklusinya, begitu pula sebaliknya. Artinya semakin banyak fakta yang dikumpulkan dan dijadikan sebagai suatu premis, maka angka probabilitas yang didapatkan akan semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya, apabila fakta yang dikumpulkan hanya sedikit atau bahkan hanya satu, maka kesimpulannya pasti akan salah. Teori ini disebut dengan teori asimetri di dalam induksi.

b.       Jumlah faktor analogi

Faktor analogi adalah faktor yang sama yang diambil dari masing-masing premis yang ada dalam penalaran. Kaidahnya semakin besar jumlah faktor analogi didalam premis, semakin rendah probabilitas konklusinya, begitu pula sebaliknya. Jadi, setiap generalisasi induktif hanya berlaku untuk populasi yang dimaksud oleh premis-premisnya.

c.        Jumlah faktor disanalogi

Faktor disanalogi merupakan perbedaaan masing-masing faktor didalam premis penalaran. Kaidahnya semakin besar jumlah faktor disanalogi di dalam suatu premis semakin tinggi probabilitas konklusinya, begitu pula sebaliknya. Probabilitas dalam suatu premis penalaran dapat dikatakan lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari banyak sedikitnya kesamaan dan perbedaan konklusi penalaran. Populasi yang ditunjuk oleh generalisasi tidak boleh memiliki anggota yang tidak sesuai dengan adanya faktor analogi dan disanalogi di dalam premis.

d.       Luas atau sempitnya kesimpulan

Semakin luas konklusi sebuah premis maka semakin rendah probabilitasnya dan sebaliknya. Apabila faktor analogi di dalam generalisasi sedikit, semakin besar kemungkinan generalisasi atau proporsi itu tidak sesuai lagi kalau anggotanya ada yang memiliki faktor analogi lebih daripada yang disebut dalam generalisasi atau proporsi itu. Untuk membuktikan bahwa suatu rumusan benar atau salah, harus dicari fakta-faktanya.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment