More than Just Nation and Character Building
June 13th, 2013 at 8:16 pm
Posted by Mohammad Adib in Logic, Philosophy, Philosophy of Science

http://homeforprofits.com/wp-content/uploads/excellent.jpgOleh: Karina Surya Permatasari (071211131021), Dian Indrawati (071211132011), Nailun Ni’mah (071211133056), Maylina Nurwindiarti (071211131011), Miftakhul P Kurniawan (071211131097), Maria Charlin Norin Reswa (071211133028) Departemen Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga. “…..Kami sempat terkejut ketika mendengarkan Pak Adib menyebut beberapa nama mahasiswa dan mahasiswi AN. Kami tidak menyangka bahwa pak Adib bisa mengahafalkan banyak nama mahasiswa AN dengan benar. Sungguh dosen yang super sekali karena baru kali ini ada dosen yang hafal dengan nama mahasiswanya dengan benar. Dan baru kali ini juga kami melihat dosen yang selalu memberikan contoh yang langsung bisa ditangkap oleh rasio kami tanpa kami bisa membantahnya lagi. Tidak lupa, ditengah perkuliahan Pak Adib selalu menyelipkan kata-kata motivasi untuk menambah semangat kami. Itulah yang kami selalu kagumi dari sosok seorang dosen Filsafat kita yaitu Pak Adib. Kurang lebih 45 menit beliau menjelaskan tentang materi penalaran induksi, karena jam sudah menunjukkan pukul 11.40 maka perkuliahan hari ini diakhiri. Sebelum mengakhiri perkuliahan, Pak Adib mengajak kami untuk berdoa lebih dahulu. Sungguh dosen yang berbeda dari dosen-dosen lainnya, jika kuliah berakhir hanya diakhiri begitu saja. Sifat religius dan kedisiplinan Pak Adib yang membuat kami kagum terhadap beliau. Setelah doa berakhir, maka berakhir pula kuliah Filsafat Ilmu pertemuan ke-12 hari ini. Menjadi Mahasiswa Excellent dengan Pemahaman Penalaran Induksi.pdf Tidak terasa sudah 12 minggu kami diajar oleh dosen seperti beliau yang memberi kami banyak sekali ilmu pengetahuan dan juga sikap-sikap positif bagi kami. Kuliah kami akhiri dengan segudang ilmu yang kami dapatkan hari ini.”

Tidak terasa hari ini kita menjumpai hari Selasa tanggal 28 Mei 2013 dan itu artinya kita akan bertemu kembali dengan mata kuliah Filsafat Ilmu yang diajar oleh Bapak Moh. Adib. Sangat senang sekali kami bisa bertemu dengan mata kuliah yang hanya kami dapat sekali di perkuliahan ini namun sangat banyak sekali ilmu-ilmu yang kami dapat dari mata kuliah ini. Seperti biasa, 15 menit sebelum bel perkuliahan dibunyikan Pak Adib sudah datang di kelas. Seorang dosen yang selalu konsisten untuk bertindak disiplin agar dapat dicontoh oleh semua mahasiswa. Beliau menulis di papan mengenai apa yang akan dibahas pada hari ini yaitu tentang “Pola Penalaran Induksi”. 5 menit sebelum perkuliahan dimulai, kelompok hari ini yang akan presentasi yaitu kelompok 9B yang merupakan kelompok kami, sudah bersiap di depan kelas dan akan menjelaskan tentang pola penalaran induksi, dengan kelompok 9A sebagai kelompok pembanding. Waktu sudah menujukkan pukul 10.00, Pak Adib menutup pintu tanda perkuliahan akan segera dimulai. Mahasiswa yang sedang menuju kelas bergegas sebelum duduk di kursi kehormatan.

Pak Adib membuka perkuliahan dengan kalimat pengantar dan mengajak kami berdoa terlebih dahulu sebelum memulai perkuliahan. Begitu banyak pengaruh baik yang ditularkan oleh beliau kepada kami. Moderator kelompok 9B ditunjuk untuk mengabsen mahasiswa yang hadir. Moderator kelompok kami yaitu Karina Surya, dibantu oleh Dian Indrawati memanggil satu persatu nama mahasiswa Administrasi Negara. Setelah selesai mengabsen, kami dipersilahkan Pak Adib untuk mempresentasikan materi kami. Karina membuka diskusi kita pada hari ini dengan memperkenalkan satu persatu anggota kami. Kelompok kami membahas tentang pengertian, prinsip-prinsip, jenis, probabilitas dan faktor probabilitas. Satu demi satu kami membacakan slide yang berisi materi kami. Setelah materi yang kami sampaikan selesai, moderator kami mempersilahkan kelompok 9A sebagai kelompok pembanding untuk menambahkan materi kami. Ayu Novia menambahkan contoh-contoh dari penalaran induksi. Disusul dengan Herfina Tedjo dan Ariani. Kemudian dibukalah sesi pertanyaan, ada 3 mahasiswa yang mengangkat tangan yaitu Ogin Antariksa, Nikitasari, dan Fransiska. Pertanyaan tersebut terdiri dari :

·         Ogin Antariksa : “Apakah yang dimaksud dengan Spasio-Temporal dan sebutkan contohnya?”

·         Nikitasari : “apa yang dimaksud dengan metode sampling yang digunakan di pola penalaran induksi ? apakah ada pembantahan laagi ?”

·         Fransiska : “kapan generalisasi induksi dikatakan benar dan tepat ?”

Kelompok kami meminta waktu beberapa menit untuk mendiskusikan jawaban dari pertanyaan yang sudah diajukan. Beberapa saat kemudian Dian Indrawati menjawab pertanyaan dari Fransiska, lalu disusul Miftakhul Kurniawan yang menjawab pertanyaan dari Ogin Antariksa. Disini Wawan menjawab bahwa spasio-temporal berarti generalisasi tersebut tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu, jadi harus berlaku dimana saja dan kapan saja.  Wawan juga memberikan contoh mengnai apel. Apel yang berwarna hijau berasa masam, maka kapanpun dan dimanaapun apel hijau berasa masam. Kemudian Pak Adib melakukan perbantahan bahwa tidak semua apel hijau berasa masam, karena apel malang berwarna hijau yang terkadang tidak masam. Lalu banyak juga dijumpai di supermarket apel berwarna hijau juga tidak masam. Kemudian Wawan memberi contoh lain lagi yaitu mangga muda, kapanpun dan dimanapun berasa masam. Beliau pun kembali membantah pernyataan tersebut bahwa mangga manalagi pun masi tetap manis walau masih muda. Disnilah kelompok pembanding mulai menambahkan dan membantu memberi contoh yaitu: Orang makan menggunakan tangan, maka kapanpun dimanapun setiap orang makan menggunakan tangan. Disinilah baru tidak ada perbantahan lagi. Dan kelompok 9A juga menambahkan dan membantu kelompok 9B untuk menjawab pertanyaan. Karena keterbatasan waktu dan kami hanya diberikan 15 menit untuk mempresentasikan materi kelompok kami, maka moderator mengakhiri diskusi kita hari ini. Kami menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan dan ketidaksempurnaan dari penampilan kami tadi.

Setelah diskusi diakhiri, kini giliran Pak Adib yang menjelaskan lebih detail lagi kepada mahasiwa tentang Apakah Penalaran Induksi itu. Induksi merupakan pola penalaran untuk melakukan penyimpulan dalam logika dari kasus-kasus umum. Dijelaskan pula prinsip dari penalaran induksi itu seperti apa. Jenis-jenis penalaran induksi dan probabilitas (kredibilitas beserta faktornya). Beliau menjelaskan dan memberi contoh masing-masing. Beberapa contoh yang digunakan pak Adib dalam penjelasannya adalah contoh mengenai apel. Generalisasi induksi dicontohkan: (1) apel malang 1 keranjang warna hijau. (2) dicobalah dan menunjukan rasanya masam. Maka dapat disimpulkan bahwa apel malang 1 keranjang tersebut berasa masam. Namun terdapat juga unsur-unsur analogi lainnya antara lain: (1) warna hijau (2) ketika dipegang keras (3) rasanya masam. Kesimpulan: apel berwarna hijau dan ketika dipegang keras maka rasanya masam. Beliau juga menambahkan bahwa pola penalaran induksi hanya diambil unsur-unsurnya yang sama saja, dengan mengabaikan unsur yang berbeda dengan contoh dimisalkan dalam satu keranjang apel. Apel 1 dipegang keras dan berwarna hijau berasa masam, apel 2 ketika dipegang keras, dan warna hijau juga masam maka dapat disimpulkan bahwa semua apelnya masam. Kemudian beliau menyebutkan beberapa nama mahasiswanya untuk dijadikan contoh. Contohnya adalah: (1) mahasiswa yang bertanya dan menjawab adalah mahasiswa yang cerdas (2) mahasiswa yang selalu bertanya dan menjawab adalah mahasiswa yang cerdas, maka semua mahasiswa Administrasi Negara adalah mahasiswa yang cerdas. Setelah memberikan pernyataan itu Pak Adib langsung menyebutkan beberapa nama mahasiswa yang diingat oleh beliau untuk dijadikan contoh yaitu: (1) Ogin sering bertanya dan menjawab maka dia adalah mahasiswa yang cerdas; (2) Anton sering bertanya dan menjawab maka dia adalah mahasiswa yang cerdas; (3) Gina sering bertanya dan menjawab maka dia adalah mahasiswa yang cerdas; (4) Susilo sering bertanya dan menjawab maka dia adalah mahasiswa yang cerdas. Maka dapat disimpulkan bahwa semua mahasiswa Administrasi Negara adalah mahasiswa yang cerdas.  Beliau juga menambahkan kebenaran ini bersifat probabilitas, jadi semakin banyak bukti maka semakin bisa diterima oleh rasio kita, dan semakin tinggi fakta semakin tinggi pula probabilitasnya. Kami sempat terkejut ketika mendengarkan Pak Adib menyebut beberapa nama mahasiswa dan mahasiswi AN. Kami tidak menyangka bahwa pak Adib bisa mengahafalkan banyak nama mahasiswa AN dengan benar. Sungguh dosen yang super sekali karena baru kali ini ada dosen yang hafal dengan nama mahasiswanya dengan benar. Dan baru kali ini juga kami melihat dosen yang selalu memberikan contoh yang langsung bisa ditangkap oleh rasio kami tanpa kami bisa membantahnya lagi. Tidak lupa, ditengah perkuliahan Pak Adib selalu menyelipkan kata-kata motivasi untuk menambah semangat kami. Itulah yang kami selalu kagumi dari sosok seorang dosen Filsafat kita yaitu Pak Adib. Kurang lebih 45 menit beliau menjelaskan tentang materi penalaran induksi, karena jam sudah menunjukkan pukul 11.40 maka perkuliahan hari ini diakhiri. Sebelum mengakhiri perkuliahan, Pak Adib mengajak kami untuk berdoa lebih dahulu. Sungguh dosen yang berbeda dari dosen-dosen lainnya, jika kuliah berakhir hanya diakhiri begitu saja. Sifat religius dan kedisiplinan Pak Adib yang membuat kami kagum terhadap beliau. Setelah doa berakhir, maka berakhir pula kuliah Filsafat Ilmu pertemuan ke-12 hari ini.

Tidak terasa sudah 12 minggu kami diajar oleh dosen seperti beliau yang memberi kami banyak sekali ilmu pengetahuan dan juga sikap-sikap positif bagi kami. Kuliah kami akhiri dengan segudang ilmu yang kami dapatkan hari ini.

POLA PENALARAN INDUKSI

Pengertian Penalaran Induksi

Penalaran induksi merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induksi merupakan kebalikan dari penalaran deduksi.

Filsuf pada zaman keemasan Yunani, Aristoteles menyatakan bahwa proses peningkatan dari hal-hal yang bersifat individual kepada yang bersifat universal, disebut sebagai pola penalaran induksi. Menurut John Stuart Mill (1806-1837), induksi sebagai kegiatan budi, dimana kita menyimpulkan bahwa apa yang kita ketahui benar untuk kasus atau kasus-kasus khusus, juga akan benar untuk semua kasus yang serupa dengan yang tersebut tadi dalam hal-hal tertentu.

Prinsip Penalaran Induksi

Premis-premis dari induksi ialah proposisi empirik yang langsung kembali kepada suatu observasi indera atau proposisi dasar (basic statement). Proposisi dasar menunjuk kepada fakta, yaitu observasi yang dapat diuji kecocokannya dengan tangkapan indera. Pikiran tidak dapat mempersoalkan benar-tidaknya fakta, akan tetapi hanya dapat menerimanya.

Konklusi penalaran induksi itu lebih luas daripada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya. Menurut kaidah-kaidah logika, penalaran itu tidak sahih, pikiran tidak terikat untuk menerima kebenaran konklusinya. Meskipun konklusi induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal akan menerimanya, kecuali kalau ada alasan untuk menolaknya. Jadi konklusi penalaran induksi itu oleh pikiran dapat dipercaya kebenarannya atau dengan perkataan lain: konklusi induksi itu memiliki kredibilitas rasional. Kredibilitas rasional disebut probabilitas. Probabilitas itu didukung oleh pengalaman biasanya cocok dengan observasi indera, tidak mesti harus cocok.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment