More than Just Nation and Character Building
April 16th, 2014 at 9:50 pm
Posted by Mohammad Adib in Philosophy, Philosophy of Science

Oleh KELOMPOK 4: Valentinus Deeshandio Pamedar Jati (071311733055), Rizka Fitri Ana (071311733061), Linda Auliya Zahrah (071311733025), Faisya Afidah (071311733065), Wingga Wahyu Ramadhan (071311733043), Haryo Bagas Indrawan (071311733059), Adhitya Iqbal Lazuardi (071311733081). SEMANGAT PAGI selalu terpancar dari wajah Pak Adib ketika memasuki ruang kelas A 302. Mata kuliah filsafat ilmu sudah tidak sabar kita nanti-nanti, hal ini dikarenakan pada minggu lalu seluruh masyarakat Indonesia melaksanakan pesta Demokrasi. Dan yang membuat kita bahagia karena kita masih dipertemukan dengan Dosen mata kuliah Filsafat Ilmu, yakni Pak Adib dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Ujian tengah semester semakin di depan mata, dan tanpa disadari mata kuliah Filsafat Ilmu telah memasuki setengah perjalanan. Berkat Pak Adib kita memahami Filsafat dengan lebih jelas dan mengerti.

            Pada pertemuan kali ini, kelompok lima akan mempresentasikan tentang Landasan Penelaahan Ilmu Pengetahuan. Metode pembelajaran yang digunakan Pak Adib selalu mengacu pada Student Center Learning, sehingga seluruh mahasiswa dapat memperhatikan dan mengikuti diskusi dengan aktif dan baik. Sebelum kelompok lima mempresentasikan materi yang akan dibahas, Pak Adib memberikan penjelasan tentang empat kategori manusia dalam memahami segala sesuatu. Kategori pertama adalah manusia yang tahu akan ketahuannya. Kategori kedua adalah manusia yang tahu akan ketidaktahuannya. Kategori yang ketiga adalah manusia yang tidak tahu akan ketahuannya, dan yang terakhir adalah manusia yang tidak tahu akan ketidaktahuannya. Menjadi kategori manusia yang mana adalah pilihan hidup kita. Dan yang terpenting kita tidak boleh melupakan jargon kebanggaan Universitas kita, yakni “Excellent with Morallity”

            Sub pokok pembahasan yang akan dipresentasikan oleh kelompok lima adalah Ontology, Epistemology, Aksiology dan Logika kebenaran. Ontologi ilmu adalah ciri-ciri yang essensial dari objek ilmu yang berlaku umum, artinya dapat berlaku juga bagi cabang-cabang ilmu yang lain. Ilmu berdasar beberapa asumsi dasar untuk mendapatkan pengetahuan tentang fenomena yang menampak. Asumsi dasar ialah anggapan yang merupakan dasar dan titik tolak bagi kegiatan setiap cabang ilmu pengetahuan.

            Epistimologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, epistimologi adalah suatu teori pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuan, sah disebut keilmuan. Kata-kata sifat keilmuan lebih mencerminkan hakikat ilmu daripada istilah ilmu sebagai kata benda. Hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan menurut syarat keilmuan yaitu bersifat terbuka dan menjunjung kebenaran diatas segala-segalanya. Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Tidak dapat dipungkiri bahawa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam menegndalikan kekuatan-kekuatan alam.

            Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontology), bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. ketigalandasan ini saling berkaitan, jadi ontology ilmu berkaitan dengan epistemology ilmu dan epistemology ilmu berkaitan dengan aksiologi ilmu. Ilmu mencoba mencarikan penjelasan mengenai alam menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan interpersonal. Tahapan selanjutnya ditandai oleh usaha manusia mencoba menafsirkan dunia ini terlepas dari belenggu mitos. Berkembanglah lalu pengetahuan yang berakar pada pengalaman berdasarkan akalsehat (common sense) yang didukung oleh metode mencoba-coba (trial-and-error). Pekembangan selanjutnya adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Dari sinilah Logika Kebenaran semakin maju dan berkembang.

            Kegiatan presentasi berlanjut dalam kegiatan diskusi. Saya sangat bangga dengan mahasiswa dan mahasiswi departemen Antropologi yang selalu senantiasa aktif dalam kegiatan diskusi. Diskusi berjalan dengan sangat antusias dan  penuh makna, apalagi ditambah dengan diputarnya video oleh kelompok lima.

            Pada akhir pembelajaran Pak Adib menanyakan kepada kita semua “Apa yang kalian dapat dari Universitas Airlangga ?” dan “Apa yang kalian dapat dari pembelajaran mata kuliah filsafat ilmu ?”.  Kita seluruh kelas berpikir tentang hal ini, dan akhirnya Beliau tiba-tiba bernyanyi “Dari Engkau Kudapat Budaya Pusaka”. Dan itu merupakan petikan bait dari lagu Hymne Airlangga, sehingga mata kuliah Filsafat Ilmu ditutup dengan bernyanyi bersama Hymne Airlangga dan tepuk tangan dari seluruh mahasiswa.


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment