More than Just Nation and Character Building
March 29th, 2014 at 10:55 am
Posted by Mohammad Adib in Philosophy, Philosophy of Science

i think therefore i am an infidel (white font) by ugghhzillaOleh: Kelompok 10. Setelah sekian waktu yang lama dikuasai oleh  kekuasaan yang mengekang, akan muncul suatu masa dengan tokoh-tokoh di dalamnya yang akan menerangi jalan menuju kebebasan yang kekal. Saat kebebasan sudah didapat, manusia akan bermain dengan akal dan nalarnya untuk mencari kebearan sejati. Tak cukup hanya sampai di situ, manusia akan terus dan terus beerkreasi dengan otaknya sampai pada batas kemampuan berpikirnya.

Gambaran tersebut merujuk pada penjelasan mengenai zaman renaissance yang telah dipresentasikan oleh kelompok tiga pada kemarin hari Rabu tanggal 26 Maret 2014. Menurut penjelasan kemarin, renaissance berasal dari bahasa Perancis yang terdiri dari dua kata, re yang berarti kembali dan naitre yang berarti lahir. Jadi zaman renaissance bisa diartikan sebagai zaman kelahiran kembali. Maksud dari kelahiran kembali di sini adalah terlahirnya kembali kebebasan manusia pada masyarakat Yunani-Romawi dari belenggu rezim yang terkenal dengan sebutan The Dark Age atau Zaman Kegelapan -merupakan zaman di mana agama dan politik bersatu untuk menguasai negara, sehingga seluruh kelangsungan hidup bernegara dan bermasyarakat diatur oleh gereja. Zaman renaissance juga merupakan jembatan antara abad pertengahan dengan zaman modern. Berlangsungnya zaman renaissance ini pada periode sekitar abad ke empatbelas sampai abad tujuhbelas. Dalam zaman ini, budaya klasik dihidupkan kembali. Yang paling mencolok adalah dalam bidang seni dan kesusastraan, filsafat, serta ilmu pengetahuan juga sudah mulai berkembang.

David Hume-seorang skeptis tulen- mengungkapkan bahwasanya “Science is Power” karena perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman renaissance yang sangatlah pesat. Sampai-sampai banyak yang mengatakan bahwa penemuan-penemuan sains pada zaman moderen adalah warisan dari penemuan pada zaman renaissance, tidak ada penemuan baru yang tidak berdasarkan penemuan pada zaman renaissance. Namun kata dosen mata kuliah filsafat ilmu prodi antropologi, Bapak Adib, ilmu pengetahuan itu bersifat komunal yaitu selalu terkait dan terikat dengan penemuan-penemuan terdahulu. Dan zaman renaissance hanyalah sebagai pelecut untuk penemuan-penemuan setelahnya. Tokoh ilmu pengetahuan di zaman ini yang lainnya adalah Gallileo Galillei yang menemukan teleskop untuk pertama kalinya.

Selain dalam bidang ilmu pengetahuan, ada juga bidang seni dan kesusastraan yang berkembang pesat. Sebut saja Leonardo da Vinci dengan karya-karya lukisannya yang terkenal dan fenomenal. Salah satu karyany adalah lukisan Monalisa. Ada juga tokoh sastrawan yang menulis karya sastra dengan apik yang karyanya tetap eksis sampai sekarang, dialah William Shakespeare. Romeo dan Juliet adalah bukti karyanya yang awet sampai sekarang ini. William Shakespeare juga terkenal dengan cerita-ceritanya yang menyeramkan.

Pada zaman renaissance terjadi pembelokan pusat perhatian pemikiran yang semula pada zaman kuno berpusat pada kosmos, atau juga pada Tuhan. Filsafat renaissance adalah “antroposentris” atau berpusat pada manusia. Manusialah yang dianggap sebagai titik fokus dari semua yang ada pada alam semesta. Untuk itulah kemudian lahir paham humanisme  yang bercita-cita Uomo Universale yang berarti manusia yang universal. Gagasan ini mendorong munculnya sikap pemujaan tindakan terbatas pada kecerdasan dan kemampuan individu dalam segala hal. Paham ini mamiliki arti bahwa manusia terletak dalam kebebasannya untuk menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam (Pico Della Mirandola).

Setelah penjelasan mengenai zaman renaissance oleh kelompok tiga, Bapak Adib menambahkan beberapa penjelasan mengenai empat objek ilmu pengetahuan, yaitu Tuhan, alam, manusia, dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam empat objek itu terdapat konsep the being yang mempertanyakan keberadaan keempat objek tersebut. Benarkah Tuhan, alam, manusia, dan ilmu pengetahuan itu ada? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu mempunyai sebuah pemikiran tentang diri sendiri, I think therefore I am-saya berpikir untuk itulah saya ada-.

 


No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment